Senandung Bandung Tempo Dulu (Bagian 1)

Yayan Sofyan
Jalan Kiaracondong kini ada flyover di bawahnya kumuh dan semrawut berbeda dengan tempo doeloe.
Oleh HARI SINASTRIO
(PemerhatI Sosial)
TAK terasa Kota Bandung akan memasuki usia yang ke 216. Tepatnya tanggal 25 September 2026. Kota Bandung didirikan pada tahun 1810. Dan yang menjabat Bupati pertama R.A Wiranatakusumah II. Yang dulunya pusat pemerintahan di Dayeuh Kolot sebelum dipindah ke Kota Bandung.
Saya yang besar kecil di Bandung, walaupun leluhur asli Solo, sedaerah dengan mantan Presiden Jokowi. Apapun ceritanya, apapun masakannya. Kita ucapkan terima kasih pada mantan Presiden Jokowi dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Orang bijak bilang "tidak ada gading yang tak retak" tidak ada manusia yang sempurna. Yang ada hanya rokok sampurna. Mikul duwur mendhem jero begitulah pepatah jawa.
Sebagai orang Bandung asli walaupun keturunan jawa. Saya mencoba menulis tentang Kota Bandung tempo dulu versi Hari Sinastrio. Hehe... ,( walau tak sehebat Haryoto Kunto, kuncen Bandung )
Saya termasuk golongan perusahaan pita rekaman Remaco yang artinya remaja kolot. Hehe...
Orang sekarang mungkin ada yang tidak tahu dan sedikit ngahuleng apa itu Remaco? Remaco adalah tempat rekaman grup musik atau penyanyi terkenal kala itu. Grup musik Koes Plus, The Mercys, Panbers, Bimbo, sudah pasti mengeluarkan Album dengan lebel Remaco.
Makana diplesetkan,"Maneh mah Remaco remaja kolot". Jadi sangat hapal wajah Bandung tempo dulu, sekitar tahun 70-an. Karena waktu SD, saya termasuk golongan jarambah tukang ulin. Suka diajak kakak saya ngurilingan Kota Bandung make sepedah merk Phoenix Da baheula jarang nu boga motor.
Dulu mah sepeda juga dipajak, istilah dulu mah dipeneng. Jadi kalau ada razia sepeda, mun sudah ditempelan peneng aman.
Bapak Almarhum, yang pensiunan "tangtara" dengan pangkat terakhir setingkat kolonel pasti berpindah-pindah tempat (maklum tangtara) sampai akhirnya pensiun di Bandung.
Walaupun saya anak kolong, begitu orang nyebut bila anak tentara. Tetapi saya tidak belagu kaya orang kebanyakan (naon nu rek dipake sombong) biasanya waktu dulu mun anak tentara sok lalegeg. Apalagi anak seorang perwira. Karena dulu saya tinggal di jalan Nias rumah dinas TNI. Sebelum akhirnya tinggal di PSM.
Waktu SMA, ada teman saya yang anak tentara mamawa pistol ka sakola, dengan tujuan gagayaan. Kapanggih nu jadi urusan tetap we kolotna.
Menyambut hari jadi Kota Bandung yang ke 216, saya mencoba bernostalgila eh nostalgia tentang Kota Bandung, kita mulai di daerah saya tinggal dulu, Kiaracondong.
Kenapa Kiaracondong, karena dulu Kiaracondong terutama Pasarnya daerah yang resik dan teratur. Seperti sekarang mana toko mana yang PKL tidak membedakan. Ada desas desus konon kabarnya PKL di seputar Kiaracondong akan ditertibkan. Trotoar akan difungsikan untuk pejalan kaki, teu bisa dipake jang dagang deui. Drainase akan dipulihkan. Kalau itu terjadi saya bisa bernostalgia melihat Kiaracondong tempo dulu. Seperti halnya daerah Cicadas pangling seperti Cicadas tempo dulu.
Menurut "asbabul nujul" kata Kiaracondong diambil dari nama pohon, yang namanya pohon Kiara. Dulu di sepanjang sungai di Kiaracondong banyak ditumbuhi pohon Kiara. Ada salah satu pohon yang unik pohon Kiara yang nyondong ke sungai. Karena keunikan, akhirnya jalan tersebut dinamai Kiaracondong yang sekarang Jalan Ibrahim Adjie.
Terus ada daerah Kebon Gedang yang dulunya di daerah itu banyak pohon Gedang ( pepaya).
Ada juga Warung Jambu, yang sekitar tahun 1970 an, banyak yang berjualan jambu batu, di warung-warung makana disebut Warung Jambu. Dulu tahun 1980 an. di sekitar Jalan Warung Jambu (Warjam) adalah Las Vegas- nya Kiaracondong.
Sebelum judi dilarang daerah Warjam terkenal karena daerah belingnya, perjudian semarak di jalan itu. Dari lotre endog asin sampe unyeng dan dadu ada disana. Bahkan "ngadu muncang" pun ada. Orang akan malu kalau menyebutkan rumahnya di Warung Jambu. pokokna dicap goreng we.
Tawuran kerap terjadi kala itu antarbarudak warjam (warung jambu) dengan Zamop (jambatan opat). Dulu tawuran ngga ada harus "kobam" atau mabok dulu. Murni tempur bukan karena alkohol. Damainya kala itu, ternyata antara barudak warjam dan barudak Zamop ternyata ada yang bersaudara. Akhirnya saling memaafkan. Damai we sampai sekarang.
Di daerah warjam ada sekolah legendaris yang sekarang bernama SDN Warung Jambu, mungkin berdiri sekitar tahun 1960 an kalau dulu bernama SD Kiaracondong.
Kebon Jayanti, sebagian orang tidak tahu bahwa dulunya kenapa dinamai Kebon Jayanti karena banyak pohon Jayanti. Sekarang pohon Jayanti tinggal namanya Kebon Jayanti. Pohon Jayantina mah duka kamana.
Bersambung
