Cicadas Negara "Beling", Kini "Hening" Setelah KDM Tunjukkan "Taring"

Yayan Sofyan
PKL Cucadas menguasai kaki limna sepanjang Jalan A Yani dari Cikutra hingga Asep Berlian (atas), kini telah bersih dan kosong (bawah)
BANDUNG, KejakimpolNews.com - Kondisi Jalan A. Yani di kawasan Cicadas Kota Bandung, yang kerap disebut negara "beling", kini "hening" setelah Gubernur Jabar, Kang Dedi Mulyadi (KDM) menunjukan "taring".
Bagaimana tidak hening, kawasan ini yang sebelumnya trotoar dipenuhi lapak pedagang kaki lima (PKL) membuat "heurin" dan kumuh kini "hening", setelah KDM dengan ketegasannya membongkar lapak-lapak PKL yang melibatkan Satpol PP Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pempriv.Jabar) dan Kota Bandung.
Berdasarkan pantauan, Kamis (28/5/26) pagi terlihat sejak Jalan Asep Berlian hingga pertigaan A. Yani- Jalan Cikutra yang sebelumnya dipenuhi lapak PKL kini terlihat kosong melompong.
Pejalan kaki pun kini dengan nyaman bisa menggerakkan kakinya di trotoar tidak turun ke badan jalan lagi. Sementara toko-toko sudah tak terhalang lagi oleh keberadaan PKL yang menyita trotoar.
Bersih, rapih dan lapang
Tak dipungkiri, kawasan Cicadas kini berubah signifikan menjadi jauh lebih bersih, rapi, dan lapang setelah Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung menertibkan dan membongkar lapak-lapak PKL yang selama ini memadati trotoar di sepanjang Jalan Ahmad Yani.
Penertiban yang berlangsung pada Mei 2026 ini membuat wajah kawasan pertokoan yang tadinya tertutup oleh tenda PKL kembali terlihat jelas dan dapat diakses dengan nyaman oleh pejalan kaki.
Selain pembongkaran lapak, pemerintah setempat juga melakukan penataan visual seperti pengecatan ulang trotoar dan pembatas jalan.
Penertiban kawasan Cicadas ini menyusul rencana pembangunan koridor Bus Rapid Transit (BRT) di Jalan Ahmad Yani atau kawasan Cicadas sempat memanas dan menuai penolakan dari para PKL.
Akhirnya, setelah KDM menunjukan taringnya alias menunjukkan ketegasannya, lapak lapak PKL di kawasan Cicadas dibongkar. Bahkan saat pembongkaran lapak PKL, KDM turun langsung ke lapangan pimpin pembongkaran.
Negara beling
Metafora "negara beling" karena secara historis Cicadas sejak 1960-an memiliki banyak keragaman, keberanian anak-anak tempo duluoe terutama sekitar tahun 1979-an, para calo karcis bioskop Taman Hiburan, lokasi prostitusi, serta geng pemuda yang terkenal bernyali dengan nama "Dolar", membuat Cicadas termasuk kawasan yang disegani daerah lain.
Makanya karena dianggap kawasan "sangar", dahulu disebut negara "beling, Namun perlahan tapi pasti, aksi-aksi cenderung kriminal mulai ditinggalkan. Tak hanya Dolar yang ppara "koboy" pentolannya telah banyak almarhum, geng lainnya seangkatannya juga mulai terkikis zaman.
Padahal dahulu banyak kelompok pemuda yang berani unjuk gili dan bernyali. Ada Dolar Cicadas, AMX, BBC, Glangoli, Chola, dan puluhan geng lainnya. Tapi kini, tak ada lagi termasuk Cicadas. Kawasan ini lebih mengarah ke kawasan pedagang kecil seperti PKL dan pasar tumpah.
Puluhan tahun trotoar dari arah Simpang Jalan Cikutra hingga Jalan Asep Berlian dikuasai PKL. Dari zaman Wali Kota Otje Djundjunan tahun 70-an dengan Kepala Ketertiban Umum (Tibum) Jaka Asmara, PKL ngampar atau gelar dagangan, sulit ditertibkan selalu main kucing-kucingan.
Kini Tibum berubah jadi Satpol PP, PKL ngampar lama kelamaan berubah jadi kios permanen, bahkan mereka PKL mendapat tempat ketika Wali Kota Bandung Aa Tarmana seolah "memberi izin" dan selanjutnya dibuatkan kios permanen rangka besi.
PKL semakin mendapat tempat dengan pembuatan kios, para pemilik toko yang berjajar tak bisa berbuat banyak walaup etelasenya ditutup dagangan PKL. Orang belanja pun segan, membuat banyak toko yang sepi.
"Dahulu Jangankan pembeli, mataharipun tidak mausk,: kata pemilik toko yang enggan disebut namanya.
Namun seiring perubahan zaman, ketika media digutal mulai menguasai ruang publik, dan transaksi jual beli mulai beralih ke digital, satu persatu publik mulai meniunggalkan cara konvensional, belanja langausng.
Puluhan mall, shoping cemter seperti ITC di Kebon Kalapa, Pasarbaru, Istana Plaza, mulai sepi. Begitu juga PKL seperti di Cicadas tak lagi seperti dahulu, banyak pedagang di Cicadas yang menutup lapaknya karena jualan tak laku.
Maka ketuka Satpol PP Kota Bandung dan Pempoiv Jabar mulai membongkar, banyak kios yang sudah lama kosong ditinggalkan pemiliknya. Hingga penertiban pun cenderung relatuf lancar.
Kini naga beling berubah total. Seperti dilontarkan Ridhazia, wartawan senior, mantan dosen UIN SGD Bandung yang juga pemerhati sosial ini menanggapi terkait kawasan Cicadas yang kini "hening".
Menurut Ridhazia, Cicadas sebagai kawasan dengan mitos kekerasan, aksi kriminal, premanisme, pemerasan, judi dan mabuk-mabukan menjadi menu setiap hari terjadi.
Cicadas, sambung Ridhazia, memang memiliki sejarah panjang dan kompleks. Sejak era kolonial telah menjadi pusat hiburan malam dan magnet keramaian.
Ridhazia menambahkan, nama-nama wilayah popular lain di sekitar Cicadas yang tercatat dalam ingatan publik yaitu Asep Berlian, Cikaso Beusi, Leumah Neundeut, Sukasirna, Sekepondok, Sekepanjang, Gang Masjid, Haji Tamim, dan Gang Samsi.
Kawasan Cicadas pun pernah diberitakan sebagai terpadat sedunia, bersanding dengan wilayah padat lainnya seperti Tambora di Jakarta.
Kepadatan yang sangat ekstrem di Cicadas mencapai 500 jiwa per hektare. Jauh melampaui standar ideal permukiman dari WHO yang hanya mematok angka sekitar 96 jiwa per hektare.
Tata ruang perkotaan, sanitasi, dan pemukiman Cicadas tercatat paling kompleks. Kawasaan arteri yang kumuh, tata kelola sampah, aliran sungai yang kotor, bangunan liar, gang sempit serta pedagang kaki lima yang mencari nafkah di pedestrian jalan protokol.
Lebih dari separuh waktu kemerdekaan Indonesia, Cicadas baru bertransformasi pada era Gubernur Jabar KDM dan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Setidaknya, bangunan liar yang digunakan PKL yang mencari nafkah di pedestrian jalan protokol ditertibkan. Warung kecil yang menutup toko sepanjang jalan Ahmad Yani yang kumuh "ngemplong" dan bersih.
"Keputusan keras KDM dan Wali Kota Bandung mengubah kawasan Cicadas ini pun terkait rencana angkutan massal bernama Bus Rapid Transit (BRT) kini sedang disiapkan di kawasan Bandung Raya," pungkas Ridhazia.**