Munasabah Jika Mendapat Julukan Tasikmalaya Islami

foto

Foto : Istimewa

Salah satu penghargaan terhadap sang kyai pejuang Islam, nama KH Zainal Mustofa jadi nama Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tasikmalaya.

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

MA'ARIF Institute merilis bahwa Kota dan Kabupaten Tasikmalaya adalah daerah paling islami se-Jawa Barat. Faktor yang mendukung pengamatan lembaga kajian yang didirikan tokoh Islam intelektual Syafi'i Ma'arif atau Buya Ma'arif antara lain banyaknya pondok pesantren di Kota Resik ini.

Menurut data di kantor Kemenag Jabar dan di Kabupaten Tasikmalaya ada. 1.447 buah pontren, sedangkan di kotanya sendiri ada 172 pontren. Ma'arif institute juga menyebut 98,6 pendukung kedua daerah otonom itu memeluk Islam.

Ratusan ustaz kyai dan ulama membingkai aqidah umat terjaga dengan kuat.
Sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang, demi tegaknya panji-panji Islam, laskar kyai dan santri berani angkat senjata melawan penjajah.

Ikon perjuangan umat Islam di Tasikmalaya divisualisasikan oleh seorang kyai pejuang tangguh bernama KHZ Mustofa, kyai pendiri dan pengasuh pondok pesantren Sukamanah.

Sebagaimana diketahui, sang kyai menentang kolonialisme Belanda. Sikap Itu disampaikan dalam setiap majlis taklim, khutbah Jumat atau riungan-riungan masyarakat pada kesempatan apapun. Beberapa kali beliau ditangkap dan dipenjara, tapi tiada kapoknya.

Masyarakat Tasikmalaya sangat hormat dan taqdim kepada kyai yang kharismatik dan pemberani itu. Selain mendapatkan gelar pahlawan dari pemerintah pusat masyarakat dan pemerintah daerah menghormati sang pahlawan.

Saking hormatnya, nama sang kyai diabadikan menjadi nama jalan KHZ Mustofa yang melintang di jantung kota dari Utara ke Selatan, nama sepanjang 5 km. Naka KHZ Mustofa juga diabadikan menjadi nama RSUD Kabupaten Tasikmalaya di Singaparna, tugu di bunderan arah ke Garut direnovasi dan diganti namanya menjadi bunderan KHZ Mustofa.

Ada pula beberapa kiyai yang berjuang demi tegaknya Islam. Mereka umumnya murid murid langsung KHZ Mustofa. Sebut saja KH Choer Afandy atau Uwa Ajengan. Beliau cukup lama mondok dan menjadi murid langsung dari KHZ Nustofa di pondok pesantren Sukamanah.

Ketika mendengar bahwa KHZ Nustofa dan 14 santrinya ditembak mati oleh tentara Dai Nippon, Uwa Ajengan marah. Lalu membentuk pasukan santri dan bergabung dengan laskar Hizbullah.

Uwa ajengan kemudian mendirikan pesantren di Manonjaya dengan nama Miftahul Huda. Banyak santri yang kemudian mendirikan pondok pesantren di daerah yang menyebarkan siar Islam dan membina aqidah umat. Salah satunya adalah Abdullah Gymnastiar yang mendirikan Pondok Pesantren Daarut tauhid di Jalan Geger Kalong Bsndung dengan jukuk kyai sejuta umat.

KH Wahab Muhsin tahun 1950 menata kembsli pesantren Sukamanah dan membentuk pasukan Hizbullah. Pondok Pesantren Sukamanah kemudian diteruskan oleh KH Muhsin, santri dan menantu KHZ Mustofa.

Jauh sebelum Itu ada Syekh Abdul Muhyi yang menyebabkan Islam di selatan Jawa Barat. Lalu membangun pesantren didekat gua Safarwadi Pamijahan. Sekarang berkembang menjadi destinasi wisata religi. Ratusan orang berjiarsrah tiap hari kesana.

Jadi relevan (kata orang Sunda munasabah) jika Al Ma'arif institute menisbath Tasikmalaya sebagai daerah Islami dengan julukan Tasik Islami.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Menyesal Saya Tidak Melaksanakan Nasihat Oce Permana
Tragedi 1965 Setara Holokaus Jerman?
Nelayan Kita Mestinya Berjaya di Lautan
Ketika Menteri "Cowboy" Dicopot
Cari Muka Cari Aman