Revolusi Indonesia Pernah Berhasil, Tapi Rezim Berikutnya Kerap Lupa Diri dan Lupa Misi

Dedi Asikin
Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
JIKA kita sepaham bahwa revolusi itu adalah satu gerakan perubahan besar-besaran seketika dan mendasar atas tatatan politik dan tata kelola negara, maka kita harus mengakui dan mengatakan bahwa revolusi atau gerakan perubahan adalah suatu keniscayaan, dan itu telah tejadi di Indonesia. Lebih dari sekali malah.
Tritura
Sejak tahun 1960 kondisi ekonomi masyarakat Indonesia ancur. Inflasi mencapai 594%, harga-harga kebutuhan pokok terbang ke angkasa bagai sputnik. Gaji atau pendapatan pegawai negeri sipil (PNS) maupun pekerja swasta lainnya hanya cukup untuk hidup tiga hari.
Keuangan negara saat itu hanya digunakan untuk mengatasi keamanan dan perang. Tercatat, tahun 1947 Belanda dibantu sekutu mengirim pasukan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) melakukan agresi dan perang kolonial kedua.
Itu revolusi pertama, rakyat bersatu padu mengusir penjajah, dan NKRI yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 tetap kokoh berdiri.
Namun masih dalam tahun yang sama, meletus pula gerakan separatisme DI/TII di bawah pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo yang akan mendirikan Negara Islam Indonesia.
Dan DI/TII serta pemberontakan lainnya seperti PRRI Permesta di Sumatra, DI/TII di Sulawesi Selatan, juga memberontak tetapi berhasil dipadamkan. NKRI maish tetap berdiri kokoh.
Namun sejak saat itu, ekonomi Indonesia tak juga maju, stagnan, malah cenderung terpuruk. Kondisi politik diperparah dengan lahirnya Gerakan 30 September (G-30-S) tahun 1965 yang dimotori PKI. Sejumlah jenderal terbunuh.
Melihat carut marut eknomi dan politik, apalagi Presiden Sukarno tak juga membubarkan PKI yang dinilai sebagai biangkerok lahirnya G-30-S, maka rakyat yang tengah lapar pun tak berkutik, hal ini tercium mahasiswa.
Berikutnya, para aktivis mahasiswa mulai bergerak. Dengan membentuk kelompok yang mereka sebut KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), mereka mengajak elemen masyarakat lain seperti Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), Kesatuan Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), mereka melakukan demonstrasi besar-besaran dengan mengusung jargon perjuangan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) isinya yakni:
- Bubarkan PKI
- Rombak Kabinet Dwikora
- Turunkan Harga.
Tanggal 10Januari 1966 adalah momen berdirinya Tritura. Gerakan mahasiswa Itu secara terselubung didukung tentara yang ingin menjarfuhkan Rezim Sukarno dan menaikkan Mayjen Suharto menjadi presiden.
Aksi mahasiswa ini berhasil, dibuktikan dengan keluarnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dan pergantian rezim kekusaan itu berhasil diperoleh. Melalui Sidang Istimewa MPR (S) Suharto dikukuhkan sebagai Presiden Republik Indonesia melalui TAP MPRS NO.XLIV/MPRS/1968.
Awalnya pemerintah Orde Baru dengan Presdennya Suharto berhasil mengendalikan ekonomi melalui pembangunan semesta berencana dengan tahapan "Pembangunan Lima Tahunan" (Pelita).
Perlahan tapi pasti rezim Orde Baru mulai memulihkan keadaan ekonomi. Namun pada gilirannya, rezim yang bertahan 31 tahun sejak 1966 itu pada 1997 terkena dampak resesi atau krisis ekonomi yang melanda beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia.
Kondisi ekonomi dan moneter itu memang tidak terkendali dan terus merangsek merusak tatanan kehidupan ekonomi masyarakat sehari-hari, termasuk di Indonesia. Rakyat merasa kian tertekan, sebab harga kebutuhan pokok melambung tinggi, ditambah daya beli yang semakin melemah dan barang-barang kebutuhan pokok sulit didapat.
Selain Itu secara politik Suharto dinilai telah melakukan tindakan otoriter. KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) tumbuh dan berkembang secara terstruktur dan masif dari pusat hingga daerah, bahkan diperparah lagi sejumlah aktivis yang dianggap lawan-lawan politik ditangkap dan ditahan tanpa peradilan. Kebebasan pers dibatasi. Banyak surat kabar dibreidel.
Roda ekonomi dikuasai kroni-kroni dan keluarga lingkaran istana, praktek KKN semakin terasa menyebabkan rakyat yang melarat marah dan tidak bisa mengendalikan diri lagi.
Seperti biasa melalui mahasiswa kegelisahan rakyat ini menyuarakan sisi hatinya. Mereka mahasiswa turun ke jalan, menuntut Suharto mundur dari kursi RI-1.
Pemerintahan Suharto makin goyang dan terdesak. Suasana makin memanaskan kursi sang presiden. Tercatat ada 14 menteri menyatakan mengundurkan diri. Mereka sepertinya mendukung aksi tuntutan reformasi di tubuh pemerintahan
Ada empat orang yang memiliki menjadi tokoh sentral Gerakan Reformasi atau perubahan ini. Ada Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais dan Sultan Hamengku Buwono X.
Puncak demo sekitar ratusan ribu orang mahasiswa dan elemen bangsa lainnya mengepung Gedung DPR/MPR, sebagian mereka menaiki gedung utama utama legislatif di Senayan, mereka menuntut Suharto segera turun .
Presiden Suharto yang sedang berkunjung ke Mesir melihat kondisi di dalam negeri begitu panas, akhirnya memilih pulang lebih awal. Besok harinya tanggal 21 Mei 1998 iapun menyatakan pengunduran diri. Selanjutnya Wakil Presiden BJ Habibie yang menggantikan Suharto yang merupakan presiden petdana dalam pemerintahan Era Reformasi pengganti Era Orde Baru.
Sampai kini Orde Reformasi Itu sudah berusia 37 tahun. Telah ada 6 presiden yang tampil sejak BJ. Habibi yakni; KH Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono. Joko Widodo, dan Prabowo Subianto.
Tapi kedamaian sebagai kondisi lanjutan yang dicita-citakan sebuah revolusi masih jauh bumi dari langit. Kesejahteraan masyarakat belum terasa.
Yang ada dan terasa cuma kebebasan berbicara. Saat ini orang sepertinya bebas memaki orang lain, tak peduli pangkat dan jabatan, fitnah berseliweran, hoaks, gibah dan cacai maki semakin menjad-jadi apalagi difasilitasi media sosial yang begitu mudah diakses di gadget.
Revolusi di Indonesia berbeda antara yang dicita-citakan saat disuarakan mahasiswa. Contohnya praktik larangan KKN yang tertuang dalam Tap MPR RI, malah maknanya semakin kabur atau sengaja dikaburkan. Yang terjadi, korupsi, kolusi dan nepotisme sudah menjadi budaya yang semakin tak terkendali.
Hal ini jauh berbeda dengan Revolusi Prancis, sejak kejatuhan rezim monarki, kini Prancis semakin maju dengan sistem pemerintahan republiknya dan kedengarannya mulus-mulus saja.
Revolusi di Indonesia, atau apapun misi yang dibawanya, sepertinya belum atau tidak tertata rapi. Hari ini muncul aksi unjuk rasa atau tuntutan rakyat melalui demonstrasi dan revolusi, dari awal gerakan lalu terjadi jilid dua, dan mungkin jilid tiga, namun hasilnya terkadang berbeda dengan misi awal yang diperjuangankan.
Sang rezim pengganti yang berkuasa, kerap lupa diri apa misi yang dibawa dulu oleh rakyat melalui mulut mahasiswa. Contoh kongkret KKN, malah semakin hidup dan bersemi bagai benih ditebar di ladang bertanah subur penuh pupuk.
Tidak hanya soal warisan kekuasaan antara ayah, anak, mantu, istri, juga koalisi yang terbaca secara kasatmata. Contohnya berbalut koalisi, padahal isinya jadi ajang politik balas budi bagi-bagi kursi. Memilih menteri, kepala badan, komisaris dan ketua lembaga negara, tak berdasarkan lagi The right man on the right place, tapi memilih siapa berjasa yang membawanya meraih mahkota.
Contoh nyata, ada akhli serangga ditempatkan ke bagian ahli gizi. Kalau sudah demikian adanya, maka tepatlah apa yang dikatakan Rasulullah Nuhammad SAW dalam hadisnya, "Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya." (HR. Bukhari).
Pesan moral untuk proses perubahan atau revolusi selanjutnya. Lakukan semua secara arif dan bijak dan dengan penataan yang rapi. Jangan seperti keledai dungu, terperosok dua kali pada lobang yang sama. Jangan jadikan rakyat jadi marmot percobaan.**