Peringatan Sejarah Sejatinya Jadi Alarm Pembuka Mata

Iwan Nuari Irawan
Oleh IWAN N. IRAWAN
(Wartawan Senior)
SETIAP kali akhir September tiba, pemandangan bendera setengah tiang kembali menghiasi sudut-sudut kota.
Bagi sebagian orang, ini mungkin terasa seperti ritual tahunan yang berulang—sebuah momen nostalgia yang hadir lalu menghilang begitu saja dalam kalender kita.
Tap, kalau kita mau duduk sejenak dan mencermati dinamika hari ini, peringatan Peristiwa 30 September sebenarnya jauh dari sekadar formalitas sejarah.
Pelajaran paling berharga dari tahun 1965 sejatinya bukan tentang memelihara rasa takut pada "hantu masa lalu". Yang krusial justru kita harus menyadari, betapa rentannya stabilitas sebuah bangsa ketika polarisasi politik dibiarkan meruncing tanpa arah.
Kalau dulu pertikaian tajam terjadi di panggung politik riil dan manuver elite, hari ini pola pembelahan itu menemukan rumah barunya yang sangat dinamis, yakni media sosial.
Gesekan identitas, ujaran kebencian, hingga polarisasi antarkelompok dengan mudah membakar emosi publik hanya dalam hitungan detik.
Dari sini kita sadar, harga sebuah perdamaian dan konsensus berbangsa lewat Pancasila itu luar biasa mahal.
Tragedi masa lalu menyisakan luka sosial yang amat dalam, dan itu adalah peringatan keras agar kita tidak lagi terserempet ke dalam lubang konflik horizontal yang sama.
Lantas, apakah ancaman berupa gerakan adu domba semacam itu sudah benar-benar lenyap?.
Secara organisasi, struktur partai komunis memang sudah tidak ada lagi dan dilarang secara hukum. Namun, pola pergerakannya hanya berganti baju. Metode yang dipakai kini menyesuaikan dengan era post-truth alias pasca-kebenaran.
Dulu propaganda ditiupkan lewat pamflet atau desas-desus di warung kopi, sekarang perpecahan dipicu oleh manipulasi algoritma, hoaks yang diproduksi secara masif, hingga perang siber atau perang digital.
Bahkan, tantangan terhadap nilai Pancasila hari ini datang dari banyak pintu. Bukan cuma dari paham kiri, tapi juga dari ekstremisme berkedok agama, radikalisme, hingga praktik kapitalisme ekstrem yang menggerogoti keadilan sosial.
Lalu, bagaimana kita sebagai masyarakat modern harus bersikap?
Jawabannya ada pada kedewasaan berpikir. Langkah paling mendasar dimulai dari literasi digital yang dingin.
Saat melihat narasi yang membakar emosi di linimasa, tahan diri untuk tidak langsung membagikannya. Kebiasaan memverifikasi informasi dan berpikir kritis adalah benteng pertahanan paling awal dalam meredam propaganda adu domba.
Terakhir, mari belajar memahami sejarah secara utuh. Menghormati jasa para Pahlawan Revolusi tentu hal mutlak, tetapi keberanian untuk mengambil pelajaran bijak dari kekeliruan politik masa lalu juga tak kalah penting.
Kita juga perlu berhenti memperkeruh suasana dengan gampang melempar label "anti-Pancasila", "radikal", atau "komunis" hanya karena berbeda pandangan politik. Stigma yang dilempar secara sembarangan justru merusak iklim demokrasi yang sedang kita bangun bersama.
Pada akhirnya, musuh terbesar bangsa ini bukan lagi wujud dari masa lalu, melainkan perpecahan, ketidakadilan, serta kebodohan yang menyusup di antara kita.
Peringatan sejarah seyogianya menjadi alarm pembuka mata : menjaga Indonesia tetap berdiri kukuh adalah tugas bersama yang harus dirawat setiap hari, bukan cuma saban akhir September.**