Belajar Mencintai Tuhan: Menggeser Mode Ibadah

Foto: Kemenag RI.
Mastuki (Kepala Pusbangkom Pendidikan dan Keagamaan, Kementerian Agama) - Untuk mengakses berbagai layanan Kementerian Agama, silakan kunjungi https://kemenag.go.id/layanan . Melalui portal ini, Anda dapat memperoleh informasi terkini mengenai, regulasi, pendidikan keagamaan, agenda nasional, publikasi digital, serta berita Kemenag dari pusat dan daerah. Ikuti juga saluran Kementerian Agama di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb9xP10Fy72KZA2gk81S
Oleh MASTUKI
(Kepala Pusbangkom Pendidikan dan Keagamaan, Kementerian Agama)
PAGI itu, ruang pelatihan terasa ada yang beda. Tidak ada flip chart board penuh coretan. Tidak ada slide yang padat teks. Tak juga kertas warna-warni yang biasanya digunakan untuk menempel tugas.
Para peserta pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) duduk melingkar di tengah ruangan. Seorang fasilitator memulai sesi dengan satu pertanyaan sederhana, nyaris menggelitik: "Selama ini, kita beribadah kepada Allah sebagai siapa?"
Ruangan hening. Sesekali wajah bertemu wajah. Tak ada kata. Hanya ada pandang.
Ada yang menjawab lirih, “Sebagai hamba.”
Satu peserta tersenyum, lalu angkat tangan, “Sebagai orang yang berharap pahala.”
Ada pula yang terdiam lama, lalu berujar, “Sebagai orang yang takut dosa.”
Fasilitator mengangguk pelan. Lalu berkata dengan suara lembut,
"Hari ini, kita akan belajar satu hal: bagaimana menggeser ibadah dari mode budak, dari mode pedagang, menuju mode cinta."
Peserta diajak menceritakan pengalamannya beribadah selama ini. Ada yang berargumen dari sisi ajaran. Ada yang menanggapi dengan dalil. Tapi ada yang tiba-tiba sesenggukan menangis menceritakan betapa bodohnya selama ini shalat kalau hanya butuh kepada Allah. Peserta lain merefleksikan pengalaman batin saat beribadah di malam tahajudnya.
Petualangan berlanjut. Peserta berbagi pengalaman. Fasilitator melakukan pendekatan ARKA (Aktivitas-Refleksi-Konsep-Aksi) dalam pembelajaran dengan melibatkan semua peserta secara setara.
Dalam tradisi keagamaan, ibadah sering dipahami dalam dua mode dominan. Mode budak, ketika manusia beribadah karena takut hukuman ('ibadat al-ummal). Dan mode pedagang, ketika ibadah dilakukan dengan hitung-hitungan pahala dan surga. Ibadah transaksional. 'Ibadat al-tujjar.
Keduanya sah. Keduanya tidak keliru.
Namun, KBC mengajak melangkah lebih jauh. Menggeser ke ibadah mode cinta.
Mode cinta (mahabbah) dimaknai sebagai ibadah yang lahir dari kesadaran bahwa Allah Maha Mengasihi, Welas Asih pada manusia, pada alam, pada makhluk. Allah tidak dipersepsi hanya dari Jalaliyah (keagungan dan ketegasan-Nya), tetapi juga Jamaliyah—keindahan, kelembutan, dan kasih sayang-Nya.
Seorang peserta, guru madrasah swasta, mengangkat tangan.
"Saya sadar," katanya pelan, "Selama ini saya mengenalkan Tuhan kepada murid-murid lebih sering sebagai Yang Mengawasi dan Menghukum. Jarang sekali sebagai Yang Mencintai."
Kalimat itu menggantung di udara. Banyak yang mengangguk.
Meniru Tuhan dari Namanya
Allah memiliki nama-nama yang baik dan indah. Al-Asma' al-Husna. Seorang muslim menjadikan nama-nama ini sebagai medium berdoa dan berdialog dengan Allah. Melalui KBC, nama-nama Allah itu dihayati melalui pengalaman mencintai-Nya dalam pembelajaran. Experiential learning.
Fasilitator tidak meminta peserta menghafal Asmaul Husna. Sebaliknya, ia bertanya:
"Jika Allah adalah Al-Rahim, bagaimana cara kita meniru sifat itu sebagai manusia?"
Pertanyaan itu mengubah segalanya.
Asmaul Husna tidak lagi berhenti sebagai daftar nama indah yang dihafalkan, tetapi menjadi cermin etika dan perilaku. Peserta diajak memahami bahwa mencintai Allah berarti meniru sifat-sifat-Nya sejauh kemampuan manusia.
Al-Rahman dan Al-Rahim bukan hanya dibaca, tetapi dipraktikkan dengan "belas kasih".
Al-Wadud bukan hanya diucapkan, tetapi dihidupkan melalui "cinta yang hangat".
Al-Rauf bukan hanya dikenal, tetapi diwujudkan dalam "kelembutan sikap".
Ash-Shobur bukan hanya dinyanyikan, tapi "dihayati dalam kenyataan".
Saat sesi implementasi/aksi di pembelajaran, fasilitator memberi tantangan sederhana:
"Selama satu pekan ke depan, pilih satu nama Allah. Jangan dihafalkan. Hidupkan."
Tantangan itu berbuah madu.
Di madrasah ibtidaiyah, seorang guru mengganti cara mengajarkan Asmaul Husna kepada murid-muridnya. Tidak lagi satu nama per minggu untuk dihafal, tetapi satu nama untuk dihidupkan.
Pekan itu, kelas memilih sifat Allah Al-Rahim.
Setiap pagi, guru bertanya,
"Hari ini, siapa yang ingin menjadi Al-Rahim?"
Anak-anak berlomba mengangkat tangan. Ada yang ingin berbagi bekal. Ada yang ingin menemani temannya yang murung. Ada yang ingin mengajari membaca. Bahkan ada yang ingin membantu ibunya memasak.
Di akhir pekan, guru menulis di papan tulis sebagai afirmasi:
"Pekan ini anak-anak telah belajar mencintai Allah dengan meniru kasih sayang-Nya."
Guru lain mengajak anak-anak menuliskan "jurnal cinta" dari Allah setiap hari. Saat badannya sehat, anak menuliskan, "Terima kasih Allah, Engkau menganugerahkan kesehatan untukku".
Ketika bahagia, anak menuliskannya dalam bentuk puisi untuk Allah. Ketika ibunya memberinya bekal makanan, anak merangkaikan bunga untuk si ibu sebagai tanda sayang.
Kepala madrasah aliyah yang mengikuti pelatihan KBC bercerita, ia memilih Al-Wadud (mencintai secara hangat) sebagai latihan pribadinya selama sebulan.
Di hari-hari biasanya, ia dikenal kepala madrasah yang tegas. Disiplin. Jaraknya terasa dengan pegawai. Namun bulan itu, ia mengubah kebiasaan kecil.
Hari pertama, ia menahan diri untuk tidak memarahi guru yang terlambat. Ia memilih mendengar alasannya.
Hari kedua, ia menyapa petugas kebersihan lebih awal dari biasanya.
Hari ketiga, ia mengunjungi siswa yang sering absen dan mendapati rumahnya sedang berduka.
Ia menyapa guru satu per satu. Ia mengingat nama petugas kebersihan. Ia mendengarkan cerita langsung dengan hati dan perasaannya.
Di akhir pekan, ia menulis refleksi singkat:
"Saya baru sadar, selama ini saya memimpin dengan aturan. Minggu ini, saya mencoba memimpin dengan rahmah. Hasilnya bukan sekolah yang kacau, tetapi sekolah yang lebih tenang."
Seorang guru memberikan testimoni atas perubahan gaya kepemimpinan kepala madrasah, dengan berujar: "Kami tidak merasa aturan dikurangi. Tapi kami merasa lebih dihargai."
Menerapkan nilai cinta tak membuat madrasah itu menjadi longgar. Justru menjadi lebih tenang. Cinta ternyata tidak melemahkan kepemimpinan. Ia memperdalamnya.
Renungan lain datang dari seorang pengawas madrasah. Setelah mengikuti pelatihan KBC di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Medan, ia mengaku,
"Saya berhenti datang ke madrasah dengan daftar temuan. Saya datang dengan satu niat: melihat di mana cinta bisa tumbuh."
Inilah esensi living values education: nilai tidak diajarkan lewat ceramah, tetapi lewat pengalaman dan relasi. KBC adalah nilai, values. Dan nilai tak semata diajarkan, tapi diamalkan.
Tanpa disadari, teologi berubah menjadi etika, dan iman menjelma perilaku.
Meneladani Rasul, Menjadikan Life Style. Cinta Rasul dalam KBC juga tidak berhenti pada pujian dan shalawat—meski keduanya penting. Ia diterjemahkan menjadi latihan karakter. Membentuk sikap-perilaku.
Salah satu sesi paling membekas adalah ketika fasilitator berkata:
"Jika Rasulullah dikenal sebagai Al-Amin (yang dapat dipercaya), bagaimana cara anak-anak kita berlatih amanah setiap hari?"
Di sebuah madrasah kampung, guru membuat program kecil bernama “Amanah Harian”. Setiap anak diberi tugas sederhana: menyiram tanaman, menjaga barang temannya, merapikan buku setelah belajar, menyiapkan air minum, atau menjadi penanggung jawab doa secara bergantian.
Jika lupa, murid tidak dimarahi. Guru mengajak dialog dan bertanya,
"Bagaimana rasanya ketika amanah tidak dijalankan?"
Tidak ada hukuman berat. Yang ada hanya refleksi dan koneksi.
"Hari ini saya lupa menyiram tanaman," tulis seorang siswa. "Besok saya ingin lebih bertanggung jawab."
Siswa lain menulis dalam buku refleksinya:
"Saya ingin seperti Rasul, bisa dipercaya meski dalam hal kecil."
Dari pembelajaran ke refleksi lalu konsep, cinta kepada Rasulullah menjadi praktik keseharian, bukan hanya pujian di lisan. Perlahan, teladan Al-Amin dari Rasulullah bukan lagi kata besar, tetapi kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Menjadi life style.
Bagaimana kuatnya jika siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah menjadi life style anak-anak muda?
Banyak pendidik mengaku, perubahan paling menyentuh justru datang dari cerita anak-anak. Ternyata dampak mode cinta ini terasa hingga ke rumah. Orang tua siswa bercerita, anaknya pulang sekolah dan berkata, "Bu, Allah itu sayang sama kita. Jadi aku mau sayang sama adikku."
Kalimat sederhana. Tapi di situlah KBC bekerja.
Ketika Tuhan dikenalkan sebagai Maha Pengasih, anak-anak belajar mencintai tanpa takut.
Ketika Rasul dikenalkan sebagai teladan akhlak, anak-anak belajar meniru tanpa paksaan.
Melawan Kebiasaan Lama
Menghidupkan ibadah mode cinta dalam pembelajaran di lembaga pendidikan formal tak semudah membalik tangan. Banyak pendidik dibesarkan dalam sistem yang menekankan kontrol dan hukuman.
Banyak kepala sekolah dilatih untuk memenuhi tugas formal. Fikih kita juga lebih kuat orientasi ke ritual daripada nilai-spiritual. Hukuman dan ganjaran surga-neraka melekat dalam kesadaran keberagamaan masyarakat, mengalahkan rahmah dan maghfirah Allah yang amat luas. Menggeser ke mode cinta membutuhkan keberanian dan pendampingan.
Ada kekhawatiran, KBC akan melemahkan disiplin. Tetapi praktik di lapangan justru menunjukkan sebaliknya: cinta melahirkan disiplin yang sadar, bukan disiplin karena takut.
Sistem pendidikan yang padat administrasi dan target juga sering tidak memberi ruang refleksi. Karena itu, KBC menekankan pentingnya praktik kecil yang konsisten, bukan perubahan besar yang instan.
Banyak guru mengaku, lebih mudah memerintah daripada menemani. Lebih cepat menghukum daripada memahami. Petualangan KBC memberi opsi bahwa mencintai Allah dan Rasul bisa dijalankan dalam praktik sehari-hari.
Di akhir pelatihan, fasilitator menutup sesi dengan kalimat yang sederhana namun dalam:
"Mode cinta bukan berarti ibadah tanpa aturan. Ia adalah ibadah yang hidup. Ia adalah jalan pulang manusia kepada Tuhan—dengan hati yang lapang."
"Jika anak-anak belajar mencintai Allah dengan lembut, mereka akan belajar mencintai manusia dengan tulus. Jika anak-anak mencintai Rasul dengan segenap rasa, mereka akan belajar teladan yang sempurna."
Di sanalah seni mencintai Tuhan dan Rasul-Nya menemukan maknanya. Ia bukan soal seberapa banyak yang dihafal, tetapi seberapa dalam yang dihidupi.
Anak-anak belajar satu hal paling penting dalam hidup, bahwa iman yang paling indah adalah iman yang menghadirkan cinta.
Kurikulum Berbasis Cinta, khususnya Panca Cinta 1, mengajarkan bahwa mengenal Tuhan adalah belajar mencintai, dan mencintai Rasul adalah belajar menjadi manusia yang lebih manusiawi.
Seperti Asmaul Husna yang tidak hanya diucapkan, tetapi diteladani.
Seperti Rasul yang tidak hanya dipuji, tetapi ditiru.
Pelan namun pasti, sepertinya pendidikan menemukan kembali jiwanya.**
Source: Kemenag RI

