Kuningan Berusia 528 Tahun di Mata Presiden Sandal Jepit, Melesat ke Mana?

foto

Foto: Whyr

Asep Dheny Presiden Sendal Jepit mempertanyakan Kuningan melesat kemana?

KUNINGAN, KejakimpolNews.com — Hari Jadi Kuningan ke-528 bukan hanya momentum untuk merayakan bertambahnya usia, tetapi juga kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat jejak perjalanan, dan bertanya: Kuningan sedang melangkah ke mana?

Demikian dikemukakan Asep Dheny, perupa legendaris yang dikenal sebagai Presiden Sandal Jepit, saat diminta komentarnya terkait Hari Jadi Ke 528 Kabupaten Kuningan, Minggu (6/9/206).

Dalam perspektif Republik Sandal Jepit, tema “Melesat Ngudag Jaman, Ngakar Kuat Purwadaksi” , kata Asep Dheny menyimpan pesan penting. Melesat berarti berani bergerak mengikuti perubahan zaman. Namun, kecepatan tanpa arah bukanlah kemajuan. Sebab, melesat terlalu cepat pun bisa membuat kita lupa ke mana sebenarnya hendak menuju.

"Sandal jepit menjadi metafora sederhana. Ia murah, merakyat dan sering dianggap sepele, tetapi justru menjadi salah satu benda yang paling setia menemani perjalanan. Ia bersentuhan langsung dengan tanah, merasakan panas, dingin, becek dan kerikil. Ia tahu kondisi jalan karena memang menginjaknya," ucapnya.

Dari sana, Republik Sandal Jepit melihat tiga hal penting: tali sebagai identitas, telapak sebagai rakyat, dan jejak sebagai sejarah. Ketiganya menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh tercerabut dari akar masyarakat dan kebudayaannya.

"Karena itu, pertanyaan 'Kuningan melesat, ke mana?' bukanlah bentuk pesimisme, apalagi penolakan terhadap kemajuan. Sebaliknya, pertanyaan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap arah perjalanan Kuningan," katanya.

Asep Dheny kembali bertanya, "Melesat ke mana? Apakah menuju daerah yang semakin nyaman bagi masyarakatnya? Apakah budaya mendapatkan ruang yang semakin luas? Apakah seniman dan budayawan diposisikan sebagai bagian penting dalam pembangunan?".

"Apakah alam dan lingkungan tetap menjadi warisan yang dijaga? Dan yang paling penting, apakah masyarakat menjadi bagian dari tujuan kemajuan itu sendiri?," kembali ia mempertanyakan.

Bagi Republik Sandal Jepit, “Ngakar Kuat Purwadaksi” tidak cukup berhenti sebagai slogan. Ia harus hadir dalam cara kita memperlakukan sejarah, kebudayaan, lingkungan dan identitas Kuningan.

Kebudayaan bukan sekadar dekorasi ketika perayaan. Seni bukan hanya pengisi panggung. Sejarah bukan sekadar tulisan di buku. Semuanya merupakan bagian dari pijakan yang menentukan ke mana kaki Kuningan melangkah.

Sedikit humor ala Republik Sandal Jepit: kalau mau ngebut, silakan. Tapi sebelum gas, pastikan dulu alamatnya benar. Jangan sampai sandal sudah aus, jalan sudah jauh, ternyata kita salah arah.

Hari Jadi Kuningan, dengan demikian, seharusnya tidak hanya menjadi perayaan tentang masa lalu, tetapi juga ruang untuk mengevaluasi masa kini dan membicarakan masa depan.

"Kuningan boleh melesat. Bahkan harus berani melesat. Tetapi rakyat harus ikut berjalan, budaya tetap menjadi akar, lingkungan tetap menjadi rumah, dan sejarah tetap menjadi pijakan. Sebab perjalanan yang baik bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi ke mana kita menuju dan jejak seperti apa yang kita tinggalkan. Melesat boleh, berpijak jangan lupa. Selamat Hari Jadi Kuningan ke-528," pungkasnya.**

Author: WHJR
Editor: Maman Suparman

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Pemkab Kuningan Studi Tiru ke Pemkab Madiun untuk Menimba Ilmu Alat Penerangan Jalan (APJ)
Pemugaran Tugu Bola Karya Mantan Bupati Aang HS Disesalkan Banyak Pihak
Kemah Bakti Pramuka Pendidikan Kesetaraan Ke-V Bagian Dari Proses Pendidikan Karakter
KDM: Pengembangan Pariwisata di Kuningan Jangan Merusak Gunung Ciremai
Kebakaran TPSA Ciniru Masih Berlangsung Bara Api Masih Tampak, RS Linggarjati Suplai Oksigen dan Masker