Mengunjungi Masjid Quba di Madinah Saat Umroh, Aisha: Jemaah Indonesia "Jayyid"

Yayan Sofyan
Masjid Quba di Madinah yang pertama dibangun Nabi Muhammad SAW
Laporan: YAYAN SOFYAN
MENGIKUTI perjalanan ibadah bersama 45 jemaah umrah yang diberangkatkan agen Travel PT Madinah Iman Wisata (MIW) Bandung dengan program “Umrah Plus Thaif dan Badar 9H” ternyata banyak kenangan religi dan pemandangan terekam jadi catatan manarik.
Perjalanan umrah sejak Kamis (2/7/2026), hingga Sabtu (11/7/2026) lalu di Madinah dan Makkah di bawah bimbingan Ustaz Dede S Hidayat dan Ustaz Muhammad Amin Zaini (Mutowif), selain melihat kemegahan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, termasuk mengunjungi pula Masjid Quba di Madinah.
Saat salat Ashar berjamaah di Masjid Quba, masjid yang pertama dibangun oleh Nabi Muhammad SAW ini, para jemaah penuh sesak di dalam masjid tersebut yang mayoritas jemaah umroh asal Indonesia.
Usai salat Ashar berjamaah dan berdoa, berkesempatan menemui Aisha dan Ali, pengurus Masjid Quba atau DKM nya Quba. Kedua warga Madinah ini ternyata sangat paseh berbahasa Inggris dan Indonesia. Bahkan keduanya mengaku saat musim umroh kali ini, jemaah dari Indonesia paling banyak (mayoritas).
"Jemaah umroh dari Indonesia "Jayyid" (baik), bagus dan good. Selain jemaahnya paling banyak, beradab, sopan dan bersahabat, juga menaati aturan di masjid ini," tutur Aisha.
Berdasarkan sejumlah sumber dan sejarah Islam, Masjid Quba ternyata salah satu masjid yang menjadi destinasi utama jemaah umrah dan haji. Nilai sejarah dan ibadah menjadi alasan utama para peziarah berkunjung ke sini.
Masjid Quba terletak sekitar empat kilometer dari Masjid Nabawi, Madinah. Di masjid ini juga pertama kalinya dilaksanakan salat berjamaah secara terang-terangan.
Ketika pertama kali dibangun, masjid ini terletak sekitar enam kilometer di pinggiran selatan Yatsrib (nama Madinah saat itu), di desa Quba. Saat itu, Madinah belum diperluas hingga mencakup desa ini.
Pada dasarnya, Quba adalah sumur di perkampungan yang dihuni penduduk dari Bani Amr bin Auf, milik Abu Ayyub Al-Ansari. Unta betina milik Nabi Muhammad SAW pertama kali berlutut di sana untuk meminum air setelah perjalanan hijrah dari Makkah menuju Madinah.
Dalam peristirahatan di Quba selama empat hari sembari menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib, Nabi Muhammad tinggal di rumah Kultsum ibn al-Hadmi, dari Bani Amr bin Auf, dan memulai pembangunan masjid tersebut yang diberi nama Quba. Nabi sendiri yang meletakkan beberapa batu bata tersebut, dan para sahabatnya bergabung dengannya.
Masjid Quba dibangun dengan batu bata mentah dan atap dari daun kurma. Mereka bekerja keras, membawa batu-batu, dan pasir untuk pembangunan, dan Nabi sendiri yang menanggung beban di punggungnya. Saat ini, Masjid Quba adalah masjid terbesar kedua di Madinah.
Kajian sejarah Islam tentang Masjid Quba menunjukkan pentingnya masjid ini."Fadilah salat di Masjid Quba sangat besar. Mengutip hadis dari Ibnu Majah, 'Siapa yang berwudu di rumahnya, lalu ia mendatangi Masjid Quba, dan ia melaksanakan salat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah,” kata Ustaz Dede S Hidayat, pembimbing jemaah umroh yang diberangkatkan agen Travel PT MIW.
Masjid Quba juga disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa dan orang-orang yang berada di dalamnya adalah orang-orang yang selalu membersihkan diri, sebagaimana dalam Surat At-Taubah ayat 107 sampai 110.
Turunnya ayat tersebut tidak lepas dari Masjid ad-Dirar, masjid yang membawa kerugian kepada umat Islam. Masjid ad-Dirar awalnya mendapat persetujuan dari Nabi Muhammad SAW namun kemudian dihancurkan setelah beliau kembali dari ekspedisi ke Tabuk.
Menurut sebagian besar ulama, masjid ini dibangun oleh 12 orang munafik, mengikuti arahan Abu Amir al-Rahib, seorang Hanif yang menolak seruan Muhammad untuk masuk Islam dan bersekutu dengan non-Muslim Makkah dalam Perang Uhud.
Menampung 66 Ribu Jemaah
Struktur Masjid Quba mengalami pembangunan terbesar dalam sejarahnya, dengan luas area mencapai 50.000 meter persegi. Kapasitas meningkat hingga mampu menampung 66 ribu jemaah.
Dikutip dari Saudi Gazette, renovasi terakhir Masjid Quba memperluas ruang salat menjadi 5.035 meter persegi dan keseluruhan masjid beserta fasilitasnya menjadi 13.500 meter persegi dari semula hanya 1.600 meter persegi. Ruang salat utama ini mampu menampung hingga 20 ribu jemaah.
Masyarakat Madinah akan dengan nyaman melakukan salat di masjid Quba selama haji dan Idulfitri, ketika biasanya terjadi peningkatan jumlah jemaah yang berkunjung ke kota tersebut.
Masjid ini memiliki 54 kubah kecil, lima kubah berukuran sedang, dan satu kubah besar tepat di atas area mihrab. Bangunan masjid memiliki empat menara, masing-masing satu di setiap sudut.
Awalnya hanya ada satu menara, renovasi terakhir menambahkan tiga menara lainnya. Dasarnya persegi, memiliki poros segi delapan dan berbentuk lingkaran di puncaknya. Halamannya dibuat dari marmer putih dan hitam yang dihiasi ornamen berwarna merah. Sebagiannya ditutupi payung pada siang hari untuk melindungi jamaah dan pengunjung dari panas dan terik.
Elemen bangunan baru ini mencakup karya dari arsitek Mesir Abdel Wahed el-Wakil, arsitek Pakistan Hassan Khan Sayyid, dan arsitek tensil dari Stuttgart, Mahmoud Bodo Rasch.
Masjid ini memiliki dua area salat utama, satu di selatan dan satu lagi di utara yang dihubungkan oleh dua barisan tiang beratap di sisi timur dan barat mengelilingi ruang tengah, yang ditutup dengan kain.
Ruang salat di bagian selatan dihiasi enam kubah yang lebih besar di atasnya, ruang salat di bagian utara dihiasi 32 kubah yang lebih kecil, dan barisan tiang di atasnya dilengkapi dengan kubah yang lebih kecil.
Terdapat 7 pintu masuk utama dan 12 pintu masuk tambahan di Masjid Quba, fasilitas toilet sebanyak 64 unit untuk pria dan 32 toilet untuk wanita. Setelah pertama kali dibangun pada masa Nabi Muhammad, Masjid Quba ini termasuk kerap direnovasi.**
Editor: Yayan Sofyan
