Pentas Dunia yang Tak Memesona, Kembali ke Format 32 Negara

Foto/ilustrasi: Pngtree
Ilustrasi Piala Dunia 2026
Catatan IMAM WAHYUDI (iW)*
PRAGMATIS melanda sepak bola. Tak tanggung-tanggung merambah level dunia. Tuduhan itu diarahkan ke FiFA yang mesti bertanggung jawab. Adalah Fédération Internationale de Football Association atau Federasi Sepakbola Dunia.
Tak terbantahkan terjawab di ajang Piala Dunia 2026. Berlangsung di tiga negara: Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Bahkan sejak laga pembuka pada fase grup. Komunitas sepakbola dunia langsung disuguhkan pertandingan yang tidak bermutu. Jauh dari kata turnamen kelas jagat raya.
Pembantaian berkelanjutan, sejak peluit pertama dibunyikan. Hal tak lazim. Alih-alih unjuk persaingan setara laga turnamen bertajuk dunia. Nyata adanya. Jerman membantai Curacao 7-1, Kanada menghajar Qatar 6-0, Swedia gilas Tunisia 5-1. Dengan skor yang sama, Swedia diempaskan Belanda.
Tampak virus kasatmata yang mempertaruhkan sportivitas. Mengandalkan lobby-lobby yang kuat indikasi aliran fulus. Sangat mungkin nominalnya pun menggila. Skor mencolok lainnya dibuat timnas Jepang yang membantai Tunisia dengan empat gol tanpa balas. Christian Ronaldo dkk menggusur Uzbekistan 5-0. Pun Belgia menggusur Selandia Baru 5-1. Timnas Senegal mengirim lima gol (5-0) ke gawang Irak yang sebelumnya dicekok tiga gol tanpa balas oleh Mbappe dkk (Prancis).
Ketika gol-gol itu melesak ke gawang lawan, maka sebuah pertandingan sepak bola sudah tidak menarik lagi. Piala Dunia kali ini kehilangan greget sedari awal. Praktis penurunan prestasi. FIFA tercoreng wibawa. Tradisi turnamen kelas dunia yang menjanjikan prestasi tim dan persaingan setarra, sungguh tak terjadi. Sia-sia mesti menunggu setiap empat tahun.
Sejak Awal pun Babak Belur
HANYA sedikit timnas yang unjuk performa kompetisi tingkat dunia. Semisal timnas Iran yang tengah dihantui eskalasi perang lawan duet AS - Israel. Tak terkalahkan, mampu menahan imbang tiga laga wajib grup-G lawan Belgia, Mesir dan Selandia Baru. Prestasi draw itu tak cukup mengantar Iran babak sistem gugur.
Timnas Iran menjadi bagian dari kloter pertama yang mesti meninggalkan arena Piala Dunia 2026. Apalagi timnas lainnya yang kadung babak belur oleh berondongan gol. Di antaranya yang tak cukup populer di kancah sepak bola mancanegara.
Tanpa keseruan babak Piala Dunia 2026, sejumlah 12 timnas sudah harus angkat koper. Begitulah aturannya, pun akibat jumlah partisipan yang gemuk minus prestasi. Timnas tergusur itu babak belur sejak awal. Tujuh di antaranya dari zona Asia. Qatar, Arab Saudi, Irak, Yordania, Uzbekistan, Korsel, dan Iran. Dari zona Eropa: Turki, Skotlandia dan Cekoslowakia. Tiga timnas zona Amerika Utara dan Tengah adalah Haiti, Curacao dan Panama. Pun timnas Uruguay dari zona Amerika Latin juga harus pulang. Dua timnas lainnya, Tunisia (zona Afrika) dan Selandia Baru dari zona Oseania.
24 Timnas Lolos Babak-32
Tercatat 24 timnas secara otomatis lolos ke babak "32 besar" sistem gugur. Mereka timnas "2 besar" dari fase grup. Adalah grup-A : Meksiko (poin 9) dan Afrika Selatan (4); B : Swiss (7) dan Kanada (4); C : Brasil (7) dan Maroko (7); D : Amerika Serikat (6) dan Australia (4); E : Jerman (6) dan Pantai Gading (6); F : Belanda (7) dan Jepang (5); G : Belgia (5) dan Mesir (5); H : Spanyol (7) dan Tanjung Verde (3); I : Prancis (9) dan Norwegia (6); J : Argentina (9) dan Austria (4); K : Kolombia (7) dan Portugal (5) serta grup-L : Inggris (7) dan Kroasia (6).
Tambahan delapan timnas lainnya ranking-3 "terbaik" grup. Adalah Kongo, Swedia, Ghana, Ekuador, Bosnia & Herzegovina, Aljazair, dan Paraguay masing-masing berbekal poin empat serta Senegal (poin 3).
Pentas Dunia Tak Pesona
Catatan di atas menunjukkan arah penurunan kualitas Piala Dunia. Akibat lobby-lobby dan fulus, FIFA berdalih mengakomodasi lebih banyak timnas peserta. Ditengarai pengaturan dalam mendapatkan slot lebih banyak dari setiap zona. Kali ini dengan format 48 timnas partisipan, dari sebelumnya tradisi 32 timnas. Proses kualifikasi dibagi menjadi 6 zona konfederasi FIFA di seluruh dunia yang diberlakukan pada Piala Dunia 2026.
Sebelumnya format 32 negara mentradisi sejak 1998 hingga 2022. Alokasi konfederasi dengan zona Eropa mendapatkan jatah terbanyak yang mencapai 13 slot. Meski kini menjadi 16 slot, timnas Italia yang harus tergusur di babak play off kualifikasi zona Eropa. Kalah adu penalti lawan Bosnia & Herzegovina. Juara dunia empat kali ini pun mengulangi tak lolos Piala Dunia untuk kali ketiga secara beruntun sejak 2018.
Apa pun argemennya, format 48 negara dinilai tidak menyentuh aspek prestasi dan persaingan antartimnas. Pergelaran Piala Dunia lebih mirip pesta Piala Dunia. Lebih banyak negara peserta, diharapkan lebih meriah. Bila semata merujuk lahirnya prestasi dunia, nyatanya tak terjadi. Cuma heboh sesaat. Saatnya pula evaluasi secara bertanggungjawab dan kembali ke format 32 negara.**
*) jurnalis senior anggota PWI Pusat