Setelah di Cicadas, Halte BRT di kawasan Kiaracondong pun Jadi Sorotan

foto

Yayan Sofyan

Halte BRT di sekitar flyover Kiarancondong.

BANDUNG, KejakimpolNews.com -- Setelah di Jalan A. Yani, kawasan Cicadas, halte Bus Rapid Transit (BRT) di Jalan Kiaracondong, sekitar flyover (Jl. Ibrahim Adjie), Kota Bandung, pun kini menjadi sorotan publik.

Jika di Cicadas BRT dibangun di tengah jalan, halte BRT dikritik karena lokasinya yang sangat dekat dengan perlintasan sebidang rel kereta api dan dinilai belum ramah disabilitas. Berdasarkan pantauan, Selasa (20/10/2026),

Lokasi BRT, di bawah flyover Kiaracondong ini dekat dengan area Stasiun Kiaracondong. Bahkan dinilai rawan karena banyak pemotor melawan arus.
Jarak ke perlintasan KA sekitar 12 meter untuk halte ke arah Pasar Kiaracondong.
Sekitar 8,3 meter untuk halte ke arah Antapani.

Kritik dan permasalahan, risiko keselamatan karena jarak yang terlalu dekat dengan rel kereta berpotensi memicu kemacetan parah dan rawan kecelakaan lalu lintas.

Selain itu, kurang ramah difabel dan belum dilengkapi fasilitas pendukung yang memadai bagi penyandang disabilitas (seperti RAM akses di sisi arah Antapani).

Ketiadaan jalur khusus pun banyak dikritik oleh komunitas transportasi karena belum terlihat adanya jalur khusus bus (busway) yang steril dari kendaraan umum lain.

Kritikan ini telah direspon Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Farhan menyatakan akan meninjau ulang dan mengevaluasi desain serta lokasi halte BRT Kiaracondong sebelum resmi dioperasikan.

Menurut Farhan, trotoar di kawasan Kiaaracondong akan berkoordinasi dengan pengelola dan kontraktor BRT untuk membahas persoalan yang ada di lapangan.

"Saya akan ngobrol dulu sama BRT, karena ada juga satu keluhan di Jalan Rajawali, yaitu halte BRT malah menutup jalan akses untuk kendaraan niaga ke salah satu tempat logistik, perusahaan logistik," ujar Farhan

Yang mesti kita bicarakan dan selesaikan, kata bersama dengan para kontraktor BRT. Pemkot Bandung tentunya akan berupaya menghadirkan akses yang layak bagi penyandang disabilitas. Namun, menurut Farhan penyesuaian di lapangan harus dilakukan mengingat desain yang telah disusun oleh pihak BRT.

"Kita akan selalu mendukung agar akses disabilitas kepada transportasi umum itu berjalan dengan baik. Pada saat bersamaan, kami juga tentu saja harus memerhatikan desain yang sudah dibuat oleh BRT," ungkapnya.

Pihaknya, sambung Farhan, akan melakukan evaluasi dan penyesuaian, sebelum BRT ini beroperasi.

"Kalau dibongkar ulangnya, kita belum tahu. Namun kita lakukan review dan penyesuaian k arena bagaimanapun juga, mumpung belum operasional, maka sama-sama kita harus melakukan review," ujanya.

Saat ini Pemkot Bandung pun tengah melakukan penataan trotoar Kiaracondong khususnya daerah Kebon Jayanti. Tak hanya trotoar, drainasenya pun dibersihkan untuk memperlancar aliran air pascapenertiban bangunan liar dan lapang PKL.

Saat ini, air hujan dari jalan masih kerap masuk ke wilayah RW 1 Kebon Jayanti. Karena itu, pembenahan drainase menjadi salah satu prioritas yang perlu segera ditangani.

"Terkait konsep penataan drainase, Pemkot Bandung akan bekerja sama dengan pihak BRT untuk menghadirkan penanganan serupa dengan yang diterapkan di kawasan Cicadas," tandas Farhan.**

Editor: Yayan Sofyan

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Sakit, Wali Kota Bandung Tetap Pimpin Upacara Hari Kesakstian Pancasila
Cegah Banjir Musim Hujan, Pemkot Bandung Bangun Dua Rumah Pompa dan 3,9 Kilometer Drainase Baru
Wajah Baru Kawasan Bawah Flyover Kiaracondong, Kini Terus Berbenah
Dirut Perumda Pasar Juara Targetkan Revitalisasi Pasar Ciroyom Rampung 2 Tahun
Becak Listrik Belum Beroperasi Optimal, Pemkot Kaji Titik Operasional dan Pengisian Daya