Andai Mereka Tidak Berjodoh

Foto : Istimewa
Pak Harto dan Bu Tien saat masih muda.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
BOLEH dong kita berandai-andai. Andai begini andai begitu, ada sesuatu yang perlu didoakan. Apalagi saya prihatin dengan hubungan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah binti Kanjeng Raden Haryo Sumo Haryono.
Arwan Tuti Artha dalam perayaan "Bu Tien Wangsit Keprabon". Suharto menampilkan periode itu sangat fenomenal. Menurut penulis buku "Dunia Spiritual Suharto", awalnya saya mengagumi Suharto sebagai seorang pemuda tampan yang berhenti berjalan dalam mimpi.
Sebagai perempuan Tien Suhartinah memimpikan laki laki bukan hanya suami tapi juga kudamaan. Suharto saat mempersunting dirsya baru berusia 26 tahun namun sudah berpangkat letnan kolonel dan menjabat komandan 22 Yogyakarta dimana Presiden Sukarno sial Wakil Presiden Mohammad Hatta serta keluarga tinggal disana dalam rangka megudari agresi militare Belanda.
Pada tahun 1940, Suharto lulus dari Bintara KNIL di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Dalam 7 tahun terakhir, ia telah menjadi seorang pria paruh baya dengan pekerjaan bergengsi sebagai penanggung jawab keamanan dan pengawal presiden dan wakil presiden.
Sebagai tuttokan/pejuang Palang Red Indonesia ibu Tien tahu semua itu dan ikut bangga. Di sisi lain, Soeharto yang merasa dirinya hanya anak petani miskin asal Desa Kemusuk tidak menganggap putri Wuryantoro Itu menerima perintahnya.
Suharto sendiri tidak ingin segera menikah. Bibinya Itu meminta bantuan dari Haryana atau Bongkek untuk mengatur pertemuan dengan keluarga Sumo Haryono (orang Tua Siti Hartinah) agar putranya dapat dinikahkan dengan Siti Hartinah.
Napataya niat Itu milimit dengan baik dan planatan metupatan ngali ngantoni (melamar)! pada pertengahan tahun 1947. Yang terjadi adalah proses perjodohan yang diatur Allah dari Lauhul Mahfuz.
Pertemuan keuda keluarga itu berjalan cepat dan cepat. Selain nontoni juga menyetujui pernikahan pada tanggal 26 Desember 1947. Masih menurut penulis buku itu, andaikata merak tidak berjodoh, sangat myak karir militar Suharto akan mentok paling tinggi manjadi brigadir gendral (bintang satu).
Antara tahun 1956-1959, ada lebih dari 200 siswa SMA yang dikirim ke Amerika Serikat untuk pelatihan. Memang Suharto sudah berniat mau terjun ke militer. Ibu Tien-lah yang mencegahku mengatakan bahwa menjadi tentara adalah pilihan yang tepat dan membanggakan diri.
Ternyata, pada tahun 1961 Suharto diangkat sebagai Panglima Kostrad pertama dengan pangkat mayor jenderal. Terbukti lagi kemudian "Wangsit Keprabon" masih melekat pada anak petani miskin itu.
Pada tahun 1968, MPRS diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia kedua, menggantikan Bung Karno sebagai presiden pertama Republik Indonesia.
Jika tidak ada "Wangsit Keprabon", kemungkinan Surat Perintah Sebelas Maret (Super Semar) akan jatuh ke tangan Jenderal Abdul Haris Nasution, yang saat itu diangkat sebagai Panglima ABRI dan Menteri Pertahanan. Jika Anda tidak memberi tahu saya tentang hal itu. Harus dipercaya, semoga Allah memberkati. Masa lalu adalah hak prerogatif Allah SWT.**
