SBY, Dicinta dan Dicerca

Foto : Istimewa
Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Republik Indonesia ke-6.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
KEMUNCULAN Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berpasangan dengan Jusuf Kalla dalam Pemilu Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 membersitkan harapan masyarakat akan adanya perubahan dan perbaikan di Indonesia.
Sebagai sosok militer, track record tentang dirinya mulus-mulus saja. Ia adalah jenderal dengan predikat terbaik yang dimiliki republik Indonesia. Nama SBY tidak pernah terkait delam predikat pelanggaran HAM .
Jabatan terakhir didalam militer adalah Asisten Teritorial. Jabatan prestisius sebelum kemudian pensiun dan terjun ke dunia politik dengan mendirikan partai Demokrat.
Dalam pemilu legislatif 2004, Partai Demokrat memperoleh 33,1% suara sementara dalam pilpres pasangan SBY JK memenangkan pertarungan.
Meski begitu kredibilitas SBY tidak selalu konstan. Ia termasuk figur yang mengalami perubahan terutama pada periode kedua berdasarkan respon penduduk, terutama para pemilik hak suara.
Kepemimpinannya di periode pertama menyebabkan kepercayaan publik kepadanya makin meningkat dari 33% di tahun 2004 menjadi 60,3% pada tahun 2009. Figur Jenderal kelahiran Pacitan Jawa Timur Itu juga mengerek pelorehan suara partai Demokrat
Dalam pemilu legislatif Partai Demokrat menjadi pemenang dengan 21,70 juta suara dan mendapatkan 148 kursi di DPR. Kemenangan Itu masih terpengaruh oleh kehancuran akibat tsunami Aceh yang terjadi tanggal 26 Desember 2006 yang meluluh lantakkan provinsi paling utara itu.
Pertumbuhan ekonomi di era SBY-JK periode pertama bekisar antara 5,7 sampai 6%, Pendapatan perkapita mengalami perubahan dari, $1 121 pada tahun 2004 mrnjadi $3,531 pada tahun 2014.
Bahwa SBY manusia biasa bukan Superman yang bisa sim salabim adalah realitas kehidupan. Tapi di bidang politik duet SBY-JK itu berhasil menyelesaikan masalah GAM di Helsinki pada tahun 2005.
Dalam bidang ekonomi SBY berniat mengikuti pola Presiden Megawati Soekarnoputri. Untuk menutupi defisit APBN Megawati menjual Indosat kepada Temasek Holding, sebuah perusahaan telekomunikasi milik Singapura. Indosat dilepas dengan harga Rp5,62 triliun. Tapi 5 tahun kemudian Temasex melego Indosat kepada QTEL Qatar dengan harga 3 kali lipat atau Rp16,74 triliun.
Ada beberapa hal yang merupakan malapetaka SBY sehingga di periode kedua mengalami banjir cercaan.
Sesungguhnya SBY juga berniat menjual 41 buah BUMN. Meski tidak banyak mendapat reaksi tapi periode kedua bsnyak blunder. Misalnya jatuhnya saham BUMN secara drastis. Banyak kinerja BUMN menurut catatan Bursa Efek Indonesia tidak baik.Salah satunya adalah jatuhnya harga saham Bank Mandiri dari Rp4.000 menjadi Rp2,000,
Kemudian menurunnya harga obligasi yang diterbitkan oleh BUMN. Ada rekomendasi JP Morgan untuk tidak membeli obligasi yang dikeluarkan oleh pemerintah cq BUMN.
Ketika melakukan divestasi saham Perusahaan Gas Negara (PGN) pemerintah mengalami kerugian sebesar Rp1,3 triliun. Itu terjadi karena ada penggorengan. Rencananya PGN akan melego sekitar 185 juta lembar saham.
Juga begitu dengan divestasi saham Bank BNI sebanyak 99,11 juta lembar (tahun 2005) dilakukan pada saat pasar saham sedang mengalami kelesuan, sehingga gagal dan tidak nyampai target. Padahal sebelumnya harga saham BNI sempat mencapai Rp 2.850/lembar. Pada saat penjualan terpaksa dilepas dengan harga Rp2.050 sehingga negara ngalami kerugian.
Itulah catatan mengenai cela-cela pemerintahan SBY sehingga di periode kedua banyak mendapat cercaan.
SBY memang manusia bisaa,, bukan Superman. Pemimpin Itu memang hidup di antara cinta dan cela. Pemimpin Itu kata Cecep Juhanda, lonjong, sepertinya telur asin dari Brebes tidak bulat seperti bola pingpong.**