Ketika Prabowo Disuruh Mundur

Foto : Istimewa
Prabowo Subianto saat masih berbaret merah Kopashanda (kini Kopassus).
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
BUKAN oleh DPR/ MPR. Bukan pula oleh gerakan massa pengunjuk rasa Reformasi jilid II, sebab DPR dan MPR hingga kini masih menganggap kerja Prabowo Subianto sebagai Presiden Republiik Indonesia (RI) masih oke-oke saja. Masih perlu diberikan waktu, sampai 'Macan Asia' itu tidak hanya mengaum tapi benar-benar nenerkam.
Sementara itu gerakan people power dan reformasi jilid dua sepertinya belum ada tanda-tandanya, bahkan ibarat mobil dengan mesin diesel, lambat panasnya.
Cerita ini saya dapatkan dalam buku Sintong Panjaitan "Perjalanan Seorang Prajurit Komando". Buku itu ditulis Hendro Subroto salah satu dari sedikit wartawan perang yang dimiliki Indonesia. Ditulis dan diterbitkan Kompas Gramedia tahun 2009.
Tanggal 5 Mei 1985 tentara kelahiran Tarutung 4 September 1940 itu mendapat tugas sebagai Komandan Komando Pasukan Shandi Yudha (Kopashanda) yang dulu bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) di Cijantung menggantikan Brigjen Wismoyo Arismunandar. Kerena kesibukan, pelantikan dan serah terima jabatan belum terlaksana.
Pada saat pimpinan tentara komando itu sedang vacum, tiba-tiba asisten personil Kolonel Bambang Sumbogo melapor bahwa Mayor Prabowo Subianto Wakil Divisi 88 Anti Teror harus sudah pindah dari Kopashanda ke kesatuan lain berdasarkan Surat Keputusan (SKep) yang sudah ditandatangani KSAD Jendral Rudini.
Sintong Panjaitan tentu saja kaget, karena Prabowo harus pindah ke kesatuan lain dan mundur dari korps baret merah. Lalu diperintahkanlah Kolonel Bambang mengantarkan Surat Perintah itu kepada Komandan Kopashanda baru untuk segera dilaksanakan Skep KSAD itu.
Menurut Sintong demikian ditulis Hendro Subroto, tentara yang memegang jabatan strategis seperti asisten komandan grup dan kepala yang boleh serah jabatan di depan komandan Kopashada hanya para asisten dan cabang serta kepala detasemen
Komandan Detasemen seperti Mayor Prabowo cukup corp report ke atasan langsung. Tapi kata Bambang Sumbodo, sangat mungkin ada rasa power syndrome pada diri Prabowo. Seorang anggota Kopashanda (kini Kopassus) harus melepas baret merah dan menggantinya dengan baret ijo (Kostrad), gengsi dong, ah!.
Dengan rasa jengkel dan tersinggung Kolonel Sintong Panjaitan akhirnya menerima juga Skep tersebut dan Mayor Prabowo harus melaksanakan tugas.
"Anak siapapun kamu dalam tentara tidak boleh ada yang menanyakan kenapa dipindah, apalagi menawar dan menolaknya, bisa dipecat langsung," kata Sintong kepada Prabowo.
"Kalau kamu tidak mau mengikuti tata aturan di tentara kamu mundur' saja. Lalu masuk partai politik. Siapa tahu kamu nanti jadi menteri pertahanan. Saya akan menghormati kamu nanti. Tidak masalah bagi saya," tegas Sintong.
Ucapan Sintong itu terinspirasi kisah seroang kapten angkatan laut sebuah kerajaan. Ia bergelandangan ke luar, selanjutnya masuk partai politik. Dari partai itu dia berhasil menjadi Wakil Panglima Angkatan Laut, Menteri Pertahanan. Bahkan terakhir menjadikan Perdana Menteri Kerjaan Belanda.
Prabowo lalu memberi hormat seperti adab dan tatakrama kepada atasannya. Sejak itu, aku Sintong, kami tak pernah bertemu lagi
Bertemu lagi pada tanggal 23 Mei 1908. Ketika itu BJ Habibie baru 2 hari menjabat Presiden RI menggantikan Presiden Suharto yang mundur, sementara Sintong menjabat sebagai Penasihat Presiden bidang keamanan Presiden BJ Habibie hari itu sedang sibuk menyusun Kabinet Reformasi Membangun, datang Prabowo bertamu.
Sintong mengaku tidak mengikuti detail pembicaraan antara Prabowo dan Presiden BJ Habibie. Mungkin sekali Prabowo ingin tahu respon Habibie atas surat Jendral (besar) Nasution. Beredar kabar, sebelumnya Jendral Nasution mengirim surat kepada Habibie lewat Kepala Staf Kostrad, Mayjen Kivlan Zen. Isinya agar jabatan Menteri Pertahanan dipisah dengan Panglima ABRI. Jabatan panglima ABRI diberikan kepada Hendropriyono dan Prabowo diangkat menjadi KSAD.
Bagaimana jawaban Habibi, ia bicara singkat saja, "Saya Presiden, tahu apa yang sebaiknya saya lakukan,".
Soal mutasi Mayor Prabowo itu diceritakan mulanya Skep KSAD Rudini Prabowo dipindah ke Pusat Kesenjataan Infanteri (Pusenif/ di Bandung). Belakangan Luhut Binsar Penjaitan mengaku dipangil KSAD Jendral Tri Sutrisno dan diminta pendapat tentang mutasi Mayor Prabowo Itu.
Menurut Luhut kalau ke Pusenif terlalu jauh, sebaiknya ke Kostrad saja, maka Skep KSAD itu direvisi lagi. Jadi Prabowo dipindah lagi menjadi Wakil Komandan Batalyon 328 Raiders Kostrad.**

