Humanitas Kartini

Foto : Istimewa
Raden Ajeng Kartini
Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)
KARTINI menjadi bukti bahwa di bawah lapisan formalitas kolonial dan feodal, terdapat pemikiran sintesis identitas manusia Indonesia.
Perempuan Jawa ini bukan lagi sekadar simbol emansipasi wanita, melainkan simbol "emansipasi jiwa" dari belenggu zaman yang sempit.
Dalam tulisan reflektif tentang Kartini, Prof. Dadan Rusmana dari UIN Bandung mengingatkan bahwa Kartini dari Rembang telah melampaui sosok pahlawan emansipasi yang terisolasi (the isolated women) yang selama ini menjadi narasi publik.
Tetapi ia sesungguhnya sebagai sebuah "titik temu" (carrefour) berbagai lapisan sejarah yang membentuk mentalitas perempuan manusia Jawa dan Nusantara.
"Kita harus meletakkannya dalam kerangka "Silang Budaya" yang menjadi ciri khas ruang etnografis Jawa dan Nusantara" kata Dadan Rusmana.
Spiritualitas Kartini
Sang Profesor juga memahami sepenuhnya bahwa spiritualitas Kartini bukanlah sebuah entitas tunggal yang muncul dari ruang hampa yang jatuh dari langit.
Tapi sebuah hasil dari dialektika antara tradisi "priyayi" yang berakar dalam, pengaruh Islam yang tengah mengalami purifikasi dengan modernitas kolonialisme Eropa di bumi Hindia Belanda saat itu.
Sebagai pewaris etiket dan tata krama tinggi "krama inggil" Kartini dalam perjalanan sejarah hidup spiritualitasnya menunjukkan pergeseran dari sekadar ketaatan pada "kosmos feodal". Tetapi juga menuju pencarian makna yang lebih personal.
Dadan Rusmana beralasan, "jika para leluhurnya mencari kesempurnaan melalui tapa brata yang pasif, Kartini justru mentransformasikan energi spiritual tersebut menjadi keprihatinan sosial".
Melalui jaringan korespondensi yang luas, yang selama ini dibatasi dalam narasikan "Habis Gelap Terbitlah Terang" ternyata Kartini lebih dari sekedar itu. Ia membangun sebuah laboratorium batin yang menghubungkan Jepara dengan pusat intelektual di Eropa.
Kata Profesor Dadan Rusmana, Kartini juga hadir dalam sosok yang sedang memanfaatkan teknologi literasi untuk menciptakan sebuah subjektivitas "Aku" yang mandiri sebagai sesuatu yang sebelumnya hampir mustahil dalam struktur sosial feodal Jawa yang kolektif.
Humanitas
Spiritualitas Kartini secara histori mengalami titik balik yang krusial saat ia bersentuhan dengan pemikiran Islam yang lebih rasional.
Melalui pertemuannya dengan "Kiai Sholeh Darat" dan meminta agar Al-Qur'an diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa adalah sebuah tindakan revolusioner dalam sejarah mentalitas dan pergeseran literasi.
Keinginan itu bukan hanya bermakna meruntuhkan tembok "mitos" dan menggantinya dengan "logos". Juga Tuhan bagi Kartini tidak lagi hadir melalui bahasa Arab yang tidak dipahami, melainkan melalui pemahaman intelektual.
"Inilah yang disebut sebagai spiritualitas yang tercerahkan" (isyraqiyah), di mana iman harus selaras dengan rasio—sebuah pengaruh jelas dari semangat enlightenment" jelas Dadan Rusmana.
Dengan kata lain Kartini sedang membangun sebuah pemahaman tentang humanitas yakni agama kemanusiaan. Ia tetap menghormati eksistensi Ilahi -- yang ia sebut sebagai Allah, Tuhan, atau Semesta -- namun di sisi lain, ia menolak dogmatisme agama yang mengekang perempuan.
Sumber: RA Kartini dan Persilangan Mentalias: Sebuah Spirituallitas di Titik Balik