Serunya Ngecrok Tutut Sajagat Sajedingna Mewarnai BUMDes Festival Jabar di Waduk Darma

Foto: Whyr
Bupati Kuningan Dian RY dan pimpinan daerah lainnya tengah ngecrok tutut sajagat sajedingna mewarnai BUMDes Festival Jabar di Waduk Darma
KUNINGAN, KejakimpolNews.com -- Perhelatan BUMDes Festival Jawa Barat 2026 di kawasan wisata Waduk Darma, Kuningan, diwarnai Festival Ngecrok Tutut Sajagat Sajedingna.
Acara dihadiri juga Sekda Herman Suryatman, unsur Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan perwakilan 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat, serta melibatkan 50 stand BUMDes, di kawasan wisata Waduk Darma Kuningan, Minggu (30/8/2026).
Tutut atau keong sawah tidak sekadar disajikan sebagai makanan tradisional. Kuliner yang satu ini kerap dianggap sederhana dikemas menjadi atraksi menarik. Tidak saja menghidupkan suasana festival melainkan menunjukkan potensi desa dapat memiliki nilai ekonomi jika dikelola secara kreatif.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar selaku tuan rumah mengatakan, keberadaan Festival Ngecrok Tutut Sajagat sejalan dengan semangat pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Sesuatu yang kecil ucap Bupati Dian, sederhana dan unik justru bisa menjadi kekuatan ketika dikemas dengan baik dan memiliki strategi pemasaran yang tepat.
Ia menilai tutut dapat menjadi contoh bagaimana potensi yang selama ini dipandang sebelah mata dapat diangkat menjadi produk ekonomi sekaligus daya tarik wisata.
Filosofi tersebut bagi Bupati Dian, menjadi gambaran bagaimana BUMDes seharusnya bekerja. Potensi desa tidak harus selalu berupa produk mewah. Yang penting adalah kemampuan mengolah potensi, menciptakan nilai tambah, membangun pasar dan memastikan usaha tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan hanya punya produk tetapi tidak punya pasar. Jangan hanya bisa membangun tetapi tidak bisa menjalankan. Jangan hanya hidup dari pasar lokal, kalau bisa regional, nasional, bahkan internasional,” tegasnya.
Dian menegaskan, BUMDes tidak boleh hanya berdiri secara administratif tanpa menghasilkan manfaat nyata. “Jangan hanya sekadar ada, tapi menghasilkan. Banyak yang hanya papan nama, dibentuk karena keharusan, tetapi akhirnya dibentuk namun tidak berbentuk,” katanya.
Ia mendorong BUMDes untuk dikelola secara profesional, mulai dari sumber daya manusia, tata kelola, produksi, pemasaran hingga pengembangan jaringan usaha. Pemerintah daerah memiliki peran dalam membuka akses perizinan, pasar, permodalan, peningkatan kapasitas SDM dan penguatan branding produk desa.
Sementara itu, Sekda Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, tutut memiliki potensi untuk dikembangkan, termasuk dari sisi kandungan protein hewani.
Pengembangannya tetap harus memperhatikan aspek keamanan dan kesehatan pangan serta ketentuan sertifikasi dari instansi terkait. Tutut tidak hanya sekedar kuliner lokal juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari atraksi pariwisata.**
Author: WHJR
Editor: Maman Suparman
