Ormas Islam Jabar Bahas Isu Haramain, Serukan Tabayun dan Diplomasi

Foto: One
Dialog keumatan yang digelar Aliansi Nasional Anti Syi’ah (ANNAS) di Gedung Dakwah ANNAS, Jalan Martanegara, Kota Bandung, Kamis (8/10/2026).
BANDUNG, KejakimpolNews.com — Isu keamanan dua kota suci Makkah dan Madinah menjadi perhatian sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam di Jawa Barat. Mereka mendorong agar perkembangan konflik di Timur Tengah disikapi secara hati-hati, melalui jalur diplomasi dan tabayun, serta tidak berkembang menjadi provokasi di tengah masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam dialog keumatan yang digelar Aliansi Nasional Anti Syi’ah (ANNAS) di Gedung Dakwah ANNAS, Jalan Martanegara, Kota Bandung, Kamis (8/10/2026).
Pertemuan tersebut membahas laporan mengenai dugaan serangan terhadap fasilitas kelistrikan yang berkaitan dengan pasokan listrik Masjid Nabawi di Madinah. ANNAS kemudian menyampaikan pernyataan sikap yang ditandatangani Ketua Umum ANNAS KH Athian Ali M. Da’i dan Sekretaris Umum Tardjono Abu Muas.
ANNAS menegaskan bahwa keamanan fasilitas pendukung kegiatan ibadah di kawasan Masjid Nabawi perlu dijaga. Makkah dan Madinah juga disebut harus tetap dihormati sebagai dua kota suci umat Islam.
Di sisi lain, ANNAS mendorong pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengambil langkah diplomatik untuk ikut mendorong stabilitas dan meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Pesan serupa disampaikan Dr. Yudi Kristanto, M.Pd. atau Cep Yudi yang hadir mewakili Komnas Anti Pemurtadan. Menurut dia, ancaman terhadap fasilitas sipil, terlebih yang berkaitan dengan pelayanan ibadah di Masjid Nabawi, perlu mendapat perhatian.
“Kesucian dan stabilitas keamanan di Dua Kota Suci (Haramain) wajib dijaga dan dihormati oleh pihak mana pun tanpa terkecuali,” ujar Cep Yudi.
Namun, ia mengingatkan agar respons terhadap isu tersebut tidak dibangun berdasarkan informasi yang belum terverifikasi. Menurutnya, tabayun diperlukan agar persoalan geopolitik tidak berubah menjadi sumber perpecahan di tengah umat.
Cep Yudi juga mendorong pemerintah mengoptimalkan diplomasi internasional untuk ikut menciptakan stabilitas kawasan dan mencegah konflik berkembang lebih luas.
Forum tersebut dihadiri sejumlah unsur organisasi Islam di Jawa Barat, di antaranya perwakilan Muhammadiyah Jawa Barat, Harakah BAKOMUBIN Jawa Barat, Komnas Anti Pemurtadan, Korps Dai Bandung, Al-Irsyad Al-Islamiyyah dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
Perwakilan DPW Harakah BAKOMUBIN Jawa Barat, Drs. KH Marsa Suraka dan Ocid Sutarsa, turut hadir dalam dialog tersebut.
Selain membahas isu Timur Tengah, pertemuan berkembang pada persoalan keumatan di Jawa Barat. Sejumlah isu yang dibicarakan antara lain persoalan rumah ibadah, masalah sosial, pencegahan berbagai bentuk kemaksiatan serta perlunya komunikasi yang lebih intensif antarpimpinan organisasi Islam.
Cep Yudi mengusulkan agar forum komunikasi lintas ormas Islam tidak berhenti pada pertemuan sesaat. Dialog serupa dinilai perlu dilakukan secara rutin agar berbagai persoalan umat dapat dibahas bersama dan dicari penyelesaiannya secara proporsional.
Bagi para peserta, isu Haramain menjadi pintu masuk untuk memperkuat komunikasi antarelemen umat. Kepedulian terhadap perkembangan global dinilai tetap perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga ketenangan masyarakat di tingkat lokal.
Pesan yang mengemuka dari Bandung pun tidak hanya menyangkut sikap terhadap konflik Timur Tengah, tetapi juga pentingnya menjaga ukhuwah, melakukan verifikasi informasi dan mengedepankan jalur damai dalam menyikapi persoalan keumatan.**
Author: One
Editor: Maman Suparman