Thoudy Jurnalis Republika asal Cicalengka Masih Ditahan Israel, Ibunda Meratap Agar Pemerintah Segera Bebaskan Putranya

Hani Hanifa Humanisa ibunda Thoudy Badai Rifanbillah berharap pemerintah turun tangan bebaskan putranya.
CiCALENGKA, KejakimpolNews.com -- Hani Hanifa Humanisa (56), ibunda Thoudy Badai Rifanbillah (27), jurnalis Republika asal Cicalengka, Kabupaten Bandung ternyata masih syok ada kabar putranya ditahan tentara Israel.
Thoudy bersama tiga wartawan Indonesia dan satu relawan lainnya ditangkap tentara Angkatan Laut Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Gaza melalui Laut Mediterania.
Thoudy yang akrab disapa Odi ini diketahui berada di Kapal Ozgurluk bersama sejumlah relawan dan jurnalis internasional lainnya. Hingga Kamis (21/5/2026) hilang kontak, dan kemungkinan masih ditahan tentara Israel.
Rombongan kapal bantuan kemanusiaan itu dilaporkan dicegat tentara Israel di perairan internasional pada Senin (18/5/2026) ketika menuju Gaza.
Saat ditemui di Pondok Pesantren Husainiyah, Kampung/Desa Panenjoan, Cicalengka, Hani bercerita bahwa keputusan mengizinkan putranya berangkat bukan hal mudah.
"Ya awalnya permintaan izin ini sebenarnya yang kedua. Saat pertama kali Odi anak saya berangkat ke Tunis untuk mengikuti pelatihan. Dari sana memang ada kemungkinan lanjut ke Gaza jika mendapat izin dari orang tua. Namun waktu itu saya belum mengizinkan, karena kekhawatiran yang sangat besar melihat kondisi di sana,” ujarnya.
Namun, pada kesempatan berikutnya, ia melihat adanya tekat dan keinginan besar dari Odi untuk menjalankan tugas jurnalistik tersebut.
“Saya melihat ada passion dari Odi. Sebagai ibu tentu sisi keibuan saya ingin bilang jangan ikut, enggak usah berangkat. Tapi saya juga berpikir, anak-anak saya jangan hidup hanya untuk orang tuanya atau keluarganya saja. Mereka juga harus hidup untuk dirinya sendiri,” katanya.
Menurut Hani, sebelum keberangkatan mereka sempat berdiskusi panjang mengenai berbagai risiko yang mungkin terjadi selama perjalanan menuju Gaza.
"Kami ngobrol panjang. Saya tanya bagaimana kondisi di sana, apa risikonya. Odi juga sudah memahami risiko terburuknya seperti apa. Setelah mempertimbangkan semuanya, akhirnya saya izinkan,” tuturnya.
Ia mengatakan komunikasi terakhir dengan Odi terjadi saat kapal mulai memasuki perairan internasional menuju Gaza.
"Terakhir kami kontak hari Senin sekitar pukul 02.19 WIB. Saat itu Odi mengabarkan mereka sudah sampai di perairan internasional dan kondisi masih aman,” katanya.
Selama perjalanan, lanjut Hani, putranya rutin memberikan kabar mengenai kondisi di kapal, mulai dari kesehatan hingga keamanan.
"Biasanya tidak terlalu sering karena kondisi di sana juga. Paling mengabarkan soal pergantian shift, kondisi kesehatan, makan bagaimana, dan keamanan di lapangan. Sampai komunikasi terakhir itu kondisinya masih aman,” ujarnya.
Meski sejak awal keluarga sudah memahami risiko penangkapan, Hani mengaku tetap terpukul ketika mendengar kabar tersebut.
“Kami memang sudah tahu risiko paling beratnya adalah ditangkap. Bahkan kemungkinan bisa sampai Gaza juga sangat kecil. Jadi sebenarnya kami sudah mengantisipasi kemungkinan itu,” katanya.
“Walaupun sudah ancang-ancang, tetap saja kaget dan sedih ketika mendengar kabar itu. Bukan cuma saya sebagai orang tua, adik-adiknya dan keluarga besar juga syok,” lanjutnya.
Saat ini keluarga berusaha tetap tenang sambil terus mencari informasi resmi terkait kondisi Odi dan para relawan lainnya.
"Kami mencoba tidak panik dan tetap rasional sambil mencari informasi yang benar. Untungnya dari Republika juga sudah ada komunikasi dan informasi yang bisa kami pegang, jadi tidak terlalu terbawa kabar simpang siur,” ujarnya.
Hani berharap Pemerintah Indonesia segera turun tangan dapat menempuh jalur diplomasi internasional demi keselamatan para WNI yang diduga ditahan.
"Kami berharap pemerintah, terutama Presiden dan Menteri Luar Negeri, bisa mengupayakan jalur diplomasi kepada Israel agar para relawan segera dibebaskan dan dipulangkan dalam keadaan selamat tanpa kekurangan apapun,” katanya.
Ia menegaskan, Odi berangkat dalam kapasitas sebagai jurnalis yang menjalankan tugas peliputan misi kemanusiaan lintas negara menuju Gaza.
“Sebelum berangkat, Odi berdiskusi sangat mendalam dengan saya. Sebagai jurnalis, dia menyampaikan mendapatkan tugas peliputan pengiriman bantuan kemanusiaan lintas negara menuju Gaza yang dimulai dari Tunisia melalui jalur laut,” ungkapnya.
Menurutnya, sebagai ibu dirinya tentu diliputi rasa khawatir, namun tetap memberikan dukungan penuh atas keputusan putranya tersebut.
“Sebagai seorang ibu, bohong jika saya tidak khawatir. Perasaan cemas itu pasti ada. Namun melihat niat baik dan profesionalisme sebagai jurnalis, tugas saya sebagai orang tua adalah memberikan rido, dukungan penuh, dan doa terbaik,” katanya.
Terkait situasi yang terjadi di laut, keluarga kini memilih fokus pada keselamatan Odi dan para relawan lain.
“Kami fokus pada hukum humaniter internasional yang melindungi jurnalis. Fokus utama kami hari ini adalah keselamatan Odi dan kepulangannya,” pungkasnya.
Berdasarkan data dari Global Sumud Flotilla, sejumlah WNI yang diduga ditahan dalam insiden tersebut di antaranya Thoudy Badai, Rahendro Herubowo, Bambang Noroyono, Andre Prasetyo Nugroho, dan Andi Angga. Sementara beberapa WNI lainnya dilaporkan masih berada dalam pelayaran menuju Gaza.**
Editor: Yayan Sofyan