Selamat Jalan, Soleh "Freedom" Sugiarto: Pernah Berjuluk "Alice Cooper" Indonesia

Foto : Istimewa
Soleh Sugiarto didampingi adiknya Didong (Bitel All Stars), Soleh Sugiarto semasa berjuluk "Alice Cooper" Indonesia pada 1970an (kanan)
BANDUNG, KjeakimpolNews.com -- Legenda penyanyi rock Indonesia asal Bandung, Soleh Sugiarto -- wafat dalam usia 79 tahun, Kamis siang kemarin. Kabar duka yang tertunda dari adik kandungnya, Didong yang juga musisi -- kini Bitel All Stars.
Pada masanya, Soleh Sugiarto populer dengan julukan "Alice Cooper"nya Indonesia. Legenda penyanyi Amerika yang selalu tampil pentas bertema horor.
Ditandai guratan alis yang meleleh di seputar mata dan rambut panjang terurai. Begitu pula performa panggung Soleh yang menirukan Alice Cooper (kini 78 tahun). Juga dengan lagunya School Out.
Lengkap dengan rias wajah dan kostum, menyerupai sang legenda yang pernah konser di Jakarta, 07 Oktober 2011. Masa Soleh "Alice Cooper" Sugiarto itu berlangsung pada 1970-an hingga 1975. Ia juga fasih menyanyikan nomor lagu dari album Santana, James Brown, Deep Purple dan Uriah Heep.
Penulis belum berprofesi jurnalis yang kemudian minat dalam garapan seni musik. Di antara masa itu pula, menyaksikan pentasnya di Aula Universitas Langlangbuana (Unla) Bandung.
Ya, separuh abad silam -- masih terngiang lantunan lirik yang sangat menyentuh kalbu. Bersama One Dee (baca: Wandi, alm) Group, Soleh menyanyikan lagu bertajuk Yaumal Kiamat-- karya cipta budayawan Sunda, Rahmatullah Ading Affandie (RAF). Kini masih terdokumentasi di kanal YouTube.
Lagu pop rock Sunda yang liriknya, juga ditulis dalam bahasa Sunda.
"Trong kohkol, andika anggur morongkol.
Dur bedug, andika anggur murungkuk...
Diadzanan beuki tibra, pajar maneh teu ngelingan, heunteu ngelingan...
Dasar jelema doraka kudu asup ka naraka.. Aduhh..."
(Terdengar suara kentongan, kau tetap tidur. Saat bunyi bedug pun tetap meringkuk. Disuarakan adzan, makin nyenyak. Katanya tidak mengingatkan, tidak mengingatkan... Dasar manusia durhaka mesti masuk ke neraka. Aduhh...
Legenda Soleh Sugiarto tergerak hati untuk mengingatkan umat. Pertanda dirinya mulai melepas atribut seram ala Alice Cooper. Pesan itu masih terngiang dalam ingatan penulis.
Sekira seperempat abad tak pernah bersua. Tak nyana, kami saling jumpa dan bersama dalam predikat berbeda. Kali ini, kami berkolaborasi sebagai anggota legislatif di DPRD Provinsi Jawa Barat periode 2004 - 2009.
Usai itu, hanya sesekali berpapasan hingga kabar duka tiba. Dalam dua tahun terakhir mengidap sakit stroke ringan. Almarhum meninggalkan istri, Ny. Lience bersama lima orang anaknya -- di antaranya dua perempuan. Jenazah dimakamkan di TPU Cikutra, Bandung.
Hilangnya Seorang Gadis
Vokalis ternama, Soleh Sugiarto yang lantas dikenal sebutan Soleh "Freedom" Sugiarto -- memang populer bersama grup band Freedom of Rhapsodia. Pada masanya kerap manggung di Gedung Merdeka, satu-satunya ikon pentas musik Kota Bandung.
Sejalan dengan sohibnya, Deddy Dores (alm) lewat grup awal, Rhapsodia yang bergulir sejak 1969 hingga 1973. Soleh sebagai vokalis bersama Deddy yang merangkap guitar dan keyboard. Instrumen bass dipegang Uthe Thahir, saxophone oleh Dave, drum ditabuh Kiki dan J. Sarwono memainkan organ.
Karya cipta Sarwono bertajuk Hilangnya Seorang Gadis menjadi bagian dari popularitas Freedom of Rhapsodia yang dirilis 1972. Kemudian dinyanyikan solo oleh Deddy Dores pada 1989.
Almarhum Soleh mencatat sukses album sebelumnya pada 1977. Bertajuk Sang Kala. Berikutnya Mawar Putih dan Butir-butir Emas (karya cipta bersama Donny Suhendra, alm) dengan latar musik keyboard Fariz RM dan sentuhan gitar Benny Soebarja.
Banyak kisah dan catatan tentang almarhum Soleh "Freedom" Sugiarto. Tak kecuali sejumlah musisi yang pernah bersamanya, termasuk rilis album. Meski berbasis rock, dalam perjalanannya -- tampilan vokalnya di pentas, kerap memadukan musik kontemporer dengan tradisi Sunda yang jarang pula jenaka. Tak kecuali lagu Keroncong Perpisahan. Kini, benar perpisahan itu. Selamat jalan, sang legenda.**
Editror: imam wahyudi (iW)