SBY dari Desa Hingga Istana, Masa Kecil Sampai Jenderal

foto

Foto: Wikipedia

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjadi Taruna Akademi Militer Nasional (AMN).

Oleh DEDI ASIKIN
(Reporter Senior)

TANGGAL 9 September 1949 seorang ibu muda didesa Tremas langgang melangan melangan maut. Siti Habibah yang baru berusia 16 tahun melahirkan anak pertamanya pada siang hari. Nayi itu seorang laki-laki yang sehat dengan berat 4 kg.

Waktu Itu belum terlihat apalagi dokter. Yang ada cum paraji kampung.

Ayah dari anak laki-laki itu adalah seorang prajurit muda bernama Sukoco, yang tidak menyaksikan kelahiran putra pertamanya karena sedang bertugas di Koramil di desa lain.

Seminggu kemudian menyanyikan lagu ayah baru datang ke rumah. Tentu saja, dia senang melihat calon putra yang dinantinya telah lahir dengan selamat. Sebagai orang Jawa yang teng melangan adat, yang pertama dia lakukan adalah membiri nama bayi itu, Susilo Bambang Yudhoyono yang balakangan akarb bernama SBY.

Susilo artinya beradab, senang bersosialisasi. Bambang artinya kesatria, gagah perkasa Yudo perang dan Yono artinya Menang. Jadi Susilo Bambang Yudhoyono artinya orang yang gagah berani, perkasa dan selalu menag perang.

Perayaan sederhana bernama brokohan diadakan dengan mengundang sejumlah tetangga untuk makan. Selain nasi, lauk pauk pun disuguhkan, para tetangga pun hadir sekalian sekalian sekalian salam atas atas benai bayi itu. Bahkan diluar dugaan kepala desa Tremaspun datang selamat sekalian bingkisan.

Orang tua SBY itu merupakan keluarga Islami. Ibunya berukan penisten dan pemilik pondok pesantren Tremas, sedangkan ayahnya (Sukoco) adalah keluarga Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur.

Jadi sejak kecil SBY dididik dalam kehidupan islamis. Tahun 1956 ia masuk Sekolah Rakyat Gajahhmada di desa Tremas.

Sejak kecil SBY telah mulai mengagumi militer. Waktu di kampungnya ada latihan tentara, ia menyaksikan dengan penuh perhatian. Tahun 1962 SBY kecil masuk SMP Negeri Pacitan, satu satunya SMP yang ada di kabupaten Pacitan yang terletak di belahan Jawa Timur bagian selatan. SMP Itu menjadi unggulan dan favorit. Kerena Itu harus melalui testing masuk. Dan SBY alhamdulillah lolos.

Selain memelihara adab, SBY kecil sudah menunjukkan watak kepemimpinan. Dalam setiap kegiatan ia selalu ditunjuk sebagai komandan. Misalnya ketika sekolah itu mengikuti pawai keliling kota yang diikuti seluruh SMP di Jawa Timur, SBY ditunjuk sebagai pemimpin barisan. Dan Alhamdulillah menjadi barisan favorit.

Selain memiliki watak kepemimpinan, SBY juga ternyata memiliki hobi menulis dan pekerjaan jurnalistik. Ia melontarkan program pembuatan koran dinding di sekolahnya. Ia pula yang ditunjuk sebagai pengelola atau setara pemimpin redaksi koran itu. Tulisan teman-temannya ia baca dan edit dengan baik.

Lulus SMA pada tahun 1969 ia tidak serta merta bisa daftar ke Akademi Militer Nasional ( AMN) yang dicita-citakan sejak SR. Masalahnya adalah faktor komunikasi dan informasi yang tersumbat.
tahun 1969 tidak buka.

Untuk bisa mengikuti informasi yang akurat, SBY senantiasa mengikuti arus informasi. Salah satunya lewat radio. Ia baru bisa ikut testing dan masuk AMN tahun 1970. Salah satu dari sekitar 3.000 taruna seangkatannya adalah Prabowo Subianto. Tapi Prabowo sempat ngendog satu tahun dan baru lulus tahun 1974.

Tahun 1973 SBY lulus dan dilantik dengan pangkat letnan dua. Bahkan SBY merupakan lulusan terbaik dan penerima lencana Adhi Makayasa, bersama dia ada juga sembilan orang lulusan terbaik
dan diperbolehkan memilih kecabangan. SBY sendiri saat itu menetapkan pilihannya adalah infantri.

Itulah awal mula SBY hidup sebagai seorang tentara sampai pensiun pada tahun 2000 dengan pangkat reguler Jenderal.

Banyak jabatan dalam militer yang ia emban, juga menjadi menteri ketika Presidennya Abdurachman Wahid (Gus Dur) dan berlanjut Megawati Soekarnoputri.

Pada akhirnya saat pemilihan presiden tahun 2004, SBY terpilih menjadi menjadi presuden RI keenam. Bahkan dua periode yakni 2004-2009 dan 2009-2014, dan merupakan presiden pertama di era reformasi yang terpilih melalui Pemilihan Umum secara langsung bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, dan pada periode kedua dengan i bersama Wakil Presiden Boediono.

Sejak era Reformasi dimulai, Susilo Bambang Yudhoyono merupakan Presiden Indonesia pertama yang menyelesaikan masa jabatan selama 5 tahun dan berhasil terpilih kembali untuk periode kedua.

Anggota terakhir Susilo Bambang Yudhoyono adalah Jenderal TNI sebelum pensiun pada 25 September 2000. Pada Pemilu Presiden 2004, kemenangannya atas Presiden Megawati Soekarnoputri menjadikannya presiden pertama yang terpilih melalui pemilihan langsung oleh rakyat Indonesia. Situasi ini dimungkinkan setelah amandemen UU No. 1945.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Tak Sekadar Memerintah dan Mengarahkan, Kapolresta Bandung Kombes Pol Tri Suhartanto Turun Duluan
Gantikan Jenderal Sigit Prabowo, Ini Dia Profil dan Program 100 Hari Pertama Kapolri Baru, Komjen Suyudi
Dulu "Cover Boy" Kini Kapolri
Rahasia Hidup Satu Abad
Christiaan Snouck Hurgronje Ulama Palsu Penyebar Sekularisme