Sang Inlander

Foto : Istimewa
Bung Karno usai membacakan pidato pembelaan berjudul Indonesia Menggugat di hadapan pengadilan kolonial Belanda (Landraad te Bandung).
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SELAIN nama Brooshoopt seorang humanis Belanda, dalam pledoi atau pembelaan pada 02 Desember 1930, yang dibacakan terdakwa Ir. Soekarno berjudul :ndonesia Menggugat di hadapan pengadilan kolonial Belanda (Landraad te Bandung), Bung Karno juga menyebut nama Henri van Kol.
Belanda kelahiran Groningen yang satu ini tak henti-hentinya menyindir dan mencela pemerintahnya yang ugal-ugalan menindas bangsa pribumi sehingga orang orang inlander (pribumi) Itu tidak bersumsum lagi.
Tapi Bung Karno juga mengakui bahwa di kalangan awak sendiri ada manusia potongan inlander yang memisahkan diri dari gerakan kebangsaan pimpinan Sukarno-Hatta juga ada. Mereka memandang bangsa kolonial seperti om yang kaya raya yang biasa memberi sesuap nasi.
Mereka begitu takutnya kepada bangsa yang kulitnya bule dan hidungnya mancung seperti mahluk luar angkasa.
Setelah kemerdekaan diperoleh berkat perjuangan yang dipimpin oleh Sukarno-Hatta, mereka yang selalu mengabdi kepada bule-bule Londo justru tampil sebagai juragan baru. Mereka petantang petenteng dengan busana pantalon dan dasi.
Menjadi ada yang menjadi juragan pabrik malahan ada jugva yang menjadi pejabat tinggi atau bahkan menteri. Bangsa asing dari negara nun jauh di sonoh yang bermata sipit sekalipun lebih ditakuti dari pada bangsanya sendiri.
Oleh tarikan nasib baik, para inlander yang pro-Londo itu tampil dengan membusungkan dada. Perintahnya turun bagai halilintar di siang bolong, sekalipun jiwa raganya tetap inlander atau orang yang merasa rendah berada di bawah telapak kaki penjajah yang sifatnya menginjak yang bawah menjunjung yang atas.
Sang inlader Itu mulanya tidak yakin akan kemampuan bangsa sendiri. Mereka baru terbelalak matanya kaya Gatotkaca lagi murka, ketika menyaksikan bahwa bangsa sendiri bisa membuat kapal terbang dan dan kapal laut
Mulutnya berdecak kagum ketika menyaksikan peluncuran pesawat pesawat CN235 dan N250 "Gatotkaca" buatan bangsa sendiri.
Itulah inlander yang dikupas Bung Karno, lima belas tahun sebelum kita merdeka.**