SPPG Al-Halim Sepi Aktivitas
Korban Diduga Keracunan MBG di Garut Terus Bertambah Hingga Kamis Siang 117 Orang Masuk Lima Puskesmas

Foto : Istimewa
Korban diduga keracunan menu MBG di Puskesmas Cibatu terus bertambah. Rabu malam ditinjau Bupati Garut Abdusy Syakur Amin.
GARUT, KejakimpolNews.com – Jumlah korban yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terus bertambah. Hingga Kamis (23/7/2026) siang tadi, korban tercatat mencapai 117 orang dan tersebar di lima puskesmas.
Para korban merupakan santri Yayasan Al Mansuriah serta sejumlah siswa sekolah dasar di wilayah Kecamatan Cibatu. Seluruhnya mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG dan saat ini masih menjalani penanganan medis.
Salah seorang orang tua siswa, Leni, mengatakan anaknya, Wildan, siswa kelas IV SDN Sindangsuka 5, mulai mengalami gejala beberapa saat setelah mengonsumsi makanan MBG.
"Anak kena itu keracunan MBG. Gejalanya pusing, mual, terus muntah-muntah, sama BAB," ujar Leni.
Menurutnya, sedikitnya enam siswa dirawat dalam satu ruangan dengan gejala yang hampir sama. Mereka mulai mendapatkan perawatan sejak Rabu malam setelah mengeluhkan kondisi kesehatan.
Sebelum mengalami gejala, para siswa diketahui menyantap menu MBG yang terdiri dari nasi putih, orek tempe, sayur sop, telur, dan susu.
Sementara itu, pantauan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Al-Halim yang berada di Kampung Pulo, Desa Sindangsuka, Kecamatan Cibatu, menunjukkan tidak adanya aktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Lokasi dapur tampak sepi tanpa kegiatan distribusi makanan.
Hingga kini, petugas kesehatan masih melakukan penanganan terhadap para korban sekaligus pendataan untuk memastikan jumlah warga yang terdampak.
Sementara itu, penyebab pasti munculnya gejala yang dialami para korban masih dalam proses penyelidikan dan pemeriksaan oleh pihak terkait. Kasus dugaan keracunan MBG di Kecamatan Cibatu ini pun menjadi perhatian serius karena jumlah korban terus mengalami peningkatan.**
Author: One
Editor: Maman Suparman
