Haji Supranatural, ke Makkah Lewat Lubang Goa, Karomah atau Mitos?

Foto : Istimewa
Gua Safarwadi di Kecamatan Bantarkalong bagian selatan Kabupaten Tasikmalaya.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SUATU hari beberapa tahun lalu, saya dan beberapa teman wartawan liputan Kementerian Agama (Tetegg Saftari, Eris Untara, Boy Iskandar dan Yanto), pergi ke Pamijahan.
Ini adalah sebuah destinasi wisata religi adanya di Kecamatan Bantarkalong bagian selatan Kabupaten Tasikmalaya. Disana ada makan Syiekh Abdul Muhyi, seorang ulama yang setara waliyullah meski tidak termasuk deretan Wali Songo.
Ke Pamijahan tidak masuk gua Safarwadi, kata orang ibarat ke Makkah tak ke Madinah atau ke Indonesia tidak ke Bali, tidak afdol, hambar, bikin penasaran nanti.
Maka kamipun pergilah ke goa yang cuma sekitar 2 km jaraknya dari makam sang Waliyullah Syiekh Abdul Muhyi.
Seorang pemandu yang hanya dilengkapi sebuah senter melingkar di kepala ditambah sedikit bujuk rayu, menawarkan jasa. Dan kami setuju.
"Oke lah kalau begitu," kata saya.
Sekitar 300 meter dari mulut goa si pemandu menunjuk sebuah lobang yang tampak temaram di kegelapan.
"Nah itu jalan yang dilalui kangjeng Syeikh setiap hari Jumat solat Jumat di Masjidil Haram Mekkah," kata sang pemandu.
Waktu itu saya sendiri tidak terlalu kaget karena sebelumnya sudah dapat cerita dari kuncen makam Pamijahan H. Mohammad Kosim yang merupakan garis ke 7 keturunan Kangjeng Syeikh Abdul Muhyi.
Saya memahami itu sebuah karomah. Menurut buku Sejarah Tariqoh Siddiqiyah, karomah itu bahasa Arab yang berarti keluhuran atau kemuliaan dan kekasih Allah.
Karomah itu diberikan kepada manusia pilihan sederajat wali Allah.
Itu berbeda dengan nabi atau rosul. Mereka itu diberikan mukjizat yang juga berarti kemuliaan dan keluhuran. Cuma beda derajat, rosul dan wali. Rosul itu utusan Allah sedang wali pilihan Allah. Tapi dua-duanya punya kelebihan yang menggoda akal yang telanjang.
Dari beberapa literatur yang saya baca, ternyata tidak hanya Syeikh Abdul Muhyi (seorang penganut toriqoh Sattariyah) yang diberkahi karomah itu.
Ada cerita tentang Sunan Gunung Jati atau Paletehan dari Cirebon. Diceritakan, konon beliau membawa putranya naik haji. Beliau membalut putranya dengan kain, dipeluk dan dibawa terbang. Dalam waktu sekejap, katanya (Wallahu alam) sudah sampai di Baitullah.Disana balutan kain dibuka, lalu keduanya melaksanakan ibadah haji.
Ciri-ciri orang yang diberi karomah yang tidak masuk nalar kepala telanjang antara lain bisa terbang tanpa pesawat atau berjalan di atas. Atau yaitu tadi naik haji lewat lobang goa.
Adaptasinya harus dengan iman dan keyakinan kepada kebesaran dan kekuasaan Allah semata.
Ada cerita lain tentang orang yang dipercaya memiliki karomah. Di Cikaduwen Pandeglang Banten, ada sebuah sumur yang katanya berhubungan dengan sumur air zam-zam di Makkah.
Disana pernah ada seorang ulama yang dianggap setingkat wali bernama Syeikh Maulana Mansyur. Menurut cerita, beliau kalau Makkah lewat sumur Cikaduwen itu.
Ada cerita air itu pernah membludak secara terus menerus tak tertahankan.Lalu Syeikh Maulana, mungkin dengan karomahnya, menutup lobang itu dengan sebuah al Qur'an. Dan subhanallah,kersaning yang Widhi, air itu berhenti mengalir.
Beberapa lama kemudian Al Qur'an itu berubah menjadi batu. Maka tempat itu dinamakan batu Qur'an.Sekarang tempat itu menjadi destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi setiap hari.
Sekali lagi saya berdesis, Wallahu alam bissawab.
Cuma Allah yang Mahatahu, apakah karomah atau mitos?.**
