Terjebak Macet di Jalur "Neraka" Bundaran Cibiru-Cileunyi, Pengguna Jalan Kembali Curhat

Jalur Cibiru - Cileunyi yang selalu padat terutama jam-jam pergi dan pulang kerja, benar-benar menyesakkan, orang menyebutnya jalur neraka, Kamis (17/9/2026)..
CILEUNYI, KejakimpolNews.com -- Meski kemacetan pada ruas Bundaran Cibiru Kota Bandung-Cileunyi Kabupaten tergolong rutin terutama pada jam-jam sibuk, sejumlah pengguna jalan kembali curhat, Kamis (17/9/2026).
Seperti berlangsung Kamis pagi, ruas jalan tersebut benar-benar sesak, baik oleh kendaraan roda dua ataupun empat dari dua arah.
Kemacetan dan sesaknya kendaraan yang disebut orang sebagai jalur "neraka" ini, banyak pengguna jalan langsung memprotes penuh marah dan emosi bahkan juga diunggah videonya di media sosial.
"Jika baraya lewat jalur Bundaran Cibiru-Cileunyi terutama pagi dan pada jam sibuk harus bersabar ya terjebak macet," tulis di salah satu akun Instagram (IG).
Sementara itu, Junjunan Maulana Yusuf S.A.P,, M.K.P., asal Griya Bukit Manglayang RW 21, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi yang terjebak macet di jalur tersebut tadi pagi mengatakan, meski ini rutin, namun hingga saat ini belum kelihatan langkah nyata untuk dicarikan solusi.
"Yang saya tahu, pembangunan underpass Cibiru yang digagas Ridwan Kamil tahun 2015 saat ia menjabat sebagai Wali Kota Bandung hanya sebatas wacana," kata Junjunan yang kini tinggal di Bekasi ini, Kamis (17/9/2026).
Selain itu, kata Junjunan yang karyawan bank ini, pembangunan Kawasan Cileunyi Terpadu (KCT) diganti dengan pembangunan Lingkar Cileunyi (LC) pun yang diinisiasi Pemkab Bandung sekadar wacana dan hanya mimpi.
"Belum ada solusi, sementara ruas Bundaran Cibiru-Cileunyi dilintasi kendaraan dari sejumah arah. Apalagi setelah Tol Cisumdawu dan kereta cepat Whoosh beroperasi, volume kendaraan kian meningkat," ungkap Junjunan yang juga dosen ini.
"Jujur, naik kereta cepat Whoosh dari Halim ke Stasiun Tegalluar Cibiru Hilir hanya 40-45 menit, eh dari Tegalluar ke Jatinangor atau Cileunyi sejam karena macet. Ini namanya paradoks," pungkas Junjunan.
Pakar ITB Dorong KDM
Kemacetan di jalur tersebut yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari memang kerap mengalami kemacetan pada pagi, sore, hingga malam hari. Kemacetan di jalan ini terjadi akibat volume kendaraan yang meningkat dan mobilitas masyarakat yang beraktivitas.
Sony Sulaksono, pakar transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelumnya angkat bicara, jika kemacetan yang terjadi di ruas jalan tersebut sudah berlangsung lama. Menurut Sony, tipikal kemacetan di ruas jalan tersebut kerap mencapai puncaknya di daerah perbatasan.
Menurut Sony, wacana pembangunan underpass di kawasan Cibiru sebenarnya sudah ada sejak lama diwacanakan saat Ridwan Kamil jadi Wali Kota Bandung. Namun hingga saat ini rencana tersebut belum terealisasi.
"Sebagai alternatif, ya flyover karena bentuk tanahnya itu memang lebih cocok dibuat terowongan. Penelitian waktu itu oleh PU akan dibangun underpass di Cibiru dan kalau tidak salah di RT RW juga sudah ada persimpangan Cibiru," katanya.
Apakah Pemprov Jabar, khususnya Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, bisa turun tangan untuk merealisasikan pembangunan ini? Sony menilai hal itu memungkinkan, asal Kang Dedi Mulyadi ( KDM), sapaan karib Dedi Mulyadi-diberi keleluasaan oleh pemerintah pusat karena status jalan tersebut merupakan jalan nasional.
"Kalau kemarin ada usulan dari KDM akan mengambil perbaikan jalan-jalan di Pantura yang rusak-rusak, itu mungkin juga bisa diarahkan. Kalau memang wacananya dari Pemprov Jabar akan mengambil pemeliharaan jalan-jalan nasional yang ada di Jawa Barat, saya kira mungkin bisa diarahkan salah satunya adalah untuk membuat underpass Cibiru itu," terangnya.
Pembangunan underpass, flyover, bahkan pelebaran jalan, kata Sony bisa dilakukan asalkan pemerintah serius turun tangan.
Terkait pelebaran jalan, Sony menilai masalah utamanya bukan pada jalan yang sempit, melainkan adanya pertemuan sejumlah lalu lintas ke kawasan Cibiru.
"Dari barat ke timur yakni dari arah Jalan A.H Nasution dan arah Soekarno-Hatta. Sementara dari timur ke barat dari ayah Garut, Sumedang dan dari arah gerbang Tol Cileunyi," katanya.
Sony menceritakan bahwa pembuatan flyover Kopo memerlukan kajian yang cukup lama. Apalagi selain Kopo, pembangunan infrastruktur serupa awalnya direncanakan di Muhammad Toha dan
Samsat Soekarno-Hatta. Namun, hanya proyek Kopo yang terealisasi karena dua titik lainnya terkendala pembebasan lahan.
"Begitu pun saat disinggung mengenai urgensi penyatuan kawasan Gedung Sate dan Gasibu yang dilakukan Pemprov Jabar, Sony meyakini KDM juga bisa membangun Flyover Cileunyi-Cibiru.
"Kalau memang ada niatan dari KDM untuk membantu pemeliharaan dan pembangunan jalan nasional yang ada di Jawa Barat, saya kira Cibiru akan menjadi prioritas pembangunan flyover ini, biar tidak macet terus," tuturnya.
"Kita dorong KDM, apalagi beliau 'kan punya uang untuk membuat, menyatukan Gedung Sate dengan Gasibu misalnya. Artinya kan pendanaan dari Jabar masih memungkinkan seperti itu. Tinggal dilakukan koordinasi antara Jawa Barat dengan pusat dan Pemkot/Pemkab Bandung dengan pembangunan terowongan atau flyover di Cibiru tersebut" pungkasnya.**
Editor: Yayan Sofyan