Di Sini Kuli Di Sana Kuli

Ilustrasi
Ramai-ramai bekerja di luiar negeri.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
APABILAa bertanya kepada para pemimpin negeri ini, zaman apa sekarang ini?. Jawabannya pasti zaman pembangunan. Disana pembangunan di sini pembangunan, di mana-mana pembangunan.
Meski ada bedanya dengan pembangunan zaman Orde Baru atau di era Presiden Suharto, dulu dikelan dengan pembangunan berjenjang lima tahunan, disebutnya Pelita atau Pembangunan Lima Tahun. Namun sekarang kayanya istilah itu tiada lagi.
Pembangunanpun bukan dalam rangka revolusi seperti digaungkan Bung Karno. Hal ini karena dalam revolusi ada kata menjebol, sedang dalam pembangunan tidak ada jebol-jebolan. Pembangunan saja.
Jangan kaget pula bahwa dibalik dinamika pembangunan ada ribuan orang masih menganggur, tidak punya kerjaan, entah sementara atau seumur Itu sudah biasa
Jika ada kabar ratusan bahkan ribuan orang Indonesia pergi ke negeri orang hanya menjadi kuli Itu dinggap biasa. Emang apa salahnya bekerja di negeri orang jika di negeri sendir tidak ada lapangan kerja.
Apa salahnya bekerja kasar di Arab Saudi menggali saluran telepon hingga tubuh merah mateng bagaikan udang direbus. Dan jadi kuli di negeri orang lebih baik daripada jadi orang bego di negeri sendiri.
Sastrawan angkatan pembaharuan Pramudia Ananta Tur menyebut bahwa bangsa Indonesia memang ditakdirkan cuma jadi kuli.
Bung Karno berteriak di pengadilan kolonial Belanda di Bandung 1930 apakah bangsa Indonesia harus jadi kuli sampai dunia kiamat? Tidak dia harus merdeka, kami harus melawan supaya bisa merdeka.
Teriakan Bung Karno itu ketika bangsa ini sedang berada di bawah injakan sepatu lars tentara kolonial Belanda. Ketika Belanda memaksa kami menanam tebu Untuk membangun negaranya supaya tidak kelelep di bawah laut.
Jadi biarlah kita jadi kuli.
Disini kuli disana kuli. Apanya yang salah?.**
