Aksi Antirasial 5 Agustus 1973 di Bandung Jangan Terulang Lagi

Foto : Pikiran Rakyat/Istimewa
Foto sasaran pembakaran para pelaku kerusuhan 5 Agustus 1973 di Bandung dimuat Pikiran Rakyat, 7 Agustus 1973, hlm. 1
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
MASIH belum lepas dalam ingatan saya. lewat magrib tanggal 5 Agustus 1973 kota Bandung menyala bagai gunungan sampah dibakar. Ratusan rumah dan mobil dan isinya habis dibakar massa.
Kejadian Ini bukan sebuah spontanitas karena ada jeda waktu antara sebuah peristiwa sepele dengan amuk massa Itu. Peristiwanya terjadi Minggu sorei diawali insiden sepele di Jalan Astanaanyar dekat gedung Bioskop Siliwangi ketika sebuah gerobak yang ditarik seorang pribumi bernama Asep Tosin menyenggol mobil VW milik warga keturunan Tionghoa.
Perselisihan ini cepat membesar karena provokasi dan isu rasial yang menyebar di kalangan masyarakat, katanya seorang tukang roda pedati dipukuli seorang Tionghoa gara gara rodanya menyerempet mobil si engkoh itu.
Peristiwa rasial di Bandung pada 1973 itu hingga kini dikenal dengan sebutan Peristiwa 5 Agustus, Pemicunya yaitu tadi oleh insiden lalu lintas ditambah kecemburuan sosial-ekonomi era Orde Baru.
Dampaknya, massa terbakar dan demo di setiap penjuru Kota Bandung. Mereka merusak dan membakar pertokoan serta properti milik etnis Tionghoa.
Massa merusak ratusan kendaraan, menjarah toko, dan membakar berbagai bangunan di kawasan pusat pertokoan di Kota Bandung.Korban. Tercatat secara resmi satu orang korban jiwa akibat kerusuhan tersebut.
Peristiwa ini merupakan luapan akumulasi ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi antara warga pribumi dan etnis Tionghoa. Pada masa awal Orde Baru, kelompok minoritas Tionghoa seringkali mendominasi sektor perdagangan, yang memicu kecemburuan kelas bawah.
Tapi pengalaman pahit Itu tidak menjadi guru wong ratu. Kenyataannya persatuan antarbangsa itu belum bisa direkat.
Yang menarik adalah pengalaman saya dan rekan wartawan Ahmad Syafei (almarhum). Ia nyamper saya di rumah dengan menggunakan peci atau kopeah hitam. Sambil tersenyum dia bilang agar tidak dikira cina.
Dan memang orang-orang yang termasuk penduduk asli serentak memoles diri. Ada yang mau membuat tulisan di depan rumahnya "Milik Pribumi", bahkan ada yang menulis "Nu bogana haji urang Sunda". Lucu tapi sesungguhnya keadaan masih sangat mencekam.
Pemicunya yaitu tadi, ada segelintir warga keturunan Tionghoa berlaku eksklusif dan seolah sok kuasa atas segalanya. Mereka tampil dan bergaya kayak tuan-tuan, sikap ini membuat warga Bandung mayoritas urang pribumi merasa jengah dan cemburu.
Pembentukan Lembaga Kesatuan Bangsa nyaris tidak membawa manfaat. Lalu muincul kebijakan ganti nama dari Tionghoa menjadi nama keindonesiaan. Dan itu banyak dilakukan dan memang menjadi trending sesaat.
Lim Soe Liong berhenti menjadi Sudono Salim, Ong Gun Tiaw jadi Gunawan Wibisono. Lie San,Nio jadi Lilis Sumarni dan sebagainnya. Anjuran asimilasi dengan perkawinan silang juga terdengar.
Yang banyak terjadi adalah laki-laki Tionghoa mengawini perrmpuan pribumi. Hal ini dilakukan semata karena faktor ekonomi
Jadi yang sesungguhnya terjadi adalah dendam ekonomi dan Itu yang harus tetap dijaga karena kerusuhan rasial itu bukan mustahil terjadi dimasa yang akan datang.**