Suharto Pimpin Negara Sambil Tirakat

Foto : Istimewa
Surat Perintah Sebelas Maret dari Presiden Sukarno kepada Suharto.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
BAHWA Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) jatuh kepada Letnan Jenderal Suharto, itu kenyataan sejarah. Sebab secara seketika ada banyak yang merasa keputusan Presiden Sukarno itu kurang selayaknya
Pantasnya sesuatu herarki dan kedekatan pribadi surat sakti itu jatuh kepada jenderal Abdul Haris Nasution. Dia pangkatnya sudah jendral bintang empat dan dikenal sangat dekat dengan Presiden Sukarno.
Sore hari tanggal 11 Maret Itu Suharto sendiri tidak hadir di Istana Bogor dimana Super Semar Itu ditandatangani. Ia sedang sakit di rumahnya di Jalan KH Agus Salim. Dikabarkan ia juga sedang berpuasa sunah.
Supersemar adalah Surat Perintah Sebelas Maret, sebuah dokumen penting yang ditandatangani oleh Presiden Sukarno pada 11 Maret 1966, memberikan wewenang kepada Letnan Jenderal Suharto untuk memulihkan keamanan, dan menjadi awal peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru
Banyak orang tahu Pangkostrad Itu sudah biasa tirakat, puasa Senen-Kamis dan tiga hari menjelang hari kelahiran. Hal yang sama juga sudah dilakukan oleh istrinya Siti Hartinah atau akrab dipanggil Ibu Tien, jauh sebelumnya tanpa setahu sang suami.
Dalam banyak hal ibu Tien Suharto mendampingi perjalanan karir sang suami menuju sukses.
Kepada Abdul Ghafur yang menulis buku "Siti Hartinah Suharto wanita Utama Indonesia" (1993): menyebutkan bahwa dia menikah dengan seorang tentara, perwira muda yang ganteng dan punya Jabatan prestisius, bukan kepada supir taksi.
Hal demikian dikaitkan dengan upaya ibu Tien mencegah Suharto mau berhenti menjadi tentara akibat kasus truk tentara yang dibikin angkutan omprengan. Kepada sang suami yang sedang terancam pemecatan mengatakan bahwa menjadi perwira lebih terhormat daripada menjadi supir taksi omprengan.
Dengan Super Semar iru Suharto cepat bertindak. Besok harinya ia membubarkan PKI dan organisasi terkait. Tanggal 15 Maret menangkap 15 menteri yang terindikasi terlibat. Di antaranya
Dr Subandrio, Menlu dan Wapererdam Dr. Chairul Saleh, Waperdam II Tengku Yusuf Muda Dalam, Gubernur Bank Sentral Oey Cut Tat, dll.
Suharto yakin betul bahwa PKI adalah dalang peristiwa berdarah Gerakan 30 September (G-30-S). Dia ingat peristiwa pembrrontakan PKI Madiun yang dipimpin Muso tahun 1948.
Suharto di dalam rapat kabinet tidak banyak bicara. Ia cuma duduk termenung menyimak orang bicara. Sekali kali tersungging senyum. Dan itulah penulis buku The smiling general menyebutnya sebagai the smiling general.
Ia juga tetap tirakat, puasa sunah. Selama ber uang sebagai tentara, menjadi presiden, bahkan dalam sakit menjelang kematian kabarnya tetap laku tirakat itu dilakukan .
Memimpin sambil tirakat, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wallahu alam.**
