Pondok Pesantren Tempo Doeloe: Para Santri Ndelepak Ceker

foto

Foto : Istimewa

Pondok pesantren tempo doeloe

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

DHAMSKAHARY Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren yang diterbitkan LP3ES 1982 menggambarkan adanya tiga pilar yang menjadi benteng sebuah pondok pesantren. Yakni; adanya kiyai, santri dan pondok (di Jawa).

Pondok di Jawa Barat dikenal dengan nama Kobong. Dhofier membagi santri dalam dua jenis. Santri mukim yaitu mereka yang rumahnya jauh dari pondok atau kobong sehingga tidak bisa tiap hari bolak balik ka pondok. Yang kedua adalah santri kalong yaitu mereka yang rumahnya berada dekat pesantren. Nama Itu dianalogikan dengan kehidupan kalong yang baru keluar kandang lepas magrib atau malam

Secara kesejarahan Dhofier menyebut pondok pesantren Itu kebanyakan didirikan oleh saudagar muslim. Mereka Itu menyingkir ke pedalaman kerena terdesak oleh VOC, satu satunya BUMN kolonial Belanda yang memiliki monopoli bisnis, mau bisnis apa dan dimana di seluruh pelosok Hindia Belanda.

Kerena itu pondok pesantren kebanyakan berada di pedalaman dan pedesaan. Christian Snouck Hurgronje penasihat urusan Islam kerajaan Belanda dalam laporan akhir tugasnya menggambarkan tentang kondisi pesantren di negeri jajahan.

Snouck diutus ke Indonesia oleh Raja Willem III, sampai di Betawi tahun 1889. Menurut dia bangunan pondok atau kobong waktu itu umumnya berbentuk bangunan segi empat terbuat dari bambu. Di tempat atau desa yang kondisi ekonominya lebih baik bisa terbuat dari kayu.

Ada deretan atau titian batu berjajar yang menghubungkan kobong dengan sumur. Waktu Itu umumnya santri tidak menggunakan sandal tetapi ndelepak ceker. Setelah mandi, Wudhu dan bersih-bersih badan mereka berjalan berjingkat-jingkat menapaki titian batu.

Di pondok pesantren yang lebih maju kadang-kadang kobong berupa ruangan yang disekat dan dihubungkan oleh pintu-pintu. Ini lebih baik dan bermartabat ketimbang satu ruangan yang dihuni rame-rame bergeletakan.

Kadang-kadang ada kobong yang terdiri dari dua ruangan besar. Antara kedua ruangan itu ada lorong panjang.Di lorong itu terdapat kamar-kamar yang sempit dan pintu yang pendek. Santri yang jangkung harus membungkukkan badan jika mau masuk kamar.

Jendelanya kecil dengan memakai terali dari bilahan bambu atau kayu. Di bawah jendela kecil itu terdapat tikar pandan atau rotan dan sebuah meja kecil dari bambu atau kayu. Diaatas meja biasanya ada buku atau kitab.

Tempo doeloe jarang sekali pondok yang memiliki sanitasi dan aliran air dari PDAM. Paling paling air tanah yang disedot dengan pompa air. Itupun sudah terbilang maju. Kalau pondok itu terletak di pinggir kali, maka segala urusan dilakukan di sana. Mulai dari nyuci baju, mandi juga buang hajat. Situasi itu ditemui di pondok-pondok yang keukeuh mempertahankan sistem pembelajan salafi.

Pesantren model awal-awal itu benar-benar mandiri. Mereka belum menikmati kehadiran negara. Kehadiran negara mulanya terjadi pada pondok pesantren yang sudah mengadopsi sistem pembelajaran salafi. Pesantren model begini ada yang disebut terpadu, ada pula yang menyebut modern.

Pengertian modern itu bukan dilihat dari gedung yang mentereng atau perangkat peralatan teknologi modern. Itu hanya untuk membedakan antara pesantren dengan sistem kuno dengan pembelajaran sorogan dan bandungan dan dengan kitab kuning sebagai media pembelajaran, dengan sistem klasikal, menggunakan ruang kelas.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Buntut Sengketa Lahan, SDN 026 Bojongloa Mulai Direnovasi, Siswa Dipindahkan Sementara
LPM Uniku Perkuat Jejaring Kerjasama Kelembagaan Dengan Universitas Utara Malaysia
Expo KKN 2026 Uniku Diikuti 65 Stand
Anak Sekolah di Bandung Wajib Gunakan Masker Cegah Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau
Festival Soul of Linggarjati Berlangsung Semarak Mewarnai HUT Ke 81 Republik Indonesia