Timnas Unggulan Diprediksi Laju, Mungkinkah Masih Ada Kejutan?!

Foto : Istimewa
Piala Dunia 2026, menunggu kejnutan/
Catatan IMAM WAHYUDI (iW)
PIALA Dunia 2026 yang kehilangan pesona, menyusul jumlah gemuk timnas peserta. Berjumlah 48 negara, melampaui tradisi format 32 yang telah berlangsung selama 24 tahun. Format ini berlaku dalam enam edisi, sejak 1998 di Prancis hingga Qatar 2022.
Bengkak jumlah negara peserta memicu daya magnet, karena tingkat persaingan yang tak setara tingkat dunia. Tak cukup heboh seperti hajat sebelumnya. Hajat sepak bola se-jagat empat tahunan, kadung kehilangan greget. Tak seheboh Piala Eropa yang kerap menjanjikan prestasi dan reputasi timnas peserta.
Piala Dunia kali ini, terasa lebih dominan berita seputar eskalasi perang Iran versus duet AS - Israel. Pesona yang tergerus, bahkan sejak publikasi dengan tiga negara tuanrumah penyelenggara, hingga gelaran pembuka. Seolah lewat begitu saja, utamanya bagi peminat di tanah air -- lantaran jam tayang yang bersamaan waktu rehat.
Tak terasa, Piala Dunia 2026 yang digelar di AS, Kanada dan Meksiko -- telah memasuki tahap kedua. Babak "32 besar" dengan sistem gugur. Saatnya, saling menjegal dalam setiap laga. Tak ada pilihan, kecuali tim pemenang yang berhak maju ke babak akan selanjutnya.
Sederet timnas ternama diprediksi lolos ke babak "16 besar" atau perdelapan final. Sebaliknya, bukan tak mungkin di luar prediksi -- bakal terjadi kejutan. Babak 32 dibagi 16 timnas mewakili sayap kiri dan kanan dalam skema pertandingan yang kelak saling berhadapan.
Sayap kiri meliputi Jerman (ranking 10) vs Paraguay (42), Prancis (3) vs Swedia (38), Kanada (31) vs Afrika Selatan (61), Belanda (8) vs Maroko (7), Portugal (5) vs Kroasia (11), Spanyol (2) vs Austria (25), Amerika Serikat (15) vs Bosnia &silakan Herzegovina (63) dan Belgia (9) vs Senegal (16). Di sayap kanan, terdiri dari Brasil (6) vs Jepang (18), Pantai Gading (33) vs Norwegia (30), Meksiko (13) vs Ekuador (24), Inggris (4) vs Kongo (46), Argentina (1) vs Tanjung Verde (67), Australia (27) vs Mesir (29), Swiss (19) vs Aljazair (26), dan Kolombia (14) vs Ghana (73).
Mengacu pada ranking dunia (FIFA), timnas yang berada di posisi lebih atas -- berpeluang lolos babak 32. Terlebih jarak yang jomplang. Adalah Jerman, Prancis, Kanada (sudah kalahkan Afsel 1-0), Belanda, Portugal, Spanyol, AS, dan Belgia. Salah satu persaingan ketat,
***
PIALA Dunia 2026 yang kehilangan pesona, menyusul jumlah gemuk timnas peserta. Berjumlah 48 negara, melampaui tradisi format 32 yang telah berlangsung selama 24 tahun. Format ini berlaku dalam enam edisi, sejak 1998 di Prancis hingga Qatar 2022.
Bengkak jumlah negara peserta memicu daya magnet, karena tingkat persaingan yang tak setara tingkat dunia. Tak cukup heboh seperti hajat sebelumnya. Hajat sepakbola se-jagat empattahunan, kadung kehilangan greget. Tak seheboh Piala Eropa yang kerap menjanjikan timnas peserta dengan prestasi dan reputasi kawasan.
Piala Dunia kali ini, terasa lebih dominan berita seputar eskalasi perang Iran versus duet AS - Israel. Pesona yang tergerus, bahkan sejak publikasi dengan tiga negara tuanrumah penyelenggara, hingga gelaran pembuka. Seolah lewat begitu saja, utamanya bagi peminat di tanah air -- lantaran jam tayang yang bersamaan waktu rehat.
Tak terasa, Piala Dunia 2026 yang digelar di AS, Kanada dan Meksiko -- telah memasuki tahap kedua. Babak "32 besar" dengan sistem gugur. Saatnya, saling menjegal dalam setiap laga. Tak ada pilihan, kecuali tim pemenang yang berhak maju ke babak akan selanjutnya.
Sederet timnas ternama diprediksi lolos ke babak "16 besar" atau perdelapan final. Sebaliknya, bukan tak mungkin di luar prediksi -- bakal terjadi kejutan. Babak 32 dibagi 16 timnas mewakili sayap kiri dan kanan dalam skema pertandingan yang kelak saling berhadapan.
Sayap kiri meliputi Jerman (ranking 10) vs Paraguay (42), Prancis (3) vs Swedia (38), Kanada (31) vs Afrika Selatan (61), Belanda (8) vs Maroko (7), Portugal (5) vs Kroasia (11), Spanyol (2) vs Austria (25), Amerika Serikat (15) vs Bosnia &silakan Herzegovina (63) dan Belgia (9) vs Senegal (16). Di sayap kanan, terdiri dari Brasil (6) vs Jepang (18), Pantai Gading (33) vs Norwegia (30), Meksiko (13) vs Ekuador (24), Inggris (4) vs Kongo (46), Argentina (1) vs Tanjung Verde (67), Australia (27) vs Mesir (29), Swiss (19) vs Aljazair (26), dan Kolombia (14) vs Ghana (73).
Mengacu pada ranking dunia (FIFA), timnas yang berada di posisi lebih atas -- berpeluang lolos babak 32. Terlebih jarak yang jomplang. Adalah Jerman, Prancis, Kanada (sudah kalahkan Afsel 1-0), Belanda, Portugal, Spanyol, AS, dan Belgia. Salah satu persaingan ketat, bakal terjadi antara Belanda dan Maroko yang setara ranking FIFA di posisi 7 dan 8. sayap lain adalah Brasil, Norwegia, Meksiko, Inggris, Argentina, Swiss, dan Kolombia. Namun kalkulasi dan prediksi tak sesederhana itu. Hal sebaliknya, kejutan mungkin saja terjadi.
Bila searah prediksi, maka persaingan ketat baru akan terjadi pada babak perempatfinal mulai pekan depan. Dua favorit, Prancis (3) dan Jerman (10) sudah harus berhadapan di babak "16 besar". Runner-up bertahan, Spanyol diprakirakan bentrok dengan Portugal yang ranking-5 dunia di babak perempatfinal.
Dari sayap kanan, Brasil (6) berpeluang jumpa Inggris (4) di perempatfinal. Sebaliknya, juara bertahan Argentina terbilang kurang persaingan -- selain Kolombia (14). Timnas lain di sektor kanan bawah, terdiri dari penghuni ranking yang berjarak cukup jauh. Sekali lagi, hasil laga tidak semata dinilai dari ranking. Faktor lain, bahkan nonteknis bisa terjadi dan berpengaruh terhadap hasil akhir pertandingan. Justru kejutan itu yang dinanti dan menjanjikan keseruan.**