Ada Teror Politik untuk Para Aktivis

Ilustrasi
Teror terhadap aktivis maish terus berlangsung.
Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)
AKTIVIS KontraS, Andrie Yunus disiram air keras oleh orang tidak dikenal. Kejadian ini diduga sebagai intimidasi dan provokasi.
Pasalnya, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) ini kerap menyuarakan isu reformasi keamanan dan remiliterisasi di Indonesia pada era Presiden Prabowo.
Kejadian serupa pernah dialami penyidik KPK Novel Baswedan pada 2017. Saat itu korban getol membongkar kebusukan sejumlah pejabat dan politis korupsi.
Dan paling tragis menimpa Munir. Akitivis bernama lengkapa Munir Said Thalib, aktivis HAM dari lembaga swadaya masyarakat Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Imparsial pemenang Right Livelihood Award pada tahun 2000 ini menuinggal dunia Pada tanggal 7 September 2004.
Munir diduga dibunuh dengan cara duracun. Setelah minum yang diduga sebelumnya dicampur menggunakan campuran arsen melalui makanan dan minuman, Munir meningak dunia.
Saat terbunuh, Munir tengah mengudara dalam pesawat Garuda Indonesia Penerbangan 974 dari Jakarta, Indonesia menuju Amsterdam, Belanda menggunakan pesawat berjenis 747-400.[2]
Teror Politik
Kini menimpa aktivis KontraS juga, Andrie Yunus. Dia disiram air keras bukan aksi individu spontan. Tapi kejahatan yang bertransformasi menjadi teror politik.
Khususnya teror untuk melumpuhkan daya kritis aktivis secara psikologis tanpa harus melenyapkan seluruh populasi aktivis.
Para pelaku teror lazim memiliki relasi kuasa dengan aktor politik yang kuat dan tersembunyi sehingga tidak mudah teridentifikasi.
Sulit Terungkap
Untuk mengungkapnya teror jenis ini lebih rumit, bahkan menemui jalan buntu, karena melibatkan jaringan sel terputus, motif kekuasaan/politik, pendanaan terselubung serta konflik ideologi para aktor politik.
Teror Politik: Partisipasi Politik
Secara teoritis, teror politik sebagai bentuk partisipasi politik ekstrim ketika jalur partisipasi formal tidak tersedia atau tidak efektif sebagaimana pemikiran ahli ilmu politik Samuel P. Huntington dan Joan Nelson dalam buku "No Easy Choice : Political Participation in Developing Countries"
Dalam hal ini, teror politik bukan sekadar tindak kriminal biasa melainkan tindakan sadar untuk memaksa perubahan kebijakan, menunjukkan ketidakpuasan secara ekstrem hingga penggulingan rezim.
Jadi, tidak cukup hanya melibatkan polisi!**