Spanyol Diprediksi Juara

foto: Instagram
Spanyol berebut jawara dunia dengan Argentina Semin dinihari lusa.
Catatan IMAM WAHYUDI (iW)
TIMNAS Argentina dan Spanyol adalah gengsi dan reputasi antarbenua. Bukan sekadar perebutan trofi Piala Dunia FIFA 2026 dan prize money fantastis sekira Rp 1 Triliun.
Pentas final di Stadio Metlife, New Jersey, AS, Senin esok dinihari -- sebagai pembuktian supremasi sepakbola lintas benua. Zona Eropa lawan Amerika (Latin). Karuan menjadi laga final ideal turnamen se-jagat yang untuk kali pertama melibatkan 48 negara peserta.
Juara Piala Eropa versus juara bertahan Piala Dunia. Keduanya mengusung ambisi, merebut gelar juara secara beruntun. Timnas Spanyol ingin melanjutkan lintasan juara. Menyandingkan gelar juara Eropa 2024 dengan Piala Dunia 2026.
Sementara, timnas Argentina dipastikan bertekad mencetak prestasi back to back. Pemegang rekor 16 trofi Copa America, timnas Negeri Tango -- bertekad pertahankan gelar juara dunia -- yang diraih pada edisi terakhir empat tahun silam di Qatar 2022.
Prestasi dua gelar juara, menjadi kejaran tim matador Spanyol. Siap berjibaku, melanjutkan raihan juara Eropa 2024 dengan ajang Piala Dunia 2026. Mengulang prestasi emas sebagai satu-satunya tim yang tiga kali beruntun menjuarai turnamen mayor. Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan lagi Piala Eropa 2012. Dua gelar juara Piala Eropa sebelumnya, diraih 1964 dan edisi terakhir 2024.
Praktis baru sekali, timnas Spanyol menjuarai Piala Dunia pada 2010 di Afrika Selatan. Sementara, timnas Argentina sudah tiga kali juara dunia. Di bawah raihan rekor Brasil (5 kali) dan Jerman (4). Pada 1978, saat menjadi tuan rumah -- lanjut 1986 di Meksiko dan terakhir Qatar 2022, yang selanjutnya sebagai juara bertahan di ajang Piala Dunia 2026 ini.
**
Timnas Spanyol yang bakal memenangi ajang final atau Argentina mampu pertahankan gelar juara? Tak cukup kalkulasi latar prestasi antarkeduanya. Namun dipastikan, terjadinya duel striker dari dua generasi. Lamine Yamal (18) di barisan depan Spanyol, dan legenda Argentina, Leonel Messi (39).
Keseruan pertandingan bakal terjadi, bila menimbang catatan head to head. Timnas Spanyol dan Argentina sama enam kali menang dari 14 laga. Dua lainnya berakhir imbang. Justru baru sekali berselisih di ajang Piala Dunia 1966 dengan kemenangan Argentina 2-1. Tapi pada "uji coba" 2018, tim matador menyeruduk 6-1.
Penulis memprediksikan, timnas Spanyol bakal unjuk juara Piala Dunia 2026. Setidaknya, menimbang jejak tujuh laga yang dimainkan -- sebelum babak final nanti. Gawang Spanyol cuma kebobolan satu gol, saat kalahkan Belgia 2-1 pada perempatfinal. Enam lainnya clean sheet. Lawan Tanjung Verde draw tanpa gol, Arab Saudi 4-0, Uruguay 1-0, Austria 3-0, Portugal 1-0, dan Prancis 2-0.
Sebaliknya, tujuh gol membobol gawang timnas Argentina -- meski menangkan semua laga -- sejak fase grup. Hanya dua laga fase grup, melakukan clean sheet -- saat lawan Aljazair 3-0 dan Austria 2-0. Kebobolan diawali satu gol lawan Yordania (3-1), Tanjung Verde (3-2), Mesir (3-2), Swiss (3-1) dan saat kalahkan Inggris 2-1 babak semifinal.
Tak cukup, jejak gol yang satu berbanding tujuh itu menjadi kalkulasi prediksi. Toh, hasil akhir adalah kemenangan dari setiap laga. Itu menjadi urgensi, sejauh barisan pemain mampu berkontribusi dalam mengancam gawang lawan.
Timnas Spanyol mengandalkan kekuatan sprint dan kocek bola si muda Yamal. Duet bareng Mikel Oyarbal. Di kubu Argentina, sudah tentu ada Leonel Messi yang kalem dan menginspirasi serangan -- bahkan pada situasi sulit. Terbukti saat, menjungkirbalikkan keunggulan timnas "The Three Lions" -- praktis hanya dalam tempo 10 menit terakhir. Dua assist yang membuahkan gol, hingga membuat Inggris menangis.
Skuad Matador yang berjuluk si Amarah Merah terbilang unggul dalam penguasaan bola dan pertahanan. Melawan mental baja timnas Putih & Langit Biru dengan arsitek Messi serta dukungan gelandang serang, Enzo Fernandez dan Lantaro Martinez.
Tampaknya, justru timnas Spanyol bakal tampil tanpa beban. Bagi timnas Argentina, belum hilang bayang-bayang kontroversi laga lawan Mesir pada "16 besar". Meski coba dipupus lewat kemenangan semifinal 2-1 atas Inggris, toh jejak tak nyaman itu -- tak sertamerta sirna.**
