Tentang Rumus "Lima AT" untuk Menjadi Wartawan

Dedi Asikin
Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
MENYAMBUNG tulisan saya berjudul "Wartawan itu Dilahirkan dan Dijadikan", berdasarkan pengalaman saya bisa menyimpulkan bahwa syarat menjadi wartawan ada rumusannya, yakni harus mengandung lima "at"; bakat, minat, semangat, akal sehat, dan sepasang kaki yang kuat, maka bisa dibilang ia wartaan hebat
Bak(at)
Bakat ini adalah aspek yang dilahirkan. Tidak semua orang bisa melakukannya. Proses kerja seorang wartawan sampai bisa menyajikan informasi kepada khalayak dimulai dengan mencari bahan berita dalam bahasa wartawan disebut liputan.
Meliput suatu kejadian untuk bahan berita bukanlah pekerjaan mudah. Banyak kendala yang menghalangi. Salah satu di antaranya yakni sikap para birokrat yang tak mau membuka informasi seluas-luasnya.
Saya pernah dibohongi seorang ajudan salah seorang bupati di Tasikmalaya. Waktu mau bertemu bupati dalam kasus penyelewengan proyek pembangunan, sang ajudan bilang katanya bupati sedang tidak ada.
Tapi rupanya bupati mendengar percakapan itu, dia keluar dari ruang kerjanya, begitu melihat saya langsung bilang, "Eh Nung Dedi yah, sok kakebet. Dan saya setengah loncat masuk ruangan penguasa Kabupaten Tasikmalaya itu. Tak saya perhatikan raut muka sang ajudan, mungkin tersipu malu.
Dalam tahap liputan seorang wartawan kadang harus nekat. Sering kali harus "slonong boy". Dengan cara vivere veri coloso (bahasa Italia) kalau kata Bung Karno yang artinya hidup penuh bahaya atau hidup menyerempet bahaya.
Setelah itu bakat yang sesungguhnya dari seorang wartawan adalah menulis berita atau artikel. Disinilah faktor dilahirkan diuji dengan merangkum fakta dan diolah dengan bahasa agar menjadi berita yang udah dicerna pembaca atau khalayak.
Tidak semua wartawan bisa meramu bahasa berdasarkan fakta menjadi sebuah tulisan atau berita dengan susunan kata yang tertata baik. Mudah dibaca dan memenuhi unsur-unsur 5 W+ 1H (What, Who, Why, When, Where, dan How), yang artinya bahwa berita ini harus bisa menjawab 6 pertanyaan secara utuh tentang: apa, siapa, mengapa, kapan, dimana dan berapa).
Banyak wartawan yang cuma jadi "radio butut" atau "calo berita". Ia menceritakan data yang didapat kepada wartawan lain atau kepada redaktur. Yang ia dapatkan cuma jempol satu atau dua tangan. Tapi diluar dia berlaga "pangwartawana". Petantang petenteng sambil pamer kamera dan taperecorder.
Min(at)
Punya bakat tak ada minat tentu urung jadi pekerja jurnalistik.
Semang(at)
Harus dipahami bahwa wartawan itu kadang berangkat subuh, baru pulang subuh besoknya lagi, atau P4 (Pergi Pagi Pulang Pagi). Tak ada batasan jam kerja seperti, PNS atau pekerja swasta yang sesuai aturan, bekerja 8 jam sehari..
Akal seh(at)
Tak semua informasi dapat langsung disajikan sebagai berita atau artikel. Wartawan harus berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, di antaranya selain taat pada undang-undang dan peraturan yang berlaku, juga pada norma serta menjunjung tinggi moral.
Dengan demikian, wartawan harus hapal tentang sauatu berita apakah layak atau tidak jika diberitakan. Artinya, tidak semua bahan berita dan fakta harus diberitakan, tetapi ada nilai moral dan kaidah tentang layak atau patut, dan harus paham tentang dampak tulisan atau berita bagi khalayak.
Ku(at)
Kuat disini adalah daya jelajah atau jangkauan yang luas, Mendapatkan suatu berita yang eksklusif bagi wartawan adalah suatu kebanggan, Makanya untuk mengejarnya, kemanapun dan dimanapun ada sumber berita yang bagus dan eksklusif, sekalipun ke medan perang, atau ke pelosok desa yang jauih disana, harus dikejar, Makanya syaratnya harus memiliki fisik yangs ehat dan kaki yang kuat.
Ada pengalaman yang sedikit dramatis. Pada18 Oktober 1992 seorang wartawan Mandala Bandung Endang MS (kini telah almarhum) pada pukul13.30 mendengar dan melihat berita di televisi ada pesawat jatuh di gunung Puntang, perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut.
Insting wartawannya bekerja cepat. Endang MS langsung berangkat dengan menumpang angkot dari Bale Endah ke Banjaran. Dari sana naik lagi angkot yang ke Ciwidey. Turun di Desa Cipaganti, Kecamatan Cimaung,.Kabupaten Bandung. Dari sana di bawah guyuran hujan dan kabut ia berjalan kaki menuju puncak Gunung Puntang yang merupakan anak dari gunung Papandayan di kabupaten Garut.
Melewati jalan bebatuan dan semak belukar, Endang MS berjalan puluhan kilometer demi tiba di lokasi kecelakaan pesawatr, Sekitar pukul 17.00 dengan napas tersengal- senggal dan pakaian basah kuyup, ia sampai di lokasi sekitar puncak Gunung Puntang.
Di kawasan itulah ia mendapatkan bangkai pesawat yang sudah hancur berkeping keping dan terbakar. Juga korban yang bergelimpangan. Diduga sudah tewas dan hangus terbakar.
Lalu sebuah benda kecill berwarna hitam hampir keinjak. Ternyata sebuah kacamata hitam tergeletak dekat tubuh korban seorang wanita yang diduga pilot pesawat.
Kacamata hitam itu dipungut biaya dan langsung dipakainya. Belum ada orang di TKP waktu itu, jangankan wartawan, penduduk pun belum ada. Jadi boleh dibilang Endanglah wartawan pertama yang datang di TKP.
Selesai mengambil foto sana sini, dia pulang dan.baru sampai ke rumahnya kompleks Wartawan Galih Pawarto Bale Endah hampir larut malam. Ia menyewa ojeg dari Banjaran.
Besok pagi pukul07.00 dia sudah ada di kantor. Kacamata pilot masih dipakai. Lalu kontak Polresta Bandung dan Polda Jabar sambil menunjukkan bukti salah satu kacamata pilot. Diperoleh informasi bawha pesawat yang jatuh itu jenis Cassa CN 235 yang akan dibeli PT Merpati Nusantara Airline dari IPTN.
Pesawat itu masih dalam rangka uji coba penerbangan. Pagi itu pukul 10,45, pesawat take off dari bandara Juanda Surabaya menuju Halim Perdanakusuma Jakarta membawa 27 orang penumpang dan 4 orang kru.
Pilotnya kapten penerbang Fierda Basaria Panggabean seorang perempuan yang baru berusia 29 tahun. Waktu transit di Cirebon pukul 12.00, penerbang IPTN itu mendapat informasi dari pengawas penerbangan bandara Husein Sastranegara Bandung bahwa Bandung Selatan diguyur hujan disertai petir dan angin kencang.
Sebagai pilot yang sudah memiliki jam terbang seribu kilomter lebih. Fierda menerbangkan pesawat produksi bangsa sendiri Itu.
Di wilayah Bandung Selatan ia minta izin kepada pengawas penerbangan baik di Bandara Husein Sastrangara maupun Halim Perdanakusuma untuk menurunkan pesawat dari 12.500 ke 6.500 kaki. Setelah itu hilang kontak dengan kedua pengawas penerbangan itu, sampai akhirnya ada informasi pesawat Itu jatuh di Gunung Puntang.
Mungkin ada faktor human error yaitu kapten perempuan yang masih muda usia itu memaksa menurunkan ketinggian. Akibatnya pesawat itu menabrak hutan pinus yang yang tumbuh subur di puncak Gunung Puntang.
Tanggal 20 Oktober Harian Mandala terbit dengan berita kecelakaan pesawat Merpati itu sebagai head line. Damerupakan koran pertama yang memberitakan tragedi maut itu. Itulah berita eksklusif yang membanggakan wartawan.
Heb(at)
Saya harus mengakui bahwa. Endang MS adalah seorang wartawan hebat.Pada zaman Petrus (penembakan misterius) tahun 1982-1985) Endang MS aktif memberitakan kasus itu, Hampir setiap hari Mandala turun dengan berita itu. Hasilnya oplag koran Mandala naik drastis, hampir menjadi koran terbesar di Jawa Barat.
Kini rekan Endang MS telah tiada, yang bersangkutan telah berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1996, dia melepaskan napas terakhirnya waktu hendak pulang dari kantor menuju rumahnya setelah bekerja sehari semalam.
Semoga alm bahagia di teman surga yang sejuk, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, holidiinaa abadaa.**