Senandung Bandung Tempo Dulu (Bagian 7)

  • 20 jam lalu
foto

Foto : Istimewa

Dahulu areal ini kebon kangkung sekarang jadi perumahan termasuk Kantor Kelurahan Kebon Kangkung.

Oleh HARI SINASTRIO
(Pengamat Sosial)

KALAU bicara Bandung, rasanya selalu ada cerita. Apalagi bagi urang Bandung asli seperti penulis, yang punya leluhur Jawa. Banyak kenangan masa kecil yang sampai sekarang masih terbayang.

Tahun 1970-an, olahraga yang paling ramai ya bulutangkis dan sepak bola. Indonesia waktu itu sedang berjaya-jayanya. Nama Rudi Hartono, Liem Swie King, Iie Sumirat, Christian Hadinata, Ade Chandra, Tjun Tjun, dan Johan Wahyudi tentu nama-namanya udah tidak asing lagi.

Mereka mendapat julukan "The Magnificent Seven" atau Tujuh Jagoan kelas dunia yang dikenal selalu menjuarai di berbagai event di dunia. Nama The Magnificent Seven saat itu mengambil dari judul thriller yang tengah ngetren yang dibintangi oleh Denzel Washington, Chris Pratt, Ethan Hawke, Vincent D'Onofrio, Lee Byung-hun, Manuel Garcia-Rulfo, Martin Sensmeier, Haley Bennett, dan Peter Sarsgaard..

Bulu tangkis atas badminton zaman dulu peralatan juga beda dengan sekarang. Shuttlecock masih identik dengan bulu angsa, raket pun banyak yang terbuat dari kayu, yang miurah meriah merk Dunlop., lalu belakangan ada raket merek Yoneyama, yang sekarang kita kenal sebagai Yonex. Kalau shuttlecock, merek Gajah Mada termasuk yang terkenal.

Bandung sendiri banyak melahirkan pemain hebat. Ada Ivana Lie, yang dulu kebetulan bertetangga dengan penulis. Ada juga Iie Sumirat, Taufik Hidayat, Ricky Subagja, dan masih banyak lagi.

Nah, kalau soal sepak bola, kenangan penulis tidak bisa lepas dari Lapangan Pindad, yang letaknya di sebelah Rumah Sakit Pindad. Sekitar 1980-an, lapangan itulah tempat penulis menghabiskan waktu bermain bola.

Konon kabarnya, lapangan tersebut sudah ada sejak zaman Belanda dan dulu sering dipakai orang-orang Belanda bermain sepak bola.

Yang paling diingat justru suasana di sekelilingnya. Di sebelah lapangan ada kebun kangkung dan kolam ikan yang luas sekali. Sejauh mata memandang, yang terlihat tanaman kangkung. Dari situlah nama Kebon Kangkung menjadi begitu melekat dengan kawasan tersebut. Bahkan di atas areal kebon kangkung dulu kini penuh dengan rumah dan Kantor Kelurahan Kebon Kangkung.

Dulu belum lazim menyebut kesebelasan sebagai klub. Istilahnya PS, singkatan dari Persatuan Sepakbola. Beberapa yang terkenal waktu itu antara lain PS Bintan, PS Samudera, PS Daymek, dan PS Balebat.

Sekarang tentu sudah berubah. Lapang Pindad menjadi kawasan perumahan TNI AD. Kebun kangkung sudah berubah menjadi rumah-rumah penduduk yang padat.

Penulis juga masih ingat ada situ yang cukup terkenal namanya Situ Ahmad, ada juga daerah bernama Papanggungan. Namanya konon berasal dari banyaknya rumah panggung yang dulu berdiri di sana.

Sekarang rumah panggung sudah tidak terlihat lagi. Rumah beton bertingkatlah yang mendominasi.

Itulah Bandung yang dulu. Berubah tempatnya, tetapi kenangannya tidak ikut hilang.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Jejak Sepatu Lars Dalam Perjalanan Sejarah Indonesia
Haji Politik
Represi Politik Itu...
'Bad Ending' Soeharto dan Harmoko
Wartawan Bodrex bin Wartawan Abal-Abal