Suharto Sejatinya Tentara, dari Bintara hingga Jendral Bintang Lima

Foto : Istimewa
Suharto Jenderal Besar Bintang Lima.
Oleh DEDI ASIKIN
(Reporter Senior)
SEJATINYA Suharto Itu bukan tentara. Saya punya catanat persatisi anak petani miskin dari desa Kemusuk itu.
Pada awal tahun 1947, dengan pangkat letnan kolonel, ia diangkat sebagai komandan Resimen Yogyakarta ke-22. Tugas utamanya adalah melindungi keselamatan dan keamanan Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan anggota keluarganya. Pada saat itu, pemerintah Republik Indonesia sedang bermigrasi ke Yogyakarta untuk menghindari agresi militer Belanda yang terjadi sejak tahun 1947.
Catatan sejarah peresanaan karir Soeharto :
- Pada tahun 1948 terjadi pemberontakan PKI dibawah pimpinan Muso di Madiun.
- Soeharto meminta Jenderal Sudirman membantu menyelesaikan pemberontakan Itu.
- Desember 1948, Belanda melancarkan serangan militer kedua.
- Soeharto kembali mebela Yogyakarta dari agresi.
- Pada tanggal 23 Januari 1949, lahirlah putri pertama yang diberi nama Siti Hardiyanti Astuti (Mbak Tutut).
- Soeharto baru bertemu putrinya saat berusia 3 bulan.
- Sebelumnya, 7 Januari 1949 ayah tirinya Atmo Prawiro tewas tertembak atau speritat Belanda dalam sebuah oprasi penyisiran kota Yogyakarta dan sekitarnya. Saat itu, Soeharto sedang mencari Belanda
- Pada tanggal 1 Maret 1949, terjadi serangan umum yang menghancurkan tentara Belanda dan menunjukkan bahwa Republik Indonesia tidak memiliki kekuatan persenjataan yang memadai. Serangan yang direncanakan oleh Suharto disetujui oleh Jenderal Sudirman dengan peringatan untuk mencegah pertumpahan darah di kalangan masyarakat sipil.
- Pada tanggal 7 Mei 1949, terjadi konflik bersenjata sebagai akibat dari pertemuan Room Van Royen. Dalam kesepakatan tersebut, Itu Belanda menghentikan agresi dan membebaskan para pemimpin RI.
- Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta sedang dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta ke Jakarta, sebelum Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Denhaag, Negeri Belanda.
- Tanggal 27 Desember ditandatangani penyerahan Kedaulatan dari Belanda ke Indonesia atas Jawa dan Madura, sedangkan Irian Barat dan Kalimantan akan diserahkan kepada KMB.
Suharto kembali ke Yogyakarta setelah setahun bertugas sebagai Komandan Sektor Makassar. Wilayah tugas Komandan Resimen ke-22 diperluas dengan wilayah distrik Kebumen dan Purworejo.
- Pada tanggal 1 Mei 1951, putra kedua lahir dan diberi nama Sigit Harjo Yudanto. Penulis buku Riwayat Suharto, jurnalis Australia Robert Edward Wilson, menceritakan kisah kedua anaknya.
- Tanggal 1 Maret 1953 Soeharto diangkat menjadi komandan Resimen Infantri ke-15 di Solo. Tugas itu lebih berat karena Solo sudah tertular paham komunisme. Untuk antisipasi Suharto melakukan upaya meningkatkan kemampuan tempur suakan lewat latihan latihan.
- Pada tanggal 1 Maret 1953, Suharto diangkat menjadi Kepala Staf Divisi Diponegoro di Semarang.
Sebelumnya, ia dipanggil ke Jakarta untuk mempersiapkan pembentukan Divisi Cadangan Umum Angkatan Darat (Caduad).
- Lahir pada 23 Januari 1953 dari Bambang Tri Hatmojo. Pada saat itu, selain melatih Suharto, Suharto mulai memikirkan pencarian calon tentara. Ibu Tien membantu membuat dan menjual Batik Solo dan banyak pakaian lainnya dari pabrik dengan diskon besar untuk tentara dan keluarga mereka.
- Pada 1 Januari 1957, Suharto dipromosikan menjadi kolonel dengan posisi Panglima Divisi Diponegoro. Namun, Suharto masih kecewa karena tidak ikut pelatihan di Amerika Serikat seperti 200 pekerja berpangkat tinggi lainnya. Suharto tidak pernah berniat kembali sebagai tentara seratus orang. Lebih baik bekerja di sektor swasta. Kalau mau jadi sopir taksi, ya kerjakan saja. Untung niatnya itu keburu dicegah ibu Tien.
“Jadi tentara lebih baik dari supir taksi,” cegah sang perempuan yang masih mengaku bangga tentara perempuan jai.
Sebagai Panglima Divisi Suharto mulai serius mencari upaya untuk kesejahteraan prajurit dan masyarakat sipil Jawa Tengah yang masih masih ang lang ungizuri.
- 14 April 1959 lahir anak keempat Siti Hediati Heriyadi (Mbak Titik Suharto). Selan gebira sebagai bapak dan kepala keluang, kekuasaan sebagai divisi panglima pun semakin kuat
- Pada tanggal 5 Juli 1959, Keputusan Presiden disahkan untuk kembali ke UUD 1945.
- Pada tanggal 1 November 1959, Soeharto masuk Sesakoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) di Bandung. Pada akhir tahun 1960, ia lulus dengan predikat penghargaan tertinggi.
- Pada tahun 1961, Soeharto menjadi Panglima Divisi Cadangan Jenderal Angkatan Darat yang baru dibentuk sebagai persiapan Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad).
- 15 Juli 1962 lahirlah Hutomo Mandala Putra (Tommy) Pemberian nama.
- Saat memimpin Operasi Mandala Itu, karena jabatannya menjadi Wali Kota Jenderal.
- Pada 23 Januari 1962, Suharto diangkat sebagai Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Indonesia.
- Pada 15 Agustus 1962, tercapai kesepakatan antara Indonesia dan Belanda yang memungkinkan PBB membentuk UNTEA (Badan Eksekutif Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa), yang merupakan pemerintahan sementara PBB di Iran Barat.
- 6 Mei 1963 Suharto dan beberapa temannya menerima hadiah atas keberhasilan Operasi Mandala
- Pada tanggal 23 Agustus 1964, ia melahirkan seorang putri yang diberi nama Siti Hutami Endang Diningsih (Mamiek).
Lengkalah 8 orang menjadi keluarga Cendana.
- Serangan agama 30 September 1965, peristiwa berdarah yang dikenal dengan G-30-S/PKI. Perang Soeharto melawan penculikan dan terbunuhnya tujuh jenderal dAn satu perwira pertama itu didalangi oleh PKI, karena keesokan paginya setelah mengambil alih kepemimpinan Angkatan Darat, Soeharto melaksanakan Operasi Sapu Jagat. Tim RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo berhasil menguasai kembali Jakarta termasuk menyelamatkan Bung Karno dari tangan pemberontak dalam waktu 20 menit.
- 11 Maret 1966 Soeharto mendapat perintah pada 11 Maret (Supersemar) untuk mengambil tindakan perlindungan
- 12 Maret, Soeharto segera membubarkan PKI dan organisasi terkait. Ketiga penyerang tersebut kemudian menangkap 15 menteri pemerintahan Sukarno; Mereka adalah: R Subandrio Menlu dan Wapererdam I, Chaerul Saleh Waperdam III, Achadi Menteri Koperasi dsn Transmigrasi, Setiadi Reksoprojo Mentri muda PTIP, Mayjen Achnadi Menteri Penerangan, Ir Surahman Menteri Irigasi dan Pembangunan Masyarakat, Oey Cut Tat SH Menteri Negara, Teku Yusuf Muda Dalam Menteri Urusan Bank Sentral, Armanto Menteri Pertambangan, dan Sumarno Sastro Atmojo Menteri Dalam Negeri.
- Pada tanggal 27 Maret 1968, Suharto diangkat oleh MPRS sebagai Presiden Republik Indonesia kedua, menggantikan Bung Karno.
Inilah titik awal Suharto, puncak kekuasaan yang dipegangnya selama 31 tahun dan 71 serangan.**
*) Dari berbagai sumber
