Menyesal Saya Tidak Melaksanakan Nasihat Oce Permana

Sonni Hadi
Saya Dedi Asikin (ketiga dari kanan) didampingi Ny,Hj Anna Gardinasari dan putra berfoto di depan banner almarhum H.Oce Permana.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SECARA fisik saya tidak intens ketemu Oce Permana di grup wartawan Kejakimpol. Salah satu sebabnya adalah karena waktu ditarik dari wartawan daerah saya ditugaskan di dalam sebagai Redaktur Harian Mandala.
Memang sesekali saya suka diajak rekan wartawan Tedi Djukandi (almarhum) bermain ke Jln LLRE Martadinata (Riau) atau ke Kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Barat). Atau ikut Suwardjo (almarhum) ke Polda Jabar dan Polresta Bandung.
Di Polresta inilah mulai saya bertemu dan mengenal wartawan di antaranya Nurdin (KNI) Yaumar Yasin (PAB). Di Polda ketemu Taufik (Abah Ofik).
Ihwal Oce Permana, ia sering mampir di kantor Mandala. Kadang-kadang datang tanpa memberi tahu, ujug-ujug muncul lalu langsung duduk di kursi di depan meja kerjaku, pada saat saya sedang sibuk mengedit berita kiriman wartawan yang belum press claar.
Meski jarang jumpa tapi kami langsung akrab. Kami sama sama panggil nama. Oce panggil saya Ded dan saya panggil Ce.
Sekali waktu saya curhat kepadanya. Waktu Itu sedang ada konflik internal di kantor Harian Mandala. Beberapa orang wartawan mengaku dirinya merasa diperlakukan kurang manusiawi.
Oce menasihati saya, "Geus temui pak Krisna langsung, siapa tahu itu cuma kekebijakan di hilir bukan dari hulu,".
Pada waktu Itu saya siap menghadapi pimpinan Mandala, Pak Krisna Harahap sesuai nasihat Oce. Tapi saya mulai ragu karena tidak cukup punya keberanian untuk mengetuk pintu ruang kerja Pak Krisna sebagai pemimpin umum dan pemimpin redaksi Harian Mandala. Saat itu seolah-olah ada hantu yang menjaga pintu ruang kerja boss besar itu
Yang terjadi, akibat saya tidak punya punya nyali untuk mencari solusi, delapan orang wartawan senior Harian Mandala mengundurkan diri. Itu terjadi sebelum Mandala kerja sama dengan Kompas .
Kesan saya kepada Oce Permana adalah seorang yang peduli pada persoalan-persoalan orang lain. Besarnya jiwa persahabatan seorang Oce Permana saya juga mencatat, suatu hari dia datang lagi ke kantor Mandala. Ia langsung memperlihatkan sebuah amplop dan ditaruh di atas meja kerja saya.
"Pokonya di dinya kudu datang pada akad nikah saya, ya" katanya. Ternyata amplop itu adalah surat undangan bahwa dia akan menikah dengan Anna Gardinasari.
Dan permintaan itu saya penuhi. Saya menyaksikan Oce dan Anna ijab kabul. Ya dialah Anna Gardinasari, kekasih yang dinikahinya dan setia mendampingi Oce sampai maut memisahkan mereka.
Saya kenal Ibu Hj. Anna Gardinasari itu. Dahulu sekitar sebulan lamanya ia pernah melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) atau Kuliah kerja Nyata (KKN) dari kampusnya di koran Harian Mandala. Pak Krisna menugaskan saya untuk melayani Anna dan seorang temannya.
Itu terjadi sebulan sebelum mereka menikah. Dan ternyata dia rupanya telah lama diincar Oce yang wartawan, hingga akhirnya keduanya menikah. Dan berikutnya saya resign dari Harian Mandala bersama tujuh orang rekan lainnya tanpa sempat tahu akar masalahnya.
Andai saat itu saya mengikuti nasihat Oce agar menemui Pak Krisna untuk dialog, mungkin ceritanya akan lain. Tapi sudahlah, semua ada hikmahnya, Yang jelas hubungan silaturahmi dengan wartawan termausk dengan keluarga besar Oce Permana tetap terjalin hingga saat ini, termasuk pertemuan mengenang Oce Permana di rumah makan milik Putranya Rumpun Sunda, jalan Lombok 45 Bandung.**