Wartawan Itu Dilahirkan dan Dijadikan

Foto: Ilustrasi jurnalis/AI.
Ilustrasi wartawan
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
ADA dua pendapat tentang keberadaan wartawan. Pendapat pertama ia dilahirkan. Alasannya, tidak semua orang bisa menjadi seorang pencari dan penyaji informasi.
Sebab ada kalanya beberapa orang lulusan ilmu komunikasi jurusan jurnalistik, atau sempat kursus ilmu jurnalistik secara formal toh tidak bisa bekerja sebagaimana layaknya pewarta. Jangankan menyajikan, menyusun kalimat jadi berita pun acak-acakan tak karuan.
Pekerjaan menjadi seorang wartawan itu memang unik, sulit, dan pelik, namun tetap menarik. Di Amerika ada Ken Hutitson yang keukeuh berpendapat wartawan Itu harus dijadikan lewat pendidikan. Kerena Itu ia dibela-belain mendirikan berapa sekolah calon wartawan tingkat akademis di beberapa kota di Negeri Paman Sam.
Saya sendiri setuju kedua pendapat Hutitson. Menurut saya, wartawan itu dilahirkan kemudian dijadikan. Saya tak sendirian. Setidaknya dua bagawan jurnalistik berpendapat sama. Mereka adalah Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar.
Mereka tidak ujug-ujug saja menjadi wartawan, bahkan dia bisa mebdirikan dan memimpin koran. Mochtar Lubis mendirikan dan memimpin koran legendaris Indonesia Raya sedang Rosihan Anwar menjadi Pemimpin Redaksi Harian Pedoman.
Saya sendiri mulai biasa membaca koran-koran yang terbit setiap hari. Di Bandung bursa koran ada di Cikapundung, pusat kota. Tiap hari ngadekul disana, ikut membaca kadang-kadang beli satu dua lembar koran yang beritanya bagus.
Karena kepingin jadi wartawan, saya mencoba membuat berita dengan mesin tik di kantor. Eh beberapa koran memuatnya. Salah satunya koran Harian Kami. Koran mahasiswa Itu terbit di Jakarta dan sibuk memberitakan gerakan massa atau People Power dengan jargon Tritura, menurunkan Presiden Sukarno.
Setelah beberapa berita dimuat, datang surat dari redaksi, ditanda tangani pemimpin redaksinya, Zulharman. Isinya menawarkan kepada saya kalau mau jadi wartawan silakan. Lahan garapan di Jawa Barat. Itulah tonggak sejarah saya jadi seorang wartawan.
Kalau dihitung dari tahun 1967 berarti sudah 58 tahun saya menggeluti profesi ini. Nyaris tanpa henti. Saya juga sempat membuat rumusan kiat menjadi wartawan hebat yaitu ada lima "at" yakni: bakat, minat, semangat, akal sehat, dan sepasang kaki yang kuat.**