Dadan Susandi, Spesialis Kandungan Raih Gelar Doktor FK Unpad

Imam Wahyudi
Dr.dr. Dadan Susandi menerima sertifikat kelulusan gelar Doktor ilmu Kedokteran.
BANDUNG, KejakimpolNews.com -- Dokter Dadan Susandi (58) resmi menyandang gelar Doktor bidang Ilmu Kedokteran, Senin, 13 Juli 2026 kemarin menjadi hari bersejarah bagi dedikasi dan pengabdiannya dalam kesehatan.
Dokter spesialis kandungan ini dinyatakan lulus, dengan predikat Sangat Memuaskan -- setelah sidang promosi gelar Doktor (S-3) pada Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad). Berlangsung di Gedung Koeswadji FK Unpad, Jl. Prof. Eyckman Bandung.
Promovendus berhasil pertahankan desertasi bertajuk "Hubungan Pemendekan Telomer dan Ekspresi p21 pada Trofoblas Plasenta dengan Kasus Preeklamsi Berat Awitan Lanjut dan Pertumbuhan Janin Terhambat".
Pencapaian luar biasa di dunia akademik kesehatan, kembali tercipta. Dengan abstraksi desertasi setebal 90 halaman, promovendus dr. Dadan mampu meyakinkan tim pembahas. Adalah kuartet Prof. Dr. Adhi Pribadi, dr., SpOG, Subsp.KFm, F.MAS; Dr. Med. Muhammad Hasan Bashori, dr., M.Kes; Dr.rer.nat. Savira Ekawadhani, MSi; dan Prof. Dr. Erry Gumilar Dachlan, dr., SpOG, Subsp.KFm.
Sidang dipimpin Prof. Dr. Vitriana, dr., SpKFR, NM (K) sebagai ketua dan sekretaris, Prof. Edhyana K. Sahiratmadja, dr. Ph.D. Dihadirkan pula Gurubesar Representatif, Prof. Dr. Yudi Mulyana Hidayat, dr., SpOG, Subsp.Onk, DMAS. Adalah wakil resmi Senat Universitas Padjadjaran yang bertugas mengawasi dan memastikan standar akademik tinggi hingga sahnya gelar doktor kepada kandidat. Tak kecuali berlaku wibawa Rektor Unpad, Prof. Arief Sjamsulaksana Kartasasmita, dr., SpM(K), M.Kes, PhD.
Promovendus dr. Dadan yang kelahiran Sumedang, 03 Mei 1968 mengulas latar riset yang menjadi bagian desertasinya. Bahwa preeklamsi adalah penyakit hipertensi pada wanita hamil yang ditandai dengan atau tanpa adanya proteinuria. Adalah kondisi ketika urine yang mengandung jumlah protein berlebih. Utamanya setelah usia kehamilan 20 minggu.
"Penyakit plasenta ini menjadi penyebab utama mortalitas pada maternal dan neonatus hingga persalinan prematur," kata promovendus, sambil menambahkan, bahwa Indonesia memiliki rasio tertinggi di Asia Tenggara.
**
Kepala Kelompok Staf Medis (KSM) Obstetri & Ginekologi di RSDU dr. Slamet, Garut sejak 2017 ini juga memberi pandangan aspek teoritis dari kegunaan riset. Ia mengharapkan pengayaan pemahaman tentang peran indikator henti tumbuh sel plasenta, dengan pemendekan telomer dan ekspresi p21 pada preeklamasi awitan lanjut dan janin terhambat. Sedang sisi praktis, dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan dalam pengembangan biomolekuler gangguan fungsi plasenta.
Dadan menyimpulkan, hasil penelitiannya menunjukkan adanya asosiasi indikator henti tumbuh plasenta -- berupa panjang telomer dan ekspresi p21 dengan Preeklamsi awitan lanjut dan pertumbuhan janin terhambat (PJT).
Tak melulu melakoni profesi dokter spesialis kandungan yang dikenal luas di Kabupaten Garut. Ia juga berbagi ilmu sebagai dosen pendidikan di FK Unpad dan Unisba. Usai tamat SMA (1986):di kota kelahirannya, Sumedang -- ia langsung menempuh pendidikan S1 FK Unpad, lulus 1992. Lanjut program spesialis pertama (1998 - 2001) dan Sp2 pada spasi 2018 - 2022. Semua itu ditempuh di FK Unpad, almamater tercinta -- bagai "kawah candradimuka" bagi sosok Dadan yang senantiasa humanis.
Dalam konteks penelitian untuk capaian doktoral, Dadan meyakinkan -- bahwa layanan kesehatan yang efektif, sinambung dan berorientasi pada peningkatan derajat kesehatan -- hanya dapat diwujudkan melalui keseimbangan dan integrasi empat pilar utama. Promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Pun narasi inspiratif, bahwa tak ada batas usia bagi pencari ilmu. "Selagi akal masih hidup, hati masih penasaran dan jiwa masih bertanya -- bahkan di usia senja -- maka setiap detik adalah waktu yang sah untuk belajar."
Haus akan ilmu kedokteran, dr. Dadan kembali mengendap-ngendap ke tahap studi program doktoral. Praktis sejak 2022, bak "sambil menyelam minum air"' -- menyandang kandidat Dokter dan telaten dalam gerak penelitian. Kini, sejak 13 Juli 2026 -- gelar Doktor kian memanjangkan sebutan namanya. Membanggakan. Selamat, sang Doktor.**
Editor: imam wahyudi (iW)
(jurnalis senior, anggota PWI Pusat)
