Euforia Mudik dan Amnesia Kematian: Ketika Pulang Menjadi Perayaan, Bukan Perenungan

Foto : Istimewa
Sigit Eliyadi, Penghulu pada KUA Sekadau Hulu.
Oleh SIGIT ELIYADI
(Penghulu pada KUA Sekadau Hulu)
HIRUK pikuk mudik selalu menghadirkan pemandangan yang sama: jalanan padat, terminal dan bandara sesak, wajah lelah bercampur bahagia, dengan satu tujuan sederhana namun penuh makna — pulang.
Mudik bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan peristiwa emosional dan kultural. Ia menyatukan kembali yang terpisah oleh jarak, merajut ulang kenangan, dan menghadirkan nostalgia tentang asal-usul.
Namun di balik euforia itu, ada kesunyian yang kerap luput: kesadaran tentang ke mana manusia sebenarnya sedang menuju. Dalam kegembiraan pulang ke kampung halaman, manusia sering mengalami “amnesia kematian”—kesadaran akan kefanaan hidup yang tertutup oleh riuhnya perayaan dunia.
Mudik menjadi simbol kepulangan, tetapi ironisnya, justru menjauhkan manusia dari kesadaran tentang kepulangan yang sesungguhnya.
Dalam tradisi keagamaan, hidup dipahami sebagai perjalanan. Manusia adalah musafir yang sedang menuju satu tujuan pasti: kembali kepada Sang Pencipta.
Dunia bukanlah rumah, melainkan persinggahan. Namun dalam keseharian, kesadaran ini kerap memudar, tergantikan oleh ritme hidup yang cepat dan distraksi yang tak ada jeda.
Segala hal dirancang untuk membuat manusia lupa — lupa akan batas, lupa akan akhir. Teknologi, hiburan, dan gaya hidup modern menciptakan ilusi keabadian. Dalam ilusi itu, kematian terasa jauh, abstrak, bahkan seperti tidak relevan. Padahal, kematian bukan sekadar berhentinya napas, melainkan berakhirnya seluruh kemungkinan duniawi.
Mudik, dalam konteks ini, menjadi metafora tentang cara manusia memperlakukan hidup. Perjalanan tahunan ini dipersiapkan dengan sangat matang: tiket dipesan, kendaraan diservis, rute dipelajari. Namun ada satu perjalanan yang sering luput dipersiapkan—perjalanan menuju kematian, yang justru paling pasti.
Di sinilah paradoks itu muncul. Manusia begitu rasional dalam urusan dunia, tetapi sering abai dalam urusan akhirat. Ia teliti menghitung jarak tempuh mudik, tetapi lalai menyiapkan bekal untuk perjalanan yang tak diketahui kapan dimulai.
Kesibukan mudik menjadi semacam tirai yang menutup kesadaran eksistensial. Orang sibuk memikirkan oleh-oleh, tetapi lupa memikirkan apa yang akan dibawa saat kembali kepada Tuhan. Sibuk merencanakan pertemuan dengan keluarga, tetapi lupa pada pertemuan yang jauh lebih menentukan.
Padahal, mudik seharusnya bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Kata “pulang” tidak sekadar merujuk pada kampung halaman, melainkan pada asal eksistensial manusia. Kita berasal dari Yang MahaSuci, dan kepada-Nya pula kita akan kembali.
Ketika mudik kehilangan dimensi reflektifnya, ia berubah menjadi ritual sosial yang dangkal. Ia menjadi ajang pamer keberhasilan, bukan ruang introspeksi.
Padahal, seharusnya mudik menjadi momen untuk bertanya: apakah kita pulang hanya membawa cerita, atau juga membawa perubahan?
Pada akhirnya, semua manusia pasti akan pulang. Pertanyaannya bukan apakah kita akan pulang, tetapi bagaimana kita pulang. Apakah dengan tangan kosong, atau dengan bekal yang cukup?
Euforia mudik tidak perlu dihilangkan. Ia hanya perlu dilengkapi dengan kesadaran. Sebab perjalanan paling penting bukanlah menuju kampung halaman, melainkan menuju keabadian. Dan dalam perjalanan itu, kemacetan paling berbahaya bukan di jalan raya—melainkan dalam kesadaran kita sendiri.**
Editor: Maman Suparman
Sumber: Kemenag RI