Selamat dari "Undangan Misterius" Jelang G-30-S/PKI

  • 18 jam lalu
foto

Foto : Istimewa

HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Jakarta.

Oleh ENDAH SUHAEDAH
(Wartawan Senior)

TANGGAL 5 oktober 2026 yang baru leeat, merupakan hari ulang tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional (TNI). Alhamdulillah upacaranya baik di ringkat Mabes TNI di Cilangkapm, Jakarta, hingga tingkat Kodam, Korem, Kodim dan Koramil berjalan lancar dan meriah.

TNI lahir dam besar bersama rakyat, itulah slogan yang selama terpatri. Perjalanannyapun bukan perkara gampang, dari mulai menumpas pemberontakan separatis di tahan air, juga menjaga kedamaian di tingkat internasional.

Gangguan dan rongronganpun terhadap TNI juga ada, Kita generesai yang lahir sebelum tahun 1965 atau yang pernah hidup di era kepemipinan Sukarno atau biasa dipanggil Bung Karno, pasti ingat persis peristia atau tragedi yuang menima TNI.

Di Akhir September 1965, terjdi tragedi nasional, sekelompok orang m,enamakan diri Gerakan 30 September dengan dukungan PKI merencanakan perebutan kekuasan atau kudeta terhadap pemerintahan yang sah. Hingga traghedi ini dikenal dengan sebutan G-30-S/PKI .

Bahkan G-30-S yang didukung Partai Komunis Indonesia (PKI ) ini telah memakan korban sejumlah jenderal dari Angkatan Darat (AD). Mereka yang jadi korban adalah:
• Letjen Ahmad Yani (Panglima Angkatan Darat)
• Mayjen R. Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima Angkatan Darat)
• Mayjen M.T. Haryono (Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat)
• Mayjen S. Parman (Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat)
• Brigjen D.I. Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat)
• Brigjen Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)
• Kapten Pierre Tendean (Ajudan Jenderal A.H. Nasution)
• Karel Satsuit Tubun (Brigadir Polisi / Pengawal Wakil Perdana Menteri J. Leimena)
• Ade Irma Suryani (Putri Jenderal A.H. Nasution, tertembak saat kejadian dan meninggal dunia pada 6 Oktober 1965)

Korban di Yogyakarta
• Kolonel Inf. Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas Yogyakarta)
• Letkol Inf. Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas

Namun sejak itu, gerakan yang dipimpin Letkol (Cakrabirawa) Untung ini gagal total setelah ditumpas oleh TNI. Kegagalan ini ada orang menyebut bahwa G-30-S sebagai kelahiran bayi premature sehingga kudeta itupun gagal total.

Jelang Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) 5 Oktober 1965 itu,  tadinya bakal direncanakan di pusatkan di Subang. Bahkan Kodam VI/Siliwangi (Kini Kodam III/Siliwangi) akan menempatkan sebagian Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) TNI di Subang di antaranya adalah sejumlah kendaraan tempur berat jenis panser.

Tetapi oleh karena meletusnya G 30 S PKI maka panser-panser tersebut batal atau tidak jadi dikirim ke Subang.

Pada waktu itu saya dan rekan wartawati lainnya yakni almarhumah Hana Rohana Suwanda menerima "undangan misterius" untuk menghadiri upacara tersebut. Saat itu kami tidak tahu siapa yang mengundan karena dalam surat undangannya hanya tertulis "Saudari" diajak menghadiri uoacara HUT ABRI.

Adanya undangan tersebut, saya menyampaikan pemberitahuan kepada almarhum Hamzah Ibrahim yang waktu itu menjadi wartawan SKH Harian Karya.

Hamzah Ibrahim tampak terkejut karena sepengetahuan dia tak ada undangan resmi untuk wartawan menghadiri acara HUT ABRI di Subang, Hamzah bahkan menganjurkan agar saya dan Hana tidak pergi menghadirinya karena pengundangnya misterius alias tak dikenal.

Saya bingung karena menurut rekan Hana ia sendiri tidak mungkin menghadiri sendiri undangan tersebut karena tidak ada teman. Waktu itu Hana Rohana sebagai wartawan SKH Sipatahunan dan saya wartawan Mingguan Harapan dari kantor Dinas Penerangan Kodam VI Siliwangi (Kini Kodam III).

Ihwal siapa yang mengundang menghadori upacara HUT ABRI di Subang yang misterius itu. Rupanya ada skenario di belakang itu. Entah dari kelompok yang menamakan diri G-30-S/PKI yang akan menjebak kami di Subang.

Dan ini logis, sebab rencana ber-HUT di Subang telah dilakukan jauh-jauh hari, dan rupanya akan dijadikan momentum oleh mereka. Setelah memproklamirkan diri G-30-S tanggal 30 september, aksi akan berlanjut di Hari ABRI, termasuk di Subang.

Alkhamdulilah atas saran Bung Hamzah yang belakangan menjadi suami, saya dan Hana selamat dari peristiwa yang mungkin saja bisa mencelakakan karena Kab. Subang yang saat itu merupakan Baskom (Basis Komunis).

Buktinya,sejak meletusnya G 30 S PKI maka Kabupaten Subang dibersihkan dari Anasir PKI. Entah berapa orang yang diamankan.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Gegara Sampah, Sebuah Rumah dan Tempat Kost di Cipamokolan Kota Bandung Terbakar Hebat
Merokok Membunuhmu, Menguntungkan bagi Sang Dewan
Waduh, Fondasi Jembatan Cisangkuy Pangalengan Menuju Dodik Secata Rindam III/Siliwangi Bergeser
Hadiri Peringatan HUT ke-81 TNI di Makodam III/Siliwangi, Ini Kata Wakapolda Jabar
Diguncang Gempa "Swarm" 118 Kali, Penduduk Takut "Kiamat Bandung"