Halal Bihalal, dari Pangeran Samber Nyawa Hingga Tukang Martabak dari India

Dedi Asikin
Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SAYA sangat menyesal dan kecewa,tidak bisa hadir dalam acara halal bihalal presidium CDOB (Calon Daerah Otonomi Baru) Tasikmalaya Selatan Minggu 5 April kemarin. Padahal ingin sekali dan niatpun sudah dilafalkan. Masalahnya saya tidak ada sopir karena kebetulan sopir yang biasa sedang pulang kmpung ke Kebumen Jawa Tengah.
Sampai tahun 2026 ini masyarakat Tasikmalaya Selatan sudah 17 tahun berjuang mendapatkan status sebagai kabupaten baru, berpisah dari Kabupaten Tasikmalaya sekarang.
Bukan separatisme, "Makar no, Mekar yes!" kata ketua Presidium Asep Rahmat Syaifulloh. Tujuannya tak lain, agar pelayanan publik lebih baik dan pembangunan terutama infrastruktur, berjalan cepat dan lancar.
Disela-sela waktu kosong menunggu pengesahan sebagai daerah otonomi baru, setiap tshun sehabis lebaran kami mengadakan acara halal bihalal. Tahun ini mengambil tempat di aula UPK Kecamatan Pancatengah, salah satu dari 11 kecamatan wilayah administratif kabupaten Tasikmalaya Selatan.
Dalam kaitan dengan istilah halal bihalal secara khusus saya ingin menyampaikan rasa hormat dan taqdim kepada dua tokoh bangsa. Mereka adalah K.H. Abul Wahab Hasbullah dan Presiden Sukarno.
Tahun 1948,pendiri Nahdlatul Ulama Itu mengunggah kembali ajang silaturahmi lebaran dengan istilah baru yang diciptakannya, halal bi halal. Sementara Bung
Karno pasca-Dekrit 5 Juli 1959 mrngundang para politisi di republik ini untuk bersilaturahmi dengan menggunakan istilah K.H. Abdul Wahab Hasbullah, halal bi halal di istana negara
Sesungguhnya kegiatan silaturahmi ini sudah berjalan sejak tahun 1725 lalu, sultan Mangkunegara 1 yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Sambernyawa, telah menyelenggarakan silaturahmi lebaran dengan mengundang para pegawai dan prajurit Kesultanan Puri Istana Mangkunegaran.
Sejak itu setiap tahun silaturahmi Itu selalu diselenggarakan sehingga hubungan raja drngan ASN dan prajurit dengan raja menjadi lebih dekat.
Tahun 1935 di Taman Sriwedari Solo ada seorang pedagang martabak dari India. Tidak disebutkan namanya. Tapi yang pasti martabak India itu kesohor dan laku keras melebihi martaban buatan Markobar miliknya Gibran Rakabuming Raka yang cuma satu gerepekan lalu mati suri. Lapak martabak India itu ramai dikunjungi pembeli.
Pada gilirannya istilah halal bihalal ini kemudian digunakan masyarakat luas, mulai kelurga, perusahan atau pejabat negara untuk berkumpul dan bersi;aturahmi lebaran di Taman Sriwedari.
Sampai terakhir yaitu gerakan K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan Bung Karno dengan istilah baru, halal bihalal terus diselenggarakan, antara lain camat, lurah sampai para menteri/ kepala lembaga terus kepala daerah RT/RW, organisasi dan keluarga. Jadilah halal bi halal Itu menjadi budaya islami.
Ketika saya mohon izin tidak hadir kepada Ketua Presidium Pembentukan Kabupaten Tasikmalaya Selatan, saya tidak lupa menyampaikan kalimat minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.
Mengakhiri tulisan Ini saya juga patut menyampaikan rasa hormat kepada Sultan
Mangkunegara alias Pangeran Sambernyawa cikal bakal budaya silaturahmi dan halal bi halal yang hidup pada bangsa ini sampai hari ini dan masa yang akan datang. Insya Allah.**