Penyakit Hati di Media Sosial

foto

Ilustrasi

Ilustrasi unggahan kebencian di media sosial

Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)

SEORANG ulama pada khutbah sholat Jumat (29/10) memaparkan tentang Ghurur () karena dianggap relevan dengan kecenderungan muslim di Indonesia diterpa penyakit hati di media sosial.

Kata sang ulama, secara bahasa Ghurur itu berarti tipuan, penipuan, atau terperdaya. Tapi dalam praktik kehidupnya nyatanya lebih tepat sebagai penyakit hati.

Yakni, menyimpan perasaan tenang, aman, atau bangga dengan menyakiti orang lain. Tak terkecuali melalui unggahan di media sosial.

Dengan menulis penistaan dan penghinaan hingga merusak martabat orang lain padahal ia tak sepenuhnya mengerti tentang hal itu. Kecuali ia ingin mengumbar nafsu kebencian semata tanpa berpikir panjang lagi.

Padahal sebenarnya ia sesungguhnya sedang tertipu oleh ilusi, bisikan setan, atau kejahilannya sendiri yang disebut Ghurur.

Ia mengira apa yang ditulis itu ibadah untuk amar makruf nahi mungkar. Sebagai amal saleh, atau kebaikan yang dilakukan ia anggap sangat hebat dan pasti diterima, padahal niatnya keliru atau tidak sesuai tuntunan.

Tertipu Dunia

Sang ulama selanjutnya menjelaskan pada khutbah kedua, apa yang belakangan terjadi pada sebagian umat Islam di era media sosial itu sebagai pertanda tertipu dengan Dunia (Mata'ul Ghurur).

Mengagungkan sebagai seorang diri yang pintar, cerdas darn bersih dari kesalahan. Ia memilih kesenangan diri dengan melukai orang lain seraya dunia melupakan kehidupan akhirat yang abadi.

Ia merasa diri sudah pasti mulia, selamat, atau dijamin masuk surga tanpa takut akan murka atau ujian dari Allah sebagaimana seorang yang arogan.

Menganggap diri paling benar, paling pandai, atau paling suci, sehingga lebih sering memberikan masih dan kritik tapi sulit menerima nasihat dan kritik.

Dalam kata penutup sebelum berdoa bersama, sang ulama mengingatkan kembali agar hidup ini berilmu agama yang benar, bukan sekedar gelar.

Agar bisa membedakan mana yang hak (benar) dan batil (salah) dengan senantiasa melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan menyadari kekurangan diri sendiri.

Menanamkan sifat tawadhu' yakni rendah hati dan meluruskan niat semata-mata karena Allah.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Skandal Wabup Sumedang, Keberanian Parlemen Diuji Fungsi dan Hak Konstitusionalnya
Ikhwal Bernama Ijazah
Menyesal Saya Tidak Melaksanakan Nasihat Oce Permana
Ketika Sang Filsuf Merapat ke Istana
Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia, Organisasi Apakah Itu?