Blokir Senyap "Rasa Orde Baru"

foto

Ilustrasi

ilustrasi blokir senyap

Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)

ISU mengenai pembatasan informasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di media sosial -- kemudian dibantah oleh Komdigi -- dikritik mirip praktik sensor media era Orde Baru yang melarang media massa menyiarkan berita tertentu yang dianggap sensitif tanpa seizin penguasa.

Shadowbanning!

Dalam teori komunikasi massa, apa yang dilakukan penguasa membatasi pemberitaan terhadap konten di media sosial itu sebagai fenomena shadow banning yakni pemblokiran senyap atau menghapus jejak konten yang terkait bencana/lingkungan.

Frasa "shadow banning" pada awalnya diterapkan pada jenis penangguhan akun yang menipu di forum web lalu disembunyikan dari pengguna lain seolah-olah normal.

Belakangan, praktik dilakukan dengan membuat akun atau unggahan tetap tampak aktif bagi pembuatnya, tetapi disembunyikan dari hasil pencarian, halaman rekomendasi atau linimasa pengguna lain.

Dengan kata lain, konten kritis tidak dihapus secara terang-terangan melainkan dibuat tidak terlihat (invisible).

Gate Keeping

Sensor senyap ini mengingatkan kembali Teori Gatekeeping yakni proses penyaringan informasi oleh redaksi media yang digagas dan dikembangkan oleh David Manning White (1950) bagaimana berita dipilih atau ditolak.

Namun dalam konteks media digital, langkah penyaringan informasi itu dilakukan penguasa melalui apa yang disebut sebagai algorithmic gatekeeping bekerja sama dengan platform teknologi untuk memanipulasi algoritma.

Penguasa menyaring dan mengontrol narasi krisis yang patut diketahui publik dengan memanipulasi sistem di balik layar demi mengontrol narasi kritis.

Berbahaya!

Blokir senyap dengan dalih untuk mengendalikan kepanikan publik ini berbahaya secara politik. Bisa menurunkan tingkat kepercayaan publik (approval rating).

Setidaknya informasi yang sengaja disembunyikan bisa berbalik meningkatkan kecemasan dan ketidakpercayaan (streisand effect).

Akibatnya, informasi yang ingin ditutupi malah menyebar jauh lebih luas dan mendapatkan perhatian yang jauh lebih besar daripada jika dibiarkan sejak awal.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Barikade-Barikade Haji
Prabowo Tak Terbawa Hanyut?
Menakar Objektivitas di Tengah Badai Informasi: Kasus Wabup Sumedang dan Urgensi Suara Independen
Memahami Keseimbangan Ekosistem Kehidupan Ciptaan Allah Swt
Sensasi Bandung: Cerah Tapi Menyengat!