Ambil Cangkulmu, Ambil Pangkurmu, Menanam Jagung Tak Jemu-Jemu

Foto : Istimewa
Kebun jagung. komoditas pertanian yang perlu perhatian banyak.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
MARI kawan kita bersama
menanam jagungdi kebun kita
Ambil cangkulmu
Ambil pangkurmu
Menanam jagung tak jemu-jemu
Demikianlah sepenggal syair atau potongan dari lagu anak-anak "Menanam Jagung" ciptaan ibu Sud di zaman Jepang (1942-1945) yang sudah populer di kalangan anak-anak dan sering dinyanyikan terutama murid Taman Kanak-Kanak (TK).
Jagung itu termasuk tanaman rumputan yang dalam bahasa ilmiah disebut Zae Mays.
Jagung Itu berasal dari benua Amerika. Masyarakat Chicago dan Amerika Tengah mulai menanam jagung sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu.
Mereka memanfaatkan lahan rerumputan yang terhampar luas di sana. Oleh kerena itu jagung tanaman ber biji tunggal itu disebut tanaman rerumputan atau family Foace.
Jagung baru masuk ke Indonesia sekitar abad 16. Di negeri Pancasila ini jagung berkembang dilahan 2,55 juta hektare dengan produksi sekitar 15juta ton jagung pipil kering setahun.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) ada kelebihan produksi sekitar seribu ton yang menjadi komoditas ekspor.
Saya ingin mengulas perkembangan di kampung halaman saya Tasikmalaya selatan.
Disana dikembangkan di kecamatan Bantakalong Cipatujah, Salopa, Pancatengah dll.
Produksinya mencapai 250 ton jagung pipil kering sementara kebutuhan mencapai hampir seribu ton.
Kecilnya produksi menurut tokoh petani jagung Ending Maulana, antara lain rendahnya pengetahuan petani akan ilmu tanam, rendahnya lahan dan modal dan belum masuknya teknologi pertanian modern.
Dan ini tantangan bagi semua pelaku dan pemerintah. Jadi masih perlu terus digalakkan pertanian jagung di Tasikmalaya Selatan ucapan Ending yang juga pengusaha restoran Asri di samping jembatan Cilangla Karangnunggal.
Ayolah ikuti kata Ibu Sud, "Ambil cangkulmu, ambil pangkurmu, menanam jagung tak jemu- jemu.**