Hari Jadi Kota Bandung, Logo Baru Usung "Solidarity in Harmony" Sebagai Identitas Visual

Foto: Humas Pemkot Bandung.
Logo baru Hari Jadi Kota Bandung Usung “Solidarity in Harmony.”
BANDUNG, KejakimpolNews.com -- Menjelang Hari Jadi ke-216 Kota Bandung (HJKB) yang diperingati pada 25 September 2026, Pemerintah Kota Bandung memperkenalkan identitas visual baru bertajuk “Solidarity in Harmony”.
Identitas visual tersebut menjadi representasi semangat Bandung yang terus berkembang sebagai kota yang terbentuk dari keberagaman, pertemuan, kolaborasi, serta kemampuan masyarakatnya untuk menciptakan berbagai hal baru.
Tagline “Solidarity in Harmony” dipilih untuk menggambarkan Bandung sebagai ruang bersama. Di dalamnya, warga, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, seniman, hingga berbagai gagasan dapat bertemu, berinteraksi, dan bergerak bersama.
Secara historis, perjalanan Bandung juga menunjukkan berbagai titik balik yang membentuk karakter kota hingga saat ini. Bandung lahir sebagai pusat pemerintahan pada 1810, kemudian dikenal sebagai Paris van Java pada 1928.
Perjalanan tersebut berlanjut dengan peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946 dan Konferensi Asia-Afrika pada 1955. Memasuki era modern, Bandung kembali menemukan identitasnya sebagai salah satu kota kreatif sejak 2008.
Semangat titik balik tersebut kembali dihadirkan dalam peringatan HJKB ke-216. Identitas visual tahun ini menjadi kelanjutan dari identitas visual HJKB ke-215, namun dikembangkan dengan pendekatan yang lebih terbuka.
Jika identitas HJKB ke-215 dibangun melalui bentuk-bentuk yang saling mengunci dalam satu komposisi, pada HJKB ke-216 elemen-elemen tersebut dibuat lebih dinamis. Setiap elemen dapat bergerak, bertemu, dan menghasilkan berbagai kemungkinan susunan.
Pendekatan tersebut menggambarkan perkembangan Bandung dalam satu tahun terakhir yang semakin membuka ruang bagi masyarakat untuk bertemu dan beraktivitas. Ruang-ruang tersebut hadir melalui berbagai acara, festival, ruang terbuka, maupun aktivitas komunitas yang menghidupkan berbagai sudut kota.
Sepanjang 2025, Pemerintah Kota Bandung mempromosikan 84 agenda pariwisata dan kebudayaan melalui Calendar of Event. Berbagai agenda tersebut turut mendorong pemanfaatan ruang kota sebagai tempat interaksi masyarakat.
Salah satunya melalui Asia Africa Festival 2025 yang menghidupkan kawasan Jalan Asia Afrika, Braga, hingga Cikapundung. Kawasan tersebut menjadi ruang bagi pertunjukan budaya, bazar UMKM, komunitas seni, serta berbagai aktivitas publik.
Selain melalui agenda festival, sejumlah ruang kota juga terus ditata dan diaktifkan kembali sebagai ruang publik. Salah satunya kawasan kolong Pasupati yang dikembangkan menjadi ruang kreatif bagi komunitas, seniman, dan masyarakat.
Dalam konsep HJKB ke-216, kata “Solidarity” merepresentasikan relasi dan kebersamaan yang memungkinkan warga, komunitas, serta berbagai gagasan untuk bergerak bersama.
Sementara itu, “Harmony” tidak dimaknai sebagai keseragaman. Harmoni justru menggambarkan kemampuan untuk mengelola perbedaan sehingga dapat menjadi kekuatan dan menghasilkan sesuatu yang produktif.
Karena itu, HJKB ke-216 diposisikan sebagai salah satu titik balik berikutnya bagi Kota Bandung. Perayaan hari jadi tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan kota, tetapi juga melihat bagaimana keberagaman dan kebersamaan dapat menjadi energi untuk menciptakan Bandung yang terus berkembang.
Dari sisi visual, identitas HJKB ke-216 dirancang dengan karakter yang hangat, ringan, dan mengundang, sesuai dengan semangat perayaan yang ingin dekat dengan masyarakat.
Elemen visualnya juga dirancang agar tetap mudah dikenali ketika digunakan dalam berbagai ukuran maupun media, termasuk saat dicetak dalam ukuran kecil atau hanya menggunakan satu warna. Angka “216” menjadi salah satu elemen utama yang dirancang agar dapat dikenali dengan mudah dalam sekali lihat.
Melalui identitas visual dan tagline “Solidarity in Harmony”, HJKB ke-216 diharapkan tidak hanya menjadi simbol peringatan usia Kota Bandung, tetapi juga menjadi representasi semangat warganya dalam membangun ruang bersama.**
Editor: Sonni Hadi