Tirakatan Laku Mistikal Spiritual Ala Kejawen

Foto : Istimewa
Suharto dan Bu Tien.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SAAT menerima Super Semar (Surat Perintah Sebelas Maret) sesungguhnya menurut keyakinan para penganut kejawen, saat itu "Wangsit Keprabon" sudah berada di tangan daripada Suharto.
Dengan senjata Itu ia meluncur ke atas bagai sputnik. Tak hanya menjadi presiden dan berkuasa penuh. Karier militernya juga melonjak membuat banyak orang melongo. Hok cay, melohok sambil ngacay. Gak ngerti rumusnya.
Tanggal 2 Oktober 1997 ia dinobatkan sebagai Jendral Besar dengan lima bintang di pundaknya..
Loh kok bisa-bisanya?.
Ada dasar hukumnya?.
Pertama bermula dari Peraturan Pemerintah (PP) nomor 32 tahun. PP itu mengatur pemberian pangkat istimewa kepada orang yang dianggap berjasa dalam perang di masa lalu. Suharto Itu terlibat dalam berbagai peristiwa heroik di antaranya:
- Serangan Umum 2 Maret 1949 yang membuat tentara Belanda ketar ketir.
- Operasi Mandala dalam kaitan pembebasan Irian Barat (Papua Barat).
- Pemberantasan G 30S PKI
Daripada PP itu Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung membuat keputusan memberi pangkat kehormatan kepada Jendral Suharto.
Kepada wartawan Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung mengatakan pemberian pangkat itu bukan kerena presiden.
Yang pasti sejak hari ABRI 5 Oktober 1997 Suharto mengunakan tanda pangkat bintang lima. Dengan demikian ada tiga orang tentara Indonesia yang menyandang gelar jenderal besar, selain Jenderal Besar Suharto, juga A.H. Nasution dan Sudirman.
Tapi jangan khawatir ke depan tidak bakal ada lagi orang mendapatkan pangkat kehormatan Itu. PP 32 yang dibuat dan ditandatangani oleh Presiden kedua RI, Suharto telah dibatalkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan PP No 37 tshun 2010.
Mistikal Spiritual Kejawen
Semua orang tahu bahwa Suharto adalah salah seorang penganut kebatinan ala kejawen. Miturut analisis pelaku kejawen, tirakat adalah laku spiritual sebagian besar orang Jawa. Tirakat adalah laku spiritual yaitu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu.
Laku spiritual Itu bisa dilakukan di rumah atau di tempat keramat. Dalam buku Mistik Kejawen, Suwardi Endraswara (2006) menyebut jika tirakat itu dilakukan di rumah biasanya berupa tapa ngebleng tiga hari tiga malam berdiam diri di dalam kamar.
Dengan melakukan hal itu mereka yakin setelah itu akan mendapat anugerah. Mereka memercayai bahwa para pelaku ekonomi dagangnya akan berkembang, atau petani akan sukses panennya.
Mereka biasanya berpuasa sehari semalam atau sehari saja. Cara demikian banyak disukai kerena ringan melaksanakannya
Yang dilakukan di tempat-tempat keramat di makam atau petilasan tujuannya untuk ngalap berkah. Di tempat tempat itu mereka semedi sambil menghubungkan batin dengan yang di atas. Biasa juga dibantu guru atau orang yang lebih tua. Ibu Tien Suharto telah mengantarkan sang suami kepada anugerah itu
Apabila dilepaskan bisa jadi Suharto tidak mendapatkan apa-apa. Memang Suharto sendiri biasa tirakat. Puasa Senin Kamis, dan tiga hari menjelang hari kelahiran, pada hari kelahiran dsn satu hari setelahnya. Sementara hubungan batin dengan Tuhan tetap dijaga.
Orang Jawa penganut mistikal kejawen sangat manut pada apa yang disampaikan Pangeran Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama bahwa ilmu itu kelakone kanthi laku (ilmu Itu harus dicari. Mistikal kejawen itu yang terus dipegang dan dilakukan ibu Tien Suharto dan Suharto sendiri. Puncaknya Suharto jadi presiden dan ibu Tien Suharto menjadi ibu negara yang berkuasa dan dihormati.**
