Syarikat Islam Jabar Konsolidasi Kekuatan, Bidik Kemandirian Ekonomi Menuju Majelis Tahkim ke-42

Foto: One
Musyawarah Kerja II Wilayah (Mukerwil II) Syarikat Islam Jawa Barat 2026 di Gedung Pusdai Jawa Barat, Kota Bandung, Ahad (20/9/2026).
BANDUNG, KejakimpolNews.com — Syarikat Islam Jawa Barat mulai mengonsolidasikan kekuatan organisasi menjelang Majelis Tahkim ke-42. Penguatan struktur cabang, kaderisasi, dakwah ekonomi, hingga kemandirian organisasi menjadi agenda yang didorong agar Syarikat Islam tidak berhenti sebagai organisasi dengan sejarah panjang, tetapi kembali hadir melalui gerakan nyata di tengah masyarakat.
Arah tersebut mengemuka dalam Musyawarah Kerja II Wilayah (Mukerwil II) Syarikat Islam Jawa Barat 2026 di Gedung Pusdai Jawa Barat, Kota Bandung, Ahad (20/9/2026).
Forum yang dihadiri pimpinan 18 DPC Syarikat Islam kabupaten/kota se-Jawa Barat itu menjadi ruang evaluasi perjalanan organisasi sekaligus menyusun langkah menghadapi Majelis Tahkim ke-42.
Ketua Pimpinan Wilayah Syarikat Islam Jawa Barat, Dr. KH. Nandang Koswara, M.Pd., menegaskan bahwa kekuatan organisasi tidak cukup hanya bertumpu pada nama besar dan sejarah. Ukuran kekuatan justru terlihat dari seberapa efektif struktur organisasi bekerja, menghidupkan cabang, membina kader, serta memberikan manfaat bagi umat.
Karena itu, konsolidasi antara wilayah, cabang, hingga basis anggota menjadi pekerjaan penting. Cabang didorong tidak sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi menjadi pusat dakwah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan umat, sekaligus ruang tumbuh kader-kader baru.
Dakwah ekonomi bukan sekadar program
Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah dakwah ekonomi. Bagi Syarikat Islam, penguatan ekonomi umat memiliki kaitan langsung dengan sejarah perjuangan organisasi.
Anggota didorong tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi berkembang menjadi pelaku ekonomi yang produktif dan mandiri. Penguatan usaha anggota, peningkatan pendapatan keluarga, serta terbentuknya ekosistem ekonomi antarkader menjadi bagian dari arah yang ingin dikembangkan.
Gagasan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi struktur organisasi di daerah. Program ekonomi tidak cukup berhenti pada seminar atau rekomendasi, tetapi harus diterjemahkan menjadi kegiatan yang memiliki sasaran, pengelola, jadwal, sumber daya, dan ukuran keberhasilan yang jelas.
Selain ekonomi, Mukerwil II menempatkan penguatan ideologi, kaderisasi, serta penataan organisasi-organisasi serumpun sebagai agenda penting dalam perjalanan dua tahun ke depan.
Regenerasi menjadi pekerjaan rumah
Modernisasi organisasi juga diarahkan agar tidak memutus hubungan dengan sejarah dan nilai perjuangan Syarikat Islam.
Generasi muda diharapkan memahami sejarah organisasi sekaligus memiliki kemampuan untuk menjawab persoalan kekinian. Pengalaman generasi senior dan energi generasi muda dinilai perlu dipertemukan agar regenerasi tidak sekadar pergantian kepengurusan, tetapi menghasilkan kader yang mampu bekerja dan memimpin.
Hubungan antargenerasi menjadi penting karena keberlanjutan organisasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi juga oleh siapa yang disiapkan untuk melanjutkan perjuangan pada masa mendatang.
Menuju Majelis Tahkim
Mukerwil II sekaligus menjadi bagian dari persiapan Jawa Barat menghadapi Majelis Tahkim ke-42 sebagai forum tertinggi Syarikat Islam.
Jawa Barat didorong datang dengan organisasi yang lebih tertib, cabang yang aktif, kader yang memahami arah perjuangan, serta pokok-pokok pikiran yang lahir dari kebutuhan nyata di daerah.
Sejumlah agenda yang menjadi perhatian meliputi kesiapan organisatoris cabang, penyamaan pemahaman terhadap agenda Majelis Tahkim, penyusunan pokok pikiran Jawa Barat, pemeliharaan persatuan dan etika organisasi, serta kesinambungan program setelah Majelis Tahkim.
Dari forum tersebut juga mengemuka tujuh prioritas strategis, yakni penuntasan konsolidasi organisasi, percepatan dakwah ekonomi, penguatan ideologi dan kaderisasi, penataan organisasi serumpun, penguatan tata kelola dan kemandirian organisasi, peningkatan kontribusi sosial dan kebangsaan, serta persiapan menyeluruh menuju Majelis Tahkim ke-42.
Artinya, pekerjaan rumah Syarikat Islam Jawa Barat bukan sekadar menyiapkan forum nasional. Yang lebih penting adalah memastikan keputusan organisasi benar-benar turun menjadi kerja di tingkat cabang dan memberi dampak bagi anggota serta masyarakat.
"Jangan besar dalam kenangan"
Nandang menekankan soliditas sebagai modal penting untuk menjalankan seluruh agenda tersebut.
Menurutnya, soliditas bukan berarti menghilangkan perbedaan pendapat. Perbedaan merupakan bagian dari proses musyawarah. Namun, setelah keputusan diambil melalui mekanisme organisasi, seluruh jajaran harus mampu menjaga kebersamaan dan menjalankan keputusan tersebut.
"Syarikat Islam tidak boleh hanya besar dalam kenangan. Syarikat Islam harus kembali besar dalam gerakan, kuat dalam organisasi, mandiri dalam ekonomi, kokoh dalam ideologi, dan nyata dalam pengabdian," menjadi pesan yang mengemuka dalam pengarahan Mukerwil II.
Dengan demikian, tantangan Syarikat Islam Jawa Barat setelah Mukerwil II bukan lagi sekadar merumuskan agenda, melainkan membuktikan apakah konsolidasi tersebut mampu menghidupkan kembali cabang, melahirkan kader, menggerakkan ekonomi umat, dan memperkuat kontribusi sosial organisasi.
Kokoh dalam akidah, solid dalam organisasi, mandiri dalam ekonomi, dan istiqamah dalam perjuangan.**
Author: One
Ediotor: Maman Suparman