Revolusi Prancis dan Penderitaan Rakyat Hindia Belanda

Ilustrasi
Pembangunan jalan raya atau Postweg jaman penjajahan Belanda dengan menerjunkan kerja paksa untuk rakyat Jawa.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SETELAH berhasil menguasai Prancis dengan penyerangan ke penjara Bastille
dan mengakhiri monarki absolut Raja Louis ke XVI, Napoleon Bonaparte mengangkat adiknya, Louis Bonaparte menjadi penguasa negara Belanda.
Di awal kekuasaan itu Louis mengangkat Jendral Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda di Indonesia.
Daendels tiba di Batavia tahun 1808. Tugas utama dan pertama adalah membangun jalan raya pos dari Anyer Banten sampai Panarukan Jawa Timur sepanjang.1.000 Km. Dan pembangunan jalan itu merupakan proyek strategi Untuk mempertahankan Pulau Jawa dari incaran Inggris.
Tapi baru sampai Cirebon anggaran yang diberikan Daendels sebesar 30 ribu ringgit telah habis. Tidak bisa meneruskan pekerjaan sampai ke Losari pun.
Daendels segera memanggil para bupati yang akan terlewati proyek jalan itu. Para bupati diminta untuk membiayai proyek itu sampai selesai 1812. Karena Itu proyek prestisius dari Nederland.
Yang terjadi, bupati dan antek-anteknya mengerahkan rakyat untuk bekerja secara paksa. Jika menolak ada ancaman hukuman dan masuk penjara.
Jalan Cadas Pangeran yang menghubungkan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Sumedang telah menelan korban ribuan orang meninggal. Mereka meninggal kerena kelelahan, sakit tidak diobati dan kekerasan petugas serta kelaparan. Ada yang bilang para pekerja itu juga tidak dibayar.
Kerja paksa dan tanam paksa adalah dua model kekejaman kolonial Belanda yang mendapat protes keras baik dari internal maupun eksternal.
Daendels sendiri dipanggil pulang setelah dinyatakan tidak berhasil melaksanakan tugas. Ia pulang tahun 1811 menyusul kemudian Pulau Jawa jatuh ke tangan Inggris (1811-1818).**