Traumatisme Korupsi

Ilustrasi
Ilustrasi korupsi
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
HAMPIR dipastikan sebagian besar masyarakat Indonesia sedang dilanda ketakutan atau trauma menghadapi kasus kasus korupsi yang melanda negeri ini. Ibarat perubahasa patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu.
Sebab memang begitu keadaannya, tak hanya kuantitas yang meningkat dengan bertambahnya jumlah tersangka koruptor, namun juga nilai uang negara yang dikorupnya, tak sebatas hitungan miliar melainkan sudah triliunan rupiah.
Sulit duicerna akal sehat manakala ada tersangka difuga terima uang kotor hasil pat gulipat dan matrk up harga hingga Rp1 miliar sehari. di kasus Makan Bergizi Gratis (MBG). Ada pula di Kementrian Migran dan Lapas ada tersangka menerima uang gratudikasi Rp100 Juta per minggu. Juka dihitung setahun, pasti jumlahnya wow!
Bahkan baru saja berlangsung Kejaksaan Agung RI menyerahkan uang tunai senilai Rp1.029.874.376.628 (Rp 1triliun lebih) kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Senin (15/6/2026). Uang tersebut merupakan akumulasi hasil lelang barang rampasan negara dari BPA Fair 2026 dan hasil penelusuran aset terpidana kasus korupsi Bank Bapindo, Eddy Tansil.
Penyerahan simbolis dilakukan oleh Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa di Jakarta.
Upaya pemberantasan korupsi terus digaungkan Presiden RI Prabowo Subianto, bahkan Prabowo mengancam jika perlu dikejar walupun kabur ke Antartika atau padang pasi. Namun sepertinya baru sebasat retorik belaka, baru sekadar janji sebab fakta di lapangan ancaman ini tak menakutkan, kasus korupsi terus berjalan yang dilakukan para pjabat dari bupati, gubernur. menteri, wakil menteri dan kepala badan termasuk wakilnya.
Kata korupsi berasal dari bahasa Latin, yaitu corruptio atau corruptus. Istilah ini berakar dari kata dasar corrumpere, yang secara harfiah bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik, atau menyogok.
Sejarah kejahatan dalam penyelenggaraan negara itu sudah berumur panjang sejak peradaban kuno di Mesir, Yunani dan Romawi. Di Mesir kuno terjadi sejak dinasti pertama tahun 3100 ,-2700 SM.
Diba Yunani, sejarawan Herodotus mencatat abad ke 6 SM keluarga politikus Alssmenened menyuap pendeta Orakel Delphi Untuk kepentingan politik mereka
Di Romawi kuno terjadi pemerasan dan penggelapan pajak dari rakyat. Lalu di masa kolonial Belanda juga merebak korupsi itu. VOC yang awalnya dipercaya sebagai BUMN tunggal Nederland terpaksa ditutup (tahun 1799) karena dilanda korupsi.
Dari kejadian itu Belanda hampir bangkrut pascaperang Diponegoro (1825-1830). Perang Jawa Itu menghabiskan biaya 20 juta gulden menewaskan tentara mancung sekitar 8 ribu orang dan 15 ribu laskar pejuang pribumi.
Selain Itu Belanda juga terbelit utang kepada sekutunya Inggris dan Amerika.
Untuk mencegah kebangkrutan Belanda melancarkan gerakan tanam paksa. Masyarakat petani di tanah jajahan dipaksa menjiapkan 20% lahan yang di miliknya untuk ditanami tanaman ekonomis yang laku dipasaran Eropa seperti Kopi tebu tembakau dan nila atau tarum.
Tapi Tanam paksa itu juga menjadi ajang korupsi. Pejabat lokal seperti bupati dan antek anteknya sampai kepala desa menyalahgunakan tugas mengumpulkan produksi pertanian hasil tanam psksa tersbeut. Bukan mustahil korupsi yang jadi sumber trauma bangsa Indonesia sekarang berguru dari zaman tanam paksa itu tempo doeloe.
Lembaga Tranparansi Internasional tiap tahun merilis hasil penelitian mereka atas Indeks Presepsi Korupsi di seluruh negara di dunia.
Bank dunia mencatat besaran korupsi di seluruh dunia sekitar $US 1,5 sampai 2,5 triliun setiap tahun. Rupanya dunia memang ladang basah untuk kejahatan modern sekarang ini.
"Waluh, waluh,...." canda Boys Iskandar di Group Diskusi Ngadu Bako.**