Motah Mampu Olah 4 Ton Sampah Per Hari, Percepat Penanganan Sampah Sungai di Bandung

Motah Mesin Olah Runtah yang terus bekletja untuk menangguilangi sampah, khususnya dari sungai.
BANDUNG, KejakimpolNews.com — Pemerintah Kota Bandung terus menunjukkan komitmennya dalam mengatasi persoalan sampah, khususnya sampah dari hasil pengerukan sungai yang volumenya kian meningkat setiap tahun
Upaya ini dilakukan untuk menjaga kelancaran aliran sungai sekaligus mencegah risiko banjir saat musim hujan.
Salah satu langkah strategis yang kini diterapkan adalah pemanfaatan Mesin Olah Runtah (Motah-19) sebagai inovasi teknologi pengolahan sampah berbasis efisiensi dan ramah lingkungan.
Motah-19 dikenal mampu mengolah 2 hingga 4 ton sampah per hari, menjadikannya salah satu teknologi yang cukup efektif dalam mengurangi tumpukan sampah basah maupun padat yang berasal dari proses pengerukan sungai.
Keberadaan mesin ini menjadi jawaban atas kebutuhan pengolahan cepat dan tepat, sehingga sampah tidak terlalu lama menumpuk di lokasi penampungan sementara.
Mesin tersebut saat ini ditempatkan di Tempat Pengolahan Sampah dengan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) DSDABM Kota Bandung, yang berlokasi di Kelurahan Cisaranten Wetan, Kecamatan Cinambo.
Di lokasi ini, sampah yang sebelumnya sulit ditangani kini dapat diolah dengan lebih terstruktur, mulai dari pemilahan, pencacahan, hingga proses pengurangan volume agar siap didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.
Camat Cinambo, Hakim Satya Budhi, memberikan apresiasi penuh terhadap langkah inovatif ini. Ia menilai penggunaan Motah-19 bukan hanya membantu mengurangi beban volume sampah, tetapi juga meningkatkan efisiensi kerja petugas di lapangan.
“Teknologi ini sangat membantu kami dalam mempercepat proses penanganan sampah, khususnya yang berasal dari pengerukan sungai. Harapan kami, inovasi seperti ini bisa diperluas ke wilayah lain agar penanganan sampah di Bandung semakin optimal,” ujarnya.
Hakim juga menambahkan bahwa kehadiran teknologi pengolahan sampah di wilayah Cinambo merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas lingkungan dan kebersihan kota.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar pengelolaan sampah dapat berjalan konsisten dan berkelanjutan.
Sementara itu, salah satu pengolah sampah di TPS3R Cisaranten Wetan, Ahmad, mengaku penggunaan MOTAH-19 memberikan perubahan signifikan dalam alur kerja pengolahan sampah.
“Dulu sampah dari sungai cepat sekali menumpuk, dan prosesnya memakan waktu lama. Sekarang, dengan mesin ini, pekerjaan jadi lebih ringan dan cepat. Sampah yang tadinya terlihat tidak ada nilainya pun bisa dipilah dan sebagian dimanfaatkan kembali,” ungkapnya.
Ia berharap keberadaan teknologi seperti MOTAH-19 dapat terus ditingkatkan baik dari jumlah mesin maupun kapasitasnya, sehingga Bandung bisa semakin bebas dari permasalahan sampah yang selama ini menjadi tantangan utama kota besar.
Pemerintah pun menegaskan bahwa inovasi ini akan terus dikembangkan sebagai bagian dari komitmen mewujudkan kota yang bersih dan sehat.**
Author: Sonni Hadi
Editor: Sonni Hadi
