MBG, Mobil dan Motor Listrik

Foto: X/@TMCPoldaMetro
Mobil taksi listrik yang mogok di atas rel KA sehingga tertabrak KRL
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SENIOR dan guru saya H. Ahmad Saelan mengirim sebuah tulisan. Postingan mantan ketua PWI Jawa Barat yang kelahiran Puspahiang, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya itu berisi berita dan cerita kecelakaan maut yang terjadi di samping stasiun Bekasi Timur, Senin tanggal 27 April sekitar pukul 20:00.
Tabrakan KA ini persisnya terjadi dilintasan sebidang yang sejak lama dibiarkan tertidur di pinggir stasiun kereta api, Bekasi Timur. Korban tewas hingga Senin sore ini tercatat 17 orang, lebih dari 90 orang luka-luka.
Ceritanya malam itu sebuah taksi (listrik) nomor polisi B. 2642 SBX sedang merayap
melintasi rel KA di jalan memotong rel KA tanpa palang pintu. Tiba-tiba mobil yang baru masuk dari Vietnam itu mogok dan mesinnya mati dan roda terkunci.
Stop dulu ceritanya sebentar. Ini ada komentar Boys Iskandar di grup diskusi "Ngadu Bako", nomor serinya SBX, bukan SBY. Sekarang ini kata Boys nomor seri kendaraan bermotor banyak yang lucu dan aneh aneh. Selain SBX, ada yang nomor sekian sekian dibelakangnya PRB atau GBR.
Mobil tidak bisa didorong secara manual seperti halnya mobil konvensionil manual, mobil taksi listrik yang mogok itu tidak bisa bergerak, berhenti total di atas bantalan rel KA. Akibatnya Kereta Rel Listrik (KRL) yang membawa ribuan penumpang pulang kerja dari Jakarta tak ada kompromi melindasnya sampai ringsek.
Sang sopir memang selamat, tapi ratusan penumpang bertumpukan di dalam kereta. Malangnya ketika baru saja berhenti di stasiun Bekasi Timur, kereta api jarak jauh Bromo Anggrek yang sedang meluncur dari Gambir menuju Surabaya tak pelak melabrak KRL, persis menumbuk gerbong khusus penumpang perempuan yang paling belakang. Ini tabrakan besi dengan besi bukan becak dengan dokar. Jeritan histeris mewarnai Senin malam yang masih hidup itu.
Korban agak simpang siur. Terakhir dikabarkan 17 orang meninggal setelah dirawat di beberapa rumah sakit di Kota Bekasi. Puluhan penumpang lainnya menderita luka.
Motor dan Mobil Listrik MBG
Atas nama teknologi dan kemajuan masa depan, kini pemerintah sedang memaksakan kehendak memasuki era transportasi listrik, bahkan dengan iming-iming subsidi kredit.
Alih-alih mendengar dan mengikuti kritik dan keberatan berbagai pihak, tampaknya melalui kekuasaan dan kewenangan sebagai pejabat penyelenggara negara, program itu akan tetap dipaksakan.
Pun setelah bukti nyata kecelakaan maut di Bekasi itu. Kayaknya pancitraan lebih dikedepankan dari pada akal sehat dan keselamatan bangsa .
Persoalan program mobil dan motor listrik, segaris lurus dengan program memberi Makan Bergizi Gratis (MBG). Setelah membawa ratusan korban keracunan, pemerintah tetap bergeming, mempertahankan akan membeli mobil dan motor listrik.
Pembelian ini setidaknya menimbulkan opini di kalangan masyarakat, bahkan ada yang menuding bahwa membeli mobil dan motor listrik sekadar citra. Bahkan tak kurang cemooh banyak pihak yang memplesetkan MBG dari Makan Bergizi Gratis menjadi Makan Beracun Gratis, juga tidak didengar.
"Wa enge," kata Cecep Juhanda, orang Sunda yang paham bahasa Jawa.
Sekarang ini beberapa pihak perorangan, organisasi dan LSM dikabarkan sedang menggugat ke Mahkamah Konstitusi agar MBG itu dibatalkan. Alasan mereka selain tidak tepat guna juga tidak memiliki dasar hukum.
Pemerintah tidak boleh terus menerus menutup mata atas situasi dan kehendak rakyatnya. Hargai kedaulatan rakyat atas negara ini.
Suara itu kompak terdengar pada grup diskusi ngadu bako kemarin pascaperistiwa maut di stasiun Bekasi itu. Akal sehat seharusnya lebih dipakai dari pada sekadar pencitraan.
"Ulah pupujieun!" teriak Boys Iskandar sambil ngeloyor pergi.**