Indahnya Perbedaan

Haris Sinastrio
Oleh HARI SINASTRIO
LEBARAN atau Idulfitri tahun ini diperkirakan jatuh pada tanggal yang berbeda. Muhammadiyah jauh-jauh hari sudah menetapkan, 1 Ramadan jatuh pada hari Rabu 18 Februari 2026, sedangkan Persis Kamis 19 Februari.
NU yang biasanya sama dengan hasil Sidang Isbat Kementerian Agama yang mewakili pemerintah yang sidangnya akan dilaksanakan Selasa sore ini, diperkirakan sama dengan Persis, awal shaum atau puasa 1 Ramadan jatuh pada Kamis 19 Februari 2026.
Pun Idulfirinya, Jika Muhammadiyah jatuh pada Jumat 20 Maret 2026, sedangkan NU, pemerintah dan Persis diperkirakan jatuh hari Sabtu, 21 Maret 2026.
Perbedaan ini sudah bukan hal yang aneh. Sejak jaman baheula sudah terjadi. Jadi sudah lumrah dan biasa-biasa saja.
Kalau di Bandung sendiri seperti yang terjadi pada tahun 1938. Ketika Bupati Bandoeng, R.A.A Wiranatakoesoema. Timbul polemik kala itu,tentang perbedaan hari lebaran. hampir terjadi pertumpahan darah. Tapi bisa diselesaikan dengan bijaksana oleh sang bupati.
Sekarang di zaman serbacanggih, di zaman serba gadget, serba internet. Perbedaan penentuan lebaran masih terjadi. Saya yang notabene bukan ahli hisab dan astronomi. Sumpah sok sumpah tidak tahu menahu tentang hisab menghisab, saya serahkan hal itu pada ahlinya. Yang saya tahu ahli "hisab" (isap) mah tukang ngaroko. Hehe. Tapi tentu saja, saya juga tidak terbawa arus kumaha ramena.
Sejak beberapa dekade ini, memang saya cenderung ke Muhammadiyah, walau saya sebenarnya bukanlah anggota Muhammadiyah. Kebetulan saja saya pernah masuk di partai yang didirikan oleh orang Muhammadiyah. Jadi gaul dan rapat dengan orang Muhammadiyah. Tapi tidak tuturut munding juga.
Iya buka bukalah buku paririmbon hal-hal tentang hisab menghisab ilmu penentuan awal puasa dan lebaran. Menurut keyakinan saya, penentuan kalender Islam, Gerhana Bulan dan Matahari bisa dihitung berdasarkan ilmu hisab dan astronomi. Tentunya juga puasa dan lebaran sama pula.
Tahun sekarang, pastinya seperti yang saya kemukakan di atas awal puasanya juga berbeda. Muihammadiyah sehari lebih awal, hari Rabu, 18 Februari 2026 mengikuti fatwa ulama Muhammadiyah.
Dulu juga (saya lupa tahunnya). Ketika lebaran tidak sama, saya mengikuti Muhammadiyah, termausk shalat Idulfitri. Kebetulan sekali saat itu tidak sama dengan di mayoritas warga di daerah saya. Karena saya ketua RW, saya tetap menyelenggarakan shalat Id untuk warga. Tidak ada masalah.
Tapi untuk urusan Zakat Fitrah, saya dua kali bayar. Satu untuk warga (da era ditagih ka rumah ku panitia, maenya RW teu mayar Zakat Fitrah. hehe...). Satu lagi di Masjid Mujahidin. Lain pedah saya beunghar tapi untuk sebatas kehati-hatian. 'Kan lebarannya juga bebeda. Maenya mayar Zakat Fitrah sudah lebaran.
Kemungkinan tahun sekarang akan beda lebaran dengan NU dan Persis. Apapun hasil keputusan isbat harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Apalagi di Indonesia tidak aturan khusus harus mengikuti pemerintah mengenai penentuan awal Ramadhan dan Syawal. Tidak ada mun teu nurut dihukum gantung.
Karena masih ketua RW, tetap menyelenggarakan shalat Id untuk warga di hari yang berbeda. Itu juga kalau harinya beda. Kalau nanti sidang isbatnya sama iya alhamdullilah bisa barengan. Tapi menurut keyakinan saya sudah pasti beda.
Selama ini, kita selalu bisa menjaga toleransi di tengah keberagaman antarumat beragama. Masa iya sesama muslim mau saling bom karena beda lebaran. Yang jelas semua pihak harus bisa saling menghargai dan menghormati masing-masing, pasalnya di antara kita dan mereka juga pastilah punya dalil dalil yang mupuni.
Selamat menunaikan Ibadah Shaum, semoga sukses meraih derajat takwa. (Penulis adalah pengamat sosial dan politik)**

